<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926</id><updated>2011-11-25T20:57:04.866+07:00</updated><title type='text'>AdhiMedia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7433867848854858508</id><published>2011-05-19T09:39:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T16:10:17.581+07:00</updated><title type='text'>Soekarno, Soedirman, BlankOnan (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Melahirkan Asa, BlankOn untuk Mendunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Detikinet, Kamis, 19/05/2011&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara mimpi dan harapan, penulis cukup logis berharap para pemuda Indonesia bisa mengguncang dunia sebagaimana bunyi janji Soekarno di awal tulisan ini. Melalui perjuangan gerilya BlankOnan Indonesia, selanjutnya ASEAN dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersemangatlah seperti Soekarno yang menampilkan kepemimpinan Indonesia lewat momentum Konferensi Asia Afrika. Bersakit-sakit dahulu seperti Jenderal Soedirman yang berjuang dari atas tandu.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan bila penulis memunculkan asa BlankOn akan mendunia. Kenapa tidak? Potensi penduduk Indonesia yang mencapai 250-an juta adalah fakta jumlah tak terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsikan saja sepertiganya BlankOnan, maka akan ada 70-an juta komputer bersistem operasi buatan Indonesia yang menyapa dunia. Jumlah sebanyak itu akan bikin vendor hardware ngiler dan memaksa mereka mendukung ketersediaan fitur ‘pasang &amp; pakai’ agar diterima di sistem operasi BlankOn. Cukup adil bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa wilayah Sabang sampai Merauke itu sepadan dengan bentang London hingga Moskow lho. Jadi setidaknya, kita mampu menguasai wilayah seluas Eropa, jika saja mau BlankOnan sekarang juga. Setidaknya lagi, peringkat BlankOn akan naik beberapa strip mendekati popularitas Ubuntu di klasemen distrowatch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengguna pemula, tak perlu berkecil hati dulu dengan keterbatasan BlankOn. Karena sistem operasi sekakap proprietary pun masih terdapat cacat dan banyak celah lemah. Buktinya keamanan closed source yang mereka janjikan masih bisa dibajak plus rentan virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesulitan, semua juga diawali begitu. Bahkan Steve Jobs pun mengawali lapak ‘apel growak’ dengan banyak ditolak dan konsep UNIX yang dianggap kurang menarik. Jadi, optimistis dan bersyukurlah dengan fitur BlankOn yang terus dikembangkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ikhtiar yang bisa diperjuangkan bersama agar BlankOn bisa jadi pilihan utama sistem operasi komputer di Indonesia dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama menjadi pengguna, ini tingkatan paling mudah dan bisa dimulai sekarang juga. Kedua, setelah mapan jadi pengguna, jadilah penganjur BlankOn ke keluarga dan kerabat terdekat Anda. Adakan sosialisasi lewat arisan dan atau pelatihan kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menjadi donatur, sisihkan rejeki Anda untuk ongkos R&amp;D BlankOn supaya kian sempurna. Boleh juga Anda mengupah lelah para pengembang yang bekerja sukarela. Pada aksi advokasi terkecil, silakan jualan menawarkan kaos dan aneka suvenir BlankOn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kurang ide, bisa jadikan judul tulisan ini sebagai pesan inspiratifnya. Lalu hasil jualan itu bisa disumbangkan untuk penyempurnaan BlankOn lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, jika punya kemampuan oprek ekstra lebih dan waktu luang, bergabunglah bersama komunitas pengembang. Wakaf waktu dan potensi Anda ditunggu mereka. Kelima, jadilah pengeritik yang baik. Komentari BlankOn, tuliskan kelebihan fitur-fitur yang perlu duji dan dokumentasikan kekurangan yang mesti diperbaiki lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, bagi yang Muslim, Anda bisa jadi pengguna sekaligus pendakwah BlankOn Sajadah. Gelar pengajian ‘Syukuran Kelahiran’ BlankOn dan para ulama bisa turun fatwa penggunaannya. Atau bisa juga sedekah biaya plus doa agar konferensi pengembang &amp; pengguna BlankOn ‘BlankOnf #3′ di Makassar Juli nanti lancar sesuai ekspektasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, bagi pebisnis di bidang TI, Anda pun bisa turun aksi. Misalnya dengan menjual komputer sebundel OS BlankOn, menggelar promosi installfest BlankOn, atau migrasi bertahap di komputasi perkantoran. Bisa juga mendanai pengembangan varian BlankOn, misalnya versi mobile untuk mengisi peluang smartphone lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu,Soekarno berjanji mengguncang dunia dengan sepuluh pemuda. Sekarang puluhan pengembang dan pengguna muda BlankOn layak mewujudkannya dengan kampanye pemasyarakatan piranti lunak buatan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu cukup membumi dan bukan sekadar utopi. Apalagi merujuk fakta BlankOn yang sudah sukses rilis jahitan beberapa kali, sehingga tidak harus memulai dari usaha nol lagi. Faktanya lagi, pengguna BlankOn Indonesia saat ini merupakan pengguna BlankOn terbanyak di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembanding, Twitter dan Facebook sukses memanfaatkan ratusan juta jumlah manusia Indonesia duduk di daftar 3 besar pengguna media jejaring sosial dunia. Nah, jika mereka bisa, mestinya BlankOn yang lebih berasa Indonesia layak berharap juga. Coba kita mulai dengan target ajakan ’1 pekan 1 BlankOnan’, sudah lumayan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Mei yang bertepatan dengan peringatan Kebangkitan Nasional cocok kita gelari aksi permulaan kebangkitan piranti lunak Indonesia melalui kampanye BlankOnan. Jika lagu ‘Udin Sedunia’ bisa mondial dengan lirik lucunya, maka tak perlu malu bergerak mengikuti langgam suksesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja beri julukan hiburan BlankOnudin bagi pecinta BlankOn sedunia yang setia. Saya mengawal dari desa, insyaAllah optimisme BlankOnan bisa membangkitkan Indonesia, dan semoga begitu pula Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.detikinet.com/read/2011/05/19/125257/1642403/398/melahirkan-asa-blankon-untuk-mendunia?i991103105  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7433867848854858508?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7433867848854858508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7433867848854858508' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7433867848854858508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7433867848854858508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/soekarno-soedirman-blankonan-2.html' title='Soekarno, Soedirman, BlankOnan (2)'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-4439343591413318911</id><published>2011-05-19T09:29:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T16:08:35.138+07:00</updated><title type='text'>Soekarno, Soedirman, BlankOnan (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sebuah refleksi dan ikhtiar jelang BlankOnf#3 Juli di Makassar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detikinet, Kamis, 19/05/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakan Gunung Semeru! Tapi berilah aku sepuluh pemuda bersemangat, maka aku akan mengguncang dunia,” (Pidato Ir. Soekarno dalam Kongres Pemuda Indonesia 1932 di Surabaya)&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BlankOn adalah sistem operasi (operating system) komputer berbasis Linux yang dikembangkan oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan tim pengembang BlankOn. Seperti tertulis di situs www.blankonlinux.or.id, fitur BlankOn mampu menghadirkan varian Linux yang sesuai kebutuhan pengguna komputer umumnya di Indonesia, terutama dunia pendidikan, perkantoran dan pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari distro Linux nasional inilah, penulis mulai belajar mengakrabi dunia FOSS sejak 2008 sampai sekarang. Lontara adalah kode rilis BlankOn yang pertama penulis coba. Sebagaimana jamaknya turunan distro Debian berbasis GNOME, BlankOn relatif mudah digunakan. Selain nilai plus bebas virus, pengguna juga bisa tahu dan belajar bahasa kode –secara sederhana melalui perintah di terminal — yang selama ini belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemula di dunia komputer, BlankOn menawarkan tahapan pembelajaran komputasi dari nihil hingga level terampil. Sebagaimana akronim-nya yang terdiri dari dua kata ‘Blank’ dan ‘On’. ‘Blank’ berarti ‘nihil, kosong, nubie, rookie, awam, belum paham’ dan ‘On’ yang bermakna ‘nyala, mulai belajar, berproses, terampil dan berkelanjutan‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disatukan dalam BlankOn, akan lahir filosofi open source yang ‘selalu ikhlas terbuka menerima-memberi pengetahuan antara sesama manusia dan dan praktik pembelajaran sepanjang usia kehidupan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BlankOn bila diucapkan, bunyinya akan menyerupai blangkon, satu jenis topi tradisional khas Indonesia. Mungkin dengan makna itulah, BlankOn diidealkan sebagai sistem operasi khas Indonesia. Sebagaimana kepala yang menjadi tempat otak dan pusat kendali sistem operasi manusia, ia perlu diamankan blangkon. Maka semua CPU — pusat otak kendali komputer — di Indonesia pun layak dipasangi BlankOn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BlankOn bisa jadi ikon Indonesia di ranah TI jika saja seluruh masyarakat peduli dan mau berjuang serius ke arah itu. Optimisme ini merujuk kekuatan komunitas yang terbukti lebih bergerak gegas dan cerdas meski tanpa dukungan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman penulis seorang pamong desa di Lamongan, nekat mengganti semua unit komputer kantor desa yang sebelumnya bersistem operasi bajakan dengan BlankOn. Tanpa menyalahkan lambannya pemerintah merespon isu IGOS, ia dengan telaten mengajari rekan-rekan pamong di kantor desanya cara penggunaan BlankOn hingga mahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman serupa pernah penulis alami saat BlankOn.in 25-an laptop guru di Sikakap Mentawai 2010 lalu. Sambil mendampingi anak-anak terapi psikososial, sekaligus mengenalkan BlankOn kepada para guru di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Bismillah dan improvisasi pendekatan, upaya itu menuai hasil membersyukurkan. Setelah penulis dampingi selama 2 hari, para guru akhirnya mau mengganti sistem operasi bajakan di laptopnya dengan BlankOn yang asli rakitan anak-anak pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah pamong desa dan penulis yang berusia 30-an tahun itu menyerupai semangat para pengembang BlankOn. Mereka rata-rata berusia muda namun kenyang dengan keterampilan hacktivist yang idealis akan semangat Indonesianis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kesempatan menyaksikan ritme kerja mereka yang total ‘beramal sosial’, penulis teringat sejarah para pendiri republik ini, utamanya Presiden Soekarno dan Panglima Besar Jenderal Sudirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno dibesarkan sejarah dengan cita-cita merdekanya. Di awal gerakannya, mungkin ia dicibir dunia dan rekan-rekan sesama aktifis. Karena betapa mustahilnya perjuangan membuat negara yang sebelumnya tidak ada — de jure maupun de facto — menyatukan ribuan pulau, suku bahasa, dan di tengah kuatnya cengkeraman penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, ikhtiar kecil itu berhasil. Indonesia menyatakan kemerdekaannya melalui pengorbanan para pahlawan dan peran politik Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soedirman terkenal sifatnya yang sahaja dan tegas tanpa kompromi melawan penjajah kompeni. Perjuangan heroiknya dimulai saat beliau sukses mengusir tentara sekutu NICA di palagan Ambarawa. Paling fenomenal dan mengharukan ketika peristiwa Agresi militer II Belanda di Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memutuskan perang gerilya naik gunung turun rimba dalam kondisi sakit hebat setelah satu ginjalnya diangkat. Beliau memilih sengsara bersama anak buahnya daripada ditawan jadi tahanan politik pemerintahan kolonial. Atas bantuan Allah, cerita ini pun berakhir apik dengan kembalinya ibukota Jogja ke republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno dan Soedirman mengukir sejarah ketika usianya masih relatif muda. Soekarno diangkat jadi Presiden RI saat berumur 40an. Soedirman berumur 29 tahun ketika meraih pangkat Jenderal — puncak karir tertinggi dalam kemiliteran — dan dilantik jadi Panglima TKR atau cikal bakal TNI saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berdua mengupayakan pencerdasan bangsanya dengan ikhtiar merdeka dari keterjajahan. Keduanya ikhlas dan tegas melawan penjajahan, sikapnya sahaja penuh kesederhanaan, semangat bergerilya tanpa kenal putus asa hingga akhir usianya. Soekarno dan Soedirman dikenal sebagai pemimpin politik dan panglima militer yang kiprah strategisnya layak diteladani dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembang dan pengguna BlankOn dapat menapaktilasi perjuangan dua pemuda revolusioner Soekarno dan Soedirman. Kedua pahlawan kemerdekaan Indonesia itu pernah terkenal dengan tampil blangkonan. Silakan googling foto muda Soekarno dan pose keren Soedirman, nampak kupluk blangkon tradisional itu tersemat gagah sahaja di dua kepala pemimpin Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, blangkon dan BlankOn bunyinya mirip bila diucapkan. Kian relevan menyandingkan Soekarno dan Soedirman dengan pengembang dan pengguna BlankOn yang sama bersemangat muda. Keduanya berupaya sekuatnya agar bangsa ini berdikari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembang dan pengguna BlankOn yang penulis sebut ‘BlankOnan’ sedang bekerja keras agar kita bangga punya sistem operasi sendiri. Mereka ingin BlankOn.in masyarakat komputer Indonesia supaya merdeka dari monopoli kumpeni proprietary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno, Soedirman, BlankOnan. Beda generasi tapi sama sevisi-misi. Sebuah nostalgia revolusi pertiwi yang sepatutnya disyukuri, didukung dan disemangati. Sekaligus ini penambah motivasi sebagian BlankOnan yang nyaris berpeluh di titik jenuh karena sepinya dukungan negara, masyarakat dan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.detikinet.com/read/2011/05/19/113556/1642322/398/soekarno-soedirman-blankonan  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-4439343591413318911?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/4439343591413318911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=4439343591413318911' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4439343591413318911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4439343591413318911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/soekarno-soedirman-blankonan-1.html' title='Soekarno, Soedirman, BlankOnan (1)'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-4557168863612034226</id><published>2011-05-19T09:20:00.001+07:00</published><updated>2011-05-20T16:05:35.674+07:00</updated><title type='text'>Belum Beriman</title><content type='html'>&lt;b&gt;Surabaya Post, Kamis (19/5/2011)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al Hujurat : 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda jika ada yang mengatakan bahwa Anda belum beriman?  Diam saja? Bertanya menolak? Ataukah marah? Bagaimana jika yang bersabda itu firman Allah dalam Al Quran, kitab suci yang kita imani? Bagaimana bila yang berbicara itu Rasulullah melalui hadisnya?? Masihkah kita nekat mendebat?&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan gugat reflektif seperti itu sangat disarankan untuk mencerdaskan nalar kritis kita. Terutama bagi yang merasa sudah baik-baik saja semua perilakunya dan yang telah lama merasa mapan di zona kenyamanan “orang beriman”.  Pertanyaan retorik itu sekaligus akan berfungsi sebagai perangkat gugus kendali mutu kualitas iman kita sebenarnya. Pada akhirnya, diri ini akan diakrabi perenungan yang menundukkan kesadaran, bukan semata nafsu membenarkan pribadi dan gampang menyalahkan liyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana petikan ayat 15 surat Al Hujurat, bahwa pengakuan beriman orang Arab Badui itu dimentahkan Allah dengan jawaban “belum beriman”. Sekadar diketahui Arab Badui merupakan sebutan bagi suku pedalaman yang karakter dan budayanya lekat dengan ciri primitif. Pada jaman Rasulullah, mereka ini kebanyakan beriman karena terpengaruh arus massa, bukan karena kesadaran pribadi yang terbuka dari dari lubuk hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, klaim beriman yang mereka ajukan, dikoreksi Al Quran dengan cukup kalimat “baru tunduk”. Ya, mereka Arab Badui itu mengaku beriman karena ikut-ikutan orang kebanyakan yang telah menerima dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kembali menengok keadaan iman kita, kebanyakan orang Indonesia. Caranya dengan mencocokkan ciri perilaku iman yang ada di dalam Al Quran dan teladan Al Hadis. Tersebut di QS. 2 : 165, orang beriman sangat mencintai Allah melebihi apapun. Sudah begitukah cinta kita hanya kepadaNYA? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat lain, ciri iman adalah gemetar hati saat mendengar nama Allah disebut. Lalu cocokkan, apakah gemetar hati kita saat disebut namaNYA? Atau malah cengengesan guyonan  setelah ribuan kali ikut pengajian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum beriman seseorang hingga ia mencintai diri lain seperti ia mencintai diri sendiri”. Jika berkaca dari hadis sahih nan masyhur ini, sudahkah perilaku kita seperti itu? Jika Rasulullah pernah membezuk sakit seorang musyrik Makkah yang tiap hari meludahi beliau, pernahkah kita mencoba meniru? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Rasulullah setiap hari menyuapi makan pengemis buta Yahudi di pasar madinah, padahal setiap saat pengemis itu mencaci maki nama beliau, bisakah kita meneladaninya?? kapan terakhir kali kita memaafkan orang yang menyakiti kita? Atau bahkan menjenguk dan menyuapi saat ia sakit?                                                                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada teladan yang ditunjukkan Rasulullah itulah, praktik riil dari hadis yang penulis kutip di atas. Sebuah karya kemanusiaan yang steril dari syahwat kepentingan pencitraan. Semua hanya diniati sebagai pembuktian nilai dan kualitas iman. Bahwa semakin tinggi peradaban iman, kian sayang dan kasih pula perilakunya kepada sesama. Hilang perasaan dendam, amarah, sakit hati, yang ada hanya permaafan dan penyadaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi pertanyaan yang harus kita renungkan, “sudahkah kita seperti itu?”. Kalau jawabannya belum, maka sepatutnya kita sadar, ternyata kita “belum beriman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada QS. 32:15-16, orang beriman terbukti dari sifatnya yang “apabila diperingatkan dengan ayat Allah, mereka menyungkur sujud”. Mereka merasa terkena sorotan ayat dan menangis taubat. Ciri lainnya, mereka jarang tidur karena ibadah sosialnya tinggi, melayani sesama manusia, dan tentunya karena kuat berdoa di mana/kapan saja. Sehingga waktu tidurnya sangat terbatas. Apakah “kondisi iman” kita sudah mencapai taraf seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, kita bisa menguliti iman ini dengan “pisah bedah” Al Quran. Orang beriman sangat gandrung akhirat. Karena kampung abadi dan rumah sejatinya ada di sana. Maka ia pun berlomba investasi amal sosial di dunia ini, agar bisa mendapat panen pahala sebanyak-banyaknya di akhirat nanti. Untuk itu, ia berani menghibahkan bahkan semua kepemilikannya untuk menolong dan membahagiakan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lapang atau sempit, ketika susah maupun senang, ketika punya atau paceklik, orang beriman harus selalu siap memberikan dharma-bhaktinya untuk perjuangan kemanusiaan. Harta, tenaga, pikiran dan bahkan nyawanya sukarela ia serahkan pada agama, bangsa dan negara. Para Rasul dan sahabat sudah melaksanakan ciri iman ini. Nah, kita bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai di saat wafat, klaim iman kita tercatat malaikat hanya bergaung di bunyi rukun dan syahadat. Kita mengaku beriman, meyakini kebenaran Al Quran, memuji teladan kebaikan para utusan, sementara di saat yang sama kita sengaja berperilaku kafir, mengingkari kebenaran  Al Quran serta menolak meniru teladan baik dari Rasulullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktiknya, kita belum beriman. Bisa jadi iman kita cuma mengaku seperti Arab Badui itu. Iman yang sekadar ikut-ikutan orang kebanyakan atau karena warisan ajaran dari handai tolan. Belum iman yang sesungguhnya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya penulis mengajak, mari kita berhati-hati karena Allah sudah mewanti-wanti peristiwa ini melalui redaksi surat kabarNYA yang terpercaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan diantara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah : 8 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber&lt;br /&gt;&lt;i&gt;http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;act=view&amp;id=46e3e675b53702b430a60d52ac8e92b5&amp;jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-4557168863612034226?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/4557168863612034226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=4557168863612034226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4557168863612034226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4557168863612034226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/belum-beriman.html' title='Belum Beriman'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7843771465327549104</id><published>2011-05-12T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:49:51.073+07:00</updated><title type='text'>Belum Beragama</title><content type='html'>Surabaya Post, Kamis (12/5/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dariTuhanmu.” (Qs. 5:68)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa diskusi resmi, jagongan lesehan, majelis taklim, pengajian ibu-ibu arisan, maupun lingkar halaqah yang pernah saya ikuti perihal agama dan sosial, muncul tesis sementara: keyakinan agama masyarakat kita relatif baik, walau hanya terbaca dari klaim ‘benar’ sepihaknya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala dinamika dan anomali yang mengiringi, patutlah saya bersyukur rakyat Indonesia masih percaya kepada agama, meyakini wajibnya pengamalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja itu bermakna sila pertama Pancasila yang mengakui eksistensi keesaan Tuhan, masih kuat terpatri di hati Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat masuk pada kajian kritis tentang pembuktian keagamaan, saya sering ungkapkan ayat Al Quran sebagaimana tersaji di awal tulisan ini. Bahwa siapapun belum dianggap “beragama sedikit pun” jika belum mengamalkan isi Kitab Suci yang diyakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, saya asumsikan “Ahli Kitab” itu adalah orang yang paham, pernah dengar kajian dan atau bisa baca tulis Al Quran, sehingga setiap Muslim akan merasa wajib ikut merenungi ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya saya mulai gugah dengan pertanyaan, “Dari sekitar enam ribuan ayat Al Quran, berapa yang sudah sampeyan laksanakan jika itu perintah dan berapa yang sampeyan tinggalkan jika itu larangan?”. Sering jawaban yang keluar hanya mesam-mesem saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menjawab, “Saya sudah laksanakan lima rukun Islam secara rutin!” Lainnya menambahkan, “plus rajin ikut majelis takliman dan sumbang kotak masjid seikhlasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ana minal ma’had ya ustadz,” acung seorang rekan muda bersemangat. Sepertinya ia ingin menegaskan identitas keislaman yang ia idealkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma itu, lalu bagaimana dengan perintah dan larangan lainnya?” tanya saya merangsek. Lagi-lagi jawaban mereka biasanya cuma senyum. Seolah baru tersadar, surat teguran Allah dalam Al Maidah 68 itu membuat pengakuan beragamanya terantuk fakta “sedikitpun belum beragama”. Karena setelah dihitung rata-rata, perintah atau larangan Al Quran yang diperhatikan hanya berjumlah puluhan sampai ratusan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebagaimana mereka, saya juga mengajak Anda untuk menjawab jujur pertanyaan ini “Sudah berapakah ayat-ayat kitab suci yang berhasil kita amalkan?” “Sudahkah pengamalan itu memberi manfaat langsung bagi lingkungan dan kehidupan sosial di tempat Anda tinggal?” “Masihkah kita ngotot mengaku beragama jika disorot ayat itu, sementara amalan kita hanya puluhan atau ratusan saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, harus berani dan jujur kita akui. Bahwa selama ini amalan kita masih berkutat pada rutinitas ritual yang itu-itu saja. Syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, ditambah sedikit pintar ngaji plus gelar alim. Kadang baru hafal beberapa ayat, tapi sudah merasa mengamalkan seluruh perintah kitab suci dan agama. Sehingga pahala surga diklaim dengan enaknya dan kelompok lain yang berbeda madzhabnya gampang saja difatwa kafir-sesat-neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika berkaca dari ayat tersebut, kita ini belum beragama sama sekali. Pada contoh praktik hidup sehari-hari misalnya, sudahkah kita bisa sholat berjamaah lima waktu bersama keluarga? Sedang perintah sholat berjamaah itu wajib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita mampu mengingat Allah saat duduk, berdiri, berbaring, setiap saat? Al Quran memfirmankan dzikrullah itu keharusan. Sudahkah kita bisa meninggalkan kebiasaan marah? Karena Al Quran menganjurkan demikian. Mampukah kita menghapus dendam dan membalas perlakuan jahat seseorang dengan sikap maaf dan kasih kebaikan? Karena Al Quran jelas memerintahkan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, secara bahasa “agama” berasal dari khazanah Sansekerta Jawa yang bermaka”A = tidak”, “GAMA=kocar-kacir”. Bila digabung, “Agama” berarti “tidak kocar-kacir”. . Kata lain untuk menyatakan arti agama, bisa mengambil bahasa Latin “religio” dari kata kerjare-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Semua mengerucut pada makna yang sama yakni, “teratur”, “bersistem” dan arti “kebersatuan” lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mari kita cocokkan dengan kondisi Indonesia terkini. Idealnya dengan pengertian agama dari segi bahasa itu tadi, Indonesia akan teratur, manusianya rukun agawe makmur, negara bisa tentrem kerta raharja. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tradisi masyarakat kacau balau, politik penuh intrik, manusianya saling tuding, dan negara diambang sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi semua pangkal persoalan ini adalah gara-gara kita sendiri. Mengaku beragama tapi sebenarnya sedikitpun belum beragama. Karena dari dua definisi “agama” versi Al Quran dan segi bahasa, kita tidak pernah melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aspek kehidupan sosial, pendidikan, lingkungan, terdapat ribuan ayat Al Quran berisi rambu-rambu “do &amp; don’t” agar bumi dan manusia ini bergerak dalam harmoni yang serasi. Sudahkah ribuan “do &amp; don’t” itu kita perhatikan dan laksanakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila masih sebagian kecil saja pelaksanaannya, apalagi belum pernah mempelajarinya, sebaiknya tunda dulu pengakuan beragama itu. Tunggu sampai Anda bisa membuktikannya dengan cara mengamalkan seluruh isi kitab suci yang Anda yakini. Ingat, kita beradu dengan batas waktu dan ada musuh ghaib setan yang berupaya keras menyesatkan pengamalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;br /&gt;http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;act=view&amp;id=39b8faaf928ad46f59df7c4ca9ae0dce&amp;jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7843771465327549104?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7843771465327549104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7843771465327549104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7843771465327549104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7843771465327549104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/belum-beragama.html' title='Belum Beragama'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3602207231941451608</id><published>2011-05-12T08:53:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:49:51.038+07:00</updated><title type='text'>Perangi Pembajakan dengan Face Off &amp; FOSS On</title><content type='html'>Detikinet, Senin (9/5/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei lalu tersiar kabar bahwa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menandatangani nota kesepahaman dengan satu vendor piranti lunak proprietary. Spekulasi pun merebak, terutama di komunitas penggiat Free Open Source Software (FOSS). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berasumsi Kemendiknas kini beralih kemudi menyupiri proprietary. Onno W. Purbo, salah satu 'imam' gerakan FOSS Indonesia, menuliskan bela sungkawa di akun Twitter-nya 3 Mei lalu. "Turut berduka cita atas ditandatanganinya kerjasama M$ + MENDIKNAS :(((," kicau Onno, prihatin.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seolah menghibur kekhawatiran pegiat FOSS itu, kabar gembira berhembus dari ujung barat Indonesia. Melalui tweet seorang rekan, penulis terhubung ke pranala berita "Kodim Pertama di Indonesia yang Menerapkan Open Source". Antusiasme sangat terlihat dari kalimat pembuka berita yang ditulis pewartanya, "Tidak mau kalah dengan Departemen Pertahanan Amerika, Kodim 0106 Aceh Tengah sejak pertengahan April 2011 lalu resmi bermigrasi menggunakan Open Source untuk mendukung proses administrasi di Makodim 0106".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana penulis, rekan-rekan di Makodim 0106 Aceh Tengah yang sukses migrasi ke FOSS tentu butuh tekad, komitmen dan kemauan kuat. Apalagi bila dari awal kenal komputer sudah dibiasakan memakai sistem operasi dan program aplikasi proprietary. Perlu tambahan keberanian untuk memantapkan pilihan Open Source. Tekad prinsip taat, kemauan patuh aturan dan komitmen memulai pilihan legal, itu kuncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tekad, kemauan dan komitmen migrasi ke legal FOSS ini, penulis sering mengibaratkan dengan proses Face-Off. Sebagaimana seseorang ketika menyadari mukanya picak, bopeng, penyakitan terserang virus, dan kelihatan bolong-bolong menakutkan, satu-satunya alternatif penyembuhan yang mungkin ia pilih adalah operasi ubah wajah. Face-Off transplantasi total sistem saraf, rekonstruksi kulit dan otot akan membuat wajahnya kembali biasa senormal manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah wajah buruk rupa pembajakan piranti lunak pengguna komputer Indonesia. Alih-alih ingin nyaman, praktis serta bergaya seperti pemilik komputer umumnya, pengguna piranti illegal proprietary ini malah menampilkan 'wajah bajak laut' yang picak, kulit bolong-bolong menakutkan, penuh virus dan penyakitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya tindakan cepat darurat yang bisa menyelamatkan adalah operasi face off. Transplantasi total sistem operasi, rekonstruksi ganti 'wajah' FOSS yang lebih manusiawi setelah kemarin lama terlihat mengerikan dengan 'wajah bajak proprietary'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galibnya operasi face off akan sulit, sakit, dan berbiaya mahal. Tapi untungnya operasi ganti wajah FOSS ini justru mudah, tidak sakit dan berbiaya murah. Karena pakar FOSS 'spesialis bedah face off' dari seluruh dunia tergugah mempermudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sukarela melayani pemula FOSS, sehingga kesulitan bisa diatasi. Juga relawan lokal yang handal turut membantu. Para pekerja sosial TI ini bekerja sukarela sehingga biaya face off 'ganti wajah' bisa dipermurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait face off itu, ada pekerjaan besar dan gegas menanti para pegiat FOSS Indonesia. Pertama, beradu waktu menyukseskan target IGOS yang tahun ini mau lewat tenggat. Kedua, advokasi sekaligus edukasi institusi pendidikan hingga level desa agar mereka lebih memilih FOSS yang murah, mudah, dan sah. Ketiga, perluasan jejaring, pengembangan strategi dan kemudahan penyediaan akses informasi (help desk) FOSS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OS Anda FOSS On Juga kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan besar karena cakupan wilayah dan jumlah institusi pendidikan di Indonesia begitu melimpah. Gegas karena harus adu cepat dan pintar sebelum mereka terpapar strategi jeli vendor piranti lunak proprietary, terutama setelah MoU kemarin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemauan, kesadaran, dan kemauan. Itulah yang harus dipaksa-tumbuhkan di masyarakat pengguna komputer Indonesia. Karena betapapun perangkat hukum sudah diundangkan, ketersediaan pilihan FOSS yang sesuai psikologi 'belanja murah' orang Indonesia, tetap saja pembajakan piranti lunak proprietary merajalela. Maka sekali lagi, kemauan untuk berubah, kesadaran mau di-face off, kemauan memilih 'be legal' atau 'ganti wajah' inilah yang harus terus didorong diperkuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pertanyaan yang harus dijawab aksi penggiat FOSS saat ini adalah, "Berapa anggota keluarga/saudara Anda yang sudah di Face-Off? Berapa daerah yang Anda telah jamah? Sekolah mana saja yang sudah Anda FOSS-kan? Strategi marketing apa saja yang Anda terapkan untuk dakwah FOSS? Siapa saja tokoh masyarakat dan pemuka agama mendukung FOSS? Komunitas jejaring mana saja yang Anda libatkan untuk penguatan? Bagaimana Anda mempermudah penjelasan FOSS ke masyarakat awam?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan kabar keberanian institusi TNI yang bermigrasi ke Open Source itu penebal optimisme: masih ada relawan TNI yang akan mengawal IGOS hingga suksesnya. Mari berasumsi kisah sukses Makodim 0106 Aceh Tengah ini akan diikuti Kodim, Koramil dan seluruh anggota TNI lainnya dari Sabang sampai Merauke. Semoga, sukses TNI melumpuhkan pembajak Somalia mengilhami pelumpuhan pembajak di negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap jaga harap, sebagaimana kicau semangat Onno W. Purbo di tweet hari Ahad (8/5/2011) mengomentari berita bermutu dari Aceh itu. Penulis pun berharap para pegiat FOSS bergerak telaten dari keluarga, komunitas tedekat, adik-adik pelajar, guru-guru di sekolah, tokoh masyarakat, bapak-bapak pejabat, dan rekan-rekan media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didik dan ajaklah mereka agar mau mendukung operasi "Face-Off, FOSS ON". Matikan penggunaan piranti bajakan, hidupkan FOSS yang lebih bercorak ke-Indonesiaan! Sekaligus bertepatan gelaran KTT ASEAN, kita perkuat jejaring komunitas agar Indonesia kian dipercaya menjadi pelopor pengguna dan pengembang FOSS di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah segera dan sederhana bisa dimulai sekarang juga. Bagi Facebooker, Tweeps dan YouTuber, unggah berita FOSS sebanyak-banyaknya. Penuhi jejaring sosial media dengan kabar sukses implementasi FOSS di Indonesia. Blogger bisa membagi praktik terbaik oprek FOSS di halamannya. Komunitas NGO bisa bergabung mendukung gerakan sosial Open Source serupa "Make it FOSSible" yang dihela Yayasan Air Putih Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangatlah pegiat FOSS semuanya dimanapun Anda berada. Maju terus IGOS! Face Off, FOSS On!. Harapan penulis nantinya, jika tidak bisa semua, maka cukuplah sepertiga pengguna komputer di Indonesia akan migrasi ke FOSS secara sukarela. Menarik kita tunggu antar pengguna FOSS itu saling salam sapa sembari menirukan gubahan iklan, "OS Anda FOSS On juga kan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;http://www.detikinet.com/read/2011/05/09/092456/1635205/398/perangi-pembajakan-dengan-face-off-foss-on &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3602207231941451608?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3602207231941451608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3602207231941451608' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3602207231941451608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3602207231941451608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/perangi-pembajakan-dengan-face-off-foss.html' title='Perangi Pembajakan dengan Face Off &amp; FOSS On'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-766975037994281278</id><published>2011-05-06T21:55:00.000+07:00</published><updated>2011-05-06T21:55:18.658+07:00</updated><title type='text'>Belum Baik</title><content type='html'>“Kamu tidak akan memperoleh (derajat) kebaikan sebelum kamu menginfakkan sebagian (banyak) harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. 3: 92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini diwahyukan pada saat Rasulullah sudah menetap di Madinah. Diriwayatkan dalam hadis, sesaat setelah mendengarkan ayat 92 Surat Al Imran ini dibacakan, Abu Thalhah langsung menghadap Rasulullah. Sahabat berperilaku lemah lembut ini mantap menyerahkan harta yang paling dicintainya, yakni kebun kurma “Bairaha'” kepada Rasulullah untuk dimanfaatkan sebagai pembiayaan perjuangan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun “Bairaha'” saat itu terletak di depan masjid Nabawi Madinah. Letaknya strategis di pinggir jalan raya, pun hasilnya selalu melimpah dan pemandangannya terkenal sangat indah. Bagi para petani Madinah, kebun serupa “Bairaha'” adalah investasi ekonomi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda di dunia. Namun bagi Abu Thalhah, investasi akhirat jauh lebih mendatangkan manfaat, berbunga syafaat dan berjangka selamanya, yaitu dengan cara menyedekahkan harta “Bairaha'” tercintanya itu kepada kepentingan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah meyakini jika kebun itu tertinggal di dunia dan tidak disedekahkan, mungkin hanya akan jadi hiasan atau seonggok warisan bagi keluarganya saja. Tapi bila didermakan, akan lebih banyak manusia selain keluarganya bisa menikmati hasil kebun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa kita petik adalah jangan mudah mengaku baik bila belum bisa mengamal-baktikan perintah ayat tersebut. Jangan gampang mengklaim sebagai orang benar jika sampai saat ini belum bisa meniru teladan keikhlasan Abu Thalhah. Lakukan koreksi sekaligus otokritik atas klaim kebaikan kita sendiri, bila belum mampu ikhlas menyedekahkan harta yang paling kita cintai untuk kebutuhan agama, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian kebaikan yang selama ini melekat terbatas pada ritual formal seperti syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, pintar ngaji, terkenal alim, perlu kiranya diperluas lagi. Betapa dengan renungan ayat itu, kebaikan ternyata dicirikan dengan amal sosial berwujud pengorbanan yang tidak ringan. Bahwa rukun penyaksian kebenaran yang diucapkan lisan haruslah dibuktikan lewat serangkaian ujian ketat. Tidak cukup hanya dengan klaim sepihak saja. Simaklah ayat Allah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu siapa yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Nabi-nabi, dan memberikan harta yang paling dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir (ibnu sabil), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya....”. (QS. 2 : 177)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini kian tegas menjelaskan pengertian kebaikan dilihat dari aspek fungsi sosial manusia dan lingkungannya. Artinya kebaikan yang kita akui haruslah berdampak manfaat langsung bagi persoalan sosial dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Ritual formal seperti sholat yang bersifat komunikasi transendental seyogyanya ditindaklanjuti amal aksi individual maupun komunal menjawab persoalan sosial yang akut di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kalimat pertanyaan sederhana, “Sudahkah kita pernah menyedekahkan mobil, rumah, sawah, sepeda motor, deposito, asuransi, koleksi perabotan, hasil pekerjaan, pakaian dan makanan yang kita cintai untuk upaya pengentasan anak yatim, pemberdayaan keluarga miskin, penyediaan rumah singgah bagi musafir, penyediaan keterampilan kerja alternatif bagi peminta-minta, dan advokasi penghapusan perbudakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian “PR” kebaikan yang disebutkan dalam potongan ayat itu sangat relevan dengan kondisi sosial dan faktual bangsa kita, Indonesia. Terutama yang terakhir disebut, yakni “memerdekakan hamba sahaya”. Kemarin kita dengar kabar dan pirsa di media tentang ribuan TKW Indonesia yang telantar di Arab Saudi dan sudah dijemput oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagi kita yang mengaku baik, mengklaim alim, bersyahadat Islam, menyuarakan rukun iman, apa aksi kita menyahuti persoalan TKW itu setibanya mereka di tanah air? Sudahkah terpikir oleh kita rupa kepedulian yang akan kita dharma-baktikan? Bagaimana mengurus nasib pekerjaan dan keberlanjutan hidup mereka selanjutnya? Siapa yang mau memberi terapi psikososial atas trauma yang mereka sandang? Apa yang kita lakukan untuk menyikapi kasus “unwanted pregnant” yang terpaksa diterima oleh ibu-ibu TKW itu? Siapa yang mau bertanggung jawab memperjuangkan kejelasan identitas sekaligus mengurusi kelahiran bayi-bayi tak berbapak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain persoalan tersebut, carut-marut akibat patologi sosial yang mendera bangsa ini, juga perlu dicarikan obatnya. Itulah lahan pembuktian bagi kita yang mengaku beriman dan memahami arti kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan warga miskin yang tak mampu berobat, mahalnya biaya pendidikan, kasus anak gizi buruk, ancaman rawan pangan, bencana alam, dilema keberadaan kaum urban dan tata perkotaan, degradasi moral, matinya kerelawanan sosial, nasib rentan usaha pertanian, dst itu semua adalah pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seratusan juta lebih populasi pribadi yang mengklaim Muslim di keluarga Indonesia. Saya percaya mereka adalah orang-orang baik yang ditakdirkan Allah lahir untuk mengabdi-layani bangsa ini. Mari berasumsi, ratusan juta orang itu ikhlas bergerak serempak dalam satu barisan kerukunan mengatasi persoalan sosial, lingkungan, dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hasilnya akan sangat membersyukurkan. Betapa ulama, umara, masyarakatnya, semua berlomba kebaikan dalam satu ikatan kemanusiaan dengan semangat berkorban. InsyaAllah negeri ini akan kembali dirahmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menunggu mimpi tinggi punya kekayaan “Bairaha'” seperti Abu Thalhah untuk segera bersedekah. Karena patokan kebaikan itu bukan hanya diukur dari jumlah materinya, tapi nilai pengorbanan dari cinta kepemilikan yang diberikan. Bagi yang tak berpunya, bisa menyumbang tenaga dan pikiran, itulah yang dikorbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingatkan orang bersalah –dengan hati bening, kasih tanpa marah-- juga bagian dari kebaikan. Sampai misalnya tidak punya tenaga, doa ikhlas sekuatnya dapat juga disumbangkan untuk penyejahteraan negara ini. Juga tak perlu menanti perintah tupoksi, karena itu akan buat kita saling menunggu dan bahkan bisa dihasud setan agar kita saling menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sewajibnya kita bersyukur diberi Allah kemauan mengaku baik dan beriman. Tapi berkaca dari firman Al Quran dan kisah kebun “Bairaha'” Abu Thalhah, kita belum akan dianggap baik jika masih belum mampu memberikan kepemilikan yang paling kita cintai untuk kebutuhan agama, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga catatan ini menjadi renungan yang relevan kita kampanyekan terutama memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Jadikan diri kita, keluarga atau komunitas terdekat kita sebagai madrasah pembelajaran kebaikan melalui praktik keteladanan berkorban demi kemanusiaan dan keIndonesiaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-766975037994281278?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/766975037994281278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=766975037994281278' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/766975037994281278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/766975037994281278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/belum-baik.html' title='Belum Baik'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6289157286717857120</id><published>2011-05-06T21:54:00.000+07:00</published><updated>2011-05-06T21:54:52.774+07:00</updated><title type='text'>WatchDog-ku Sayang</title><content type='html'>apa media sudah kehabisan stok berita ya?&lt;br /&gt;kok sampai sempat-sempatnya kita, unggah berita asumsi tentang media arab yang tak ikut memberitakan dongeng wedding itu?? EGP gitu loh !  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya wis toh, hak media Arab untuk tidak lebay dan latah menyiarkan dongeng wedding yang tak penting. Lebih baik ngurusi prioritas berita dalam negeri mereka yang butuh penanganan dan keseriusan. Mereka lebih bertindak pinter, dan menjauhi mental inlander !&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lha daripada media kita yang ramai-ramai live streaming, buat apa juga? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya bukan arabroadcaster atau araboy yang membela mereka karena alasan rasial dan atau sentimental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya aseli warga Indonesia yang cinta Indonesia, termasuk media dan pewartanya. Justeru dengan kritik ini, saya mau jurnalisme kita kembali berlari pada profesi "watchdog"nya. Bukankah masih banyak berita nasional dan daerah yang layak diunggah? seperti gempa Aceh kemarin yang bikin panik orang sana? kenapa tidak diberi perhatian minimal sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga prestasi anak-anak pertiwi di luar negeri yang hebatnya luar biasa. Kenapa tidak diberitakan semeriah ini? malu aku, kita ikut-ikutan tepuk tangan, larut dalam perayaan dan komentar cengengesan, tersihir pengalihan isu 'royal wedding" itu yang entah manfaatnya apa buat negeri kita? sementara kita acuh membiarkan warga aceh sana mendelik bergidik ketakutan berlarian???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah saya dituding sok nasionalis atau kurang gaul, jika narasi ini dirasa terlalu normatif dan mencolot keluar dari arus utama.. biarlah.. saya menghormati saja jika ada yang lebih suka ditindih "stockholm syndrome": tersandera oleh perkosaannya industri sindikasi media, tapi malah merem-melek-mesem menikmatinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pengiling untuk rekan-rekan saya alumni AWS tercinta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok kalau nulis berita yang cerdas ya? berita kawin sosialita cukup 5-10 menit saja di slot infotainment seperti biasanya... tak perlu heboh booming apalagi pake ribut live streaming kayak baru pertama sightseeing "the royal kucing wedding on terrace genting".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah patologi pariah, kapan negeri ini steril dari gosip sampah, pengalihan isu murah, dan penyakit "inlander keminter nan keblinger"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam jurnalis kritis &amp; skeptis !&lt;br /&gt;GA9&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6289157286717857120?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6289157286717857120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6289157286717857120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6289157286717857120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6289157286717857120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/05/watchdog-ku-sayang.html' title='WatchDog-ku Sayang'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6534549035486074601</id><published>2011-04-28T09:25:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T09:25:20.657+07:00</updated><title type='text'>Istighosah Gurah Sampah</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu berita buruk datang dari Bali. Tiga belas wisata andalan, diantaranya Pantai Kuta, Sanur, Candidasa dan Soka, mutu air lautnya dinyatakan tercemar. Sebelumnya dikabarkan tumpukan sampah berserak mengotori pantai Bali, sehingga mengganggu kenyamanan para turis yang datang. Kian seru drama “soal sampah” ini manakala Andrew Marshall menulis artikel berjudul ‘Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes’ di Majalah Time awal April lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi tulisan “Liburan di Neraka” itu, Menbudpar Jero Wacik, dalam wawancaranya dengan satu media mengatakan, “Sampah ini diduga kuat berasal dari Jawa Timur dan Bali barat karena sampah yang berupa gelondongan kayu dan kotoran lainnya dibawa dari barat dan terdampar di Teluk Jimbaran, sehingga Pantai Kuta dan Legian menjadi tempat buangan sampah tersebut," ujarnya. Sepintas, pernyataan ini sarat asumsi dan perlu didalami untuk pembenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penulis sepakat dengan himbauan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, agar masyarakat tak reaktif menyikapi pemberitaan majalah Amerika itu. Percuma juga kalau marah-marah mencari siapa yang salah, karena masalah akan kian runyam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, masyarakat Bali marah menyalahkan Time, orang Jawa Timur terhina dengan pernyataan Pak Menbudpar, dan seterusnya. Indonesia akan kembali jadi korban bulan-bulanan media luar negeri karena sering berantem dan saling menyalahkan diantara saudara sebangsa sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi dan intropeksi adalah tindakan yang patut disegerakan mereaksi persoalan sampah ini. Belajar dari kasus sampah Bali ini, ternyata mata rantai persoalan sampah ini kembali ke perilaku masyarakat sendiri. Dari laut dan sungai --lokasi favorit masyarakat untuk tempat pembuangan akhir--, air berhasil mengedarkan sampah dan sekaligus masalah kemana-mana. Selain mengancam kesehatan, sampah juga memicu ketidaknyamanan, mengundang aroma busuk, dan mencemari kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tindak lanjut dari refleksi dan intropeksi itu adalah ejawantah aksi serempak berjamaah: istigosah gurah sampah. Istighotsah secara istilah bermakna meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit. Terutama saat menghadapi fakta persoalan sosial dan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istighosah juga dapat dimaknai sebagai rumusan pengamalan kepedulian sosial dari praktik ritual formal yang seringkali digelar secara massal. Nah, terkait persampahan, tepat kiranya bila jamaah istighosah digerakkan dalam aksi gurah bersih-bersih dan swakelola sampah. Mengingat persoalan sampah negeri ini kerap luput diperhatikan, sementara dampak keburukannya sudah jadi wabah akut yang butuh keseriusan dan kecepatan penanganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari hulu sumber muasal sampah yakni dari rumah tangga, tempat usaha, lembaga pendidikan, fasilitas umum, rumah ibadah, dan industri.  Sampah dari tempat-tempat itu harusnya bisa dikurangi, dipakai kembali, didaur ulang, dan dimanfaatkan kembali.  Prinsip reduce, re-use, recycle, replace (4R) menjadi keharusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangi konsumsi barang/material yang diinginkan. Karena kian sering mengonsumsi, kian banyak sampah dihasilkan. Pilihlah materi yang bisa dipakai kembali dan hindari penggunaan barang yang “sekali pakai buang”. Yang sudah tidak terpakai, dapat didaur ulang. Ganti  barang sekali pakai dengan yang awet lama. Gunakan bahan yang ramah lingkungan, misalnya sediakan tas kantong dari rumah sebagai pengganti plastik keresek pembungkus belanjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hulu sumber khusus, yakni rumah tangga, rumah ibadah, dan institusi pendidikan harus jadi pelopor dalam praktik istighosah gurah sampah ini. Karena bagian penting dari proses ini adalah reduksi sampah dari sumbernya. Caranya dengan mengurangi nafsu konsumtif berlebihan sehingga jumlah sampah bisa ditekan atau menggunakan prinsip 4R tadi agar sampah bisa mudah diolah. Rumah tangga, rumah ibadah, dan sekolah bisa jadi juru kampanye sekaligus peneladan yang efektif dalam upaya pengurangan sampah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses dari hulu, proses angkut, hingga di hilir pengelolaan akhir (TPA), prinsip 4R dan mekanisme pilah sampah harus nyambung. Ketika dari rumah sudah dipilah, maka saat diangkut pun harus dipisah jenis sampahnya. Sehingga nantinya proses olah sampah tidak melulu “kumpul, angkut, buang, timbun” sebagaimana pendekatan akhir (end of pipe) yang sudah jamak digunakan. Nantinya juga, masyarakat tidak patut menghindar dari kewajiban olah sampah hanya karena sudah bayar iuran kebersihan bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah akan terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan tingkat konsumsi yang kian  meninggi. Belum lagi kiriman sampah dari negara berkembang, maka layak jika persoalan sampah ini di-istighosah-kan setiap hari. Adalah tanggungjawab dan kewajiban bersama mengatasinya. Terutama kaum beriman Indonesia. Daripada larut dan ribut mengomentari politik negeri ini, lebih afdol kita sibuk beraksi peduli sebagai wujud dharma bakti khalifah bumi. Menjadi wali lingkungan yang cinta kebersihan dengan aktif memelopori istighosah gurah sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah Pasal 12 ayat (1) mengamanatkan, “Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.” Sekaligus ikhtiar  itu akan menjadikan kita hamba yang dicintaiNYA. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suka bersih-bersih diri &amp; lingkungannya.” (QS.2: 222). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institusi keagamaan seperti pesantren dan masjid bisa memulainya segera. Setidaknya bisa meniru upaya kecil pesantren tempat penulis mengabdi, produk Eco-Pesantren berupa Biogas Santri dan penerapan zero waste di lingkungan pembelajaran sebagai aksi riil istighosah gurah sampah. Lembaga pendidikan bisa bergabung dengan jaringan Sekolah Adiwiyata milik Kementerian Lingkungan Hidup RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa aksi riil dengan langkah kecil yang bisa dicoba. Betapa ritual formal yang massal akan lebih berdampak manfaat jika ditindaklanjutkan dengan aksi-aksi nyata menjawab persoalan kemasyarakatan dan fakta lingkungan.  Dengan itu kita sekaligus berupaya memastikan musibah longsornya TPA Luewigajah atau tragedi sampah di pantai Bali dapat dihindari sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan peringatan Hari Bumi 22 April kemarin sebagai penguat niat: kurangi sampah pencemaran bumi mulai saat ini. Ajaklah keluarga dan komunitas Anda berjamaah istighosah gurah sampah. Sembari terus konsentrasi dalam berdoa, belajar dan bekerja. Ambil asumsi terkecil, 25 juta manusia di komunitas kita ikut gerakan ini setiap hari, maka berapa sampah yang bisa dikurangi? InsyaAllah jika diseriusi dari keteladanan di pucuk pimpinan pusat, ranting hingga level rumah tangga, persoalan sampah akan terbantu terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafalkan istighfar atas kezaliman kita mengotori bumi setiap hari. Wiridkan subhanallah dengan menjaga lingkungan selalu bersih. Ucapkan Alhamdulillah dengan hidup neriman dan mengurangi nafsu konsumstif berlebihan. Jadikan pekik Allaahu Akbar sebagai penyemangat mengelola sampah secara kontinyu dan benar.  Selanjutnya kita akan rukun serumpun, bertahlil memuji bersama bumi, menyaksikan ke-Esa-anNYA dalam kidung harmoni semesta. Laa ilaa ha illaallaah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6534549035486074601?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6534549035486074601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6534549035486074601' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6534549035486074601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6534549035486074601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/istighosah-gurah-sampah.html' title='Istighosah Gurah Sampah'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-177551692132899339</id><published>2011-04-21T09:32:00.003+07:00</published><updated>2011-04-28T10:13:34.478+07:00</updated><title type='text'>Ujian</title><content type='html'>Sejak Senin kemarin (18/4), siswa kelas 3 SMU/MA di seluruh Indonesia mengikuti UN. Bercampur aduk perasaan mereka antara tegang, harap dan cemas. Tiga tahun pembelajaran kini dipertaruhkan demi sebuah penanda bernama ijazah. Sebelum pelaksanaan ujian, ragam ikhtiar ditempuh, mulai dari cari info bocoran jawaban, pasang nadzar hingga istighosah digelar. Semua demi satu harapan: lulus dan sukses melewati ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun kelahiran semua manusia di dunia. Selama hidup ini, Allah hendak menguji siapa manusia-manusia terbaik yang berhak mendapat sertifikat kelulusan di akhirat. Dari lahir bayi hingga ditetapkan mati, itulah proses dan waktu ujian bagi semua manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika lulus saat wafat, akan dapat ijazah ampunan dan ridho Allah yang umumnya disebut Surga. Jika gagal, maka surat keterangan tidak lulus diberikan dan imbalannya hukuman pengasingan bernama Neraka. Tidak ada ujian ulang untuk penebusan kegagalan saat sudah mati. Allah sebagai juri penilai berlaku sangat adil di proses ujian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum yang mengklaim beriman, karena raihan harapan hidup di akhirat berderajat 99 % Surga, maka materi ujiannya pun beragam dan berbeda dari umat yang awam biasa-biasa saja. Tingkat kesulitannya tinggi mengingat hadiah yang didapat. Juga untuk otokritik sekaligus penyadaran, bahwa pengakuan beriman tidak boleh hanya ramai berseliweran di lisan tanpa uji pembuktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29 : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal  belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang aneka cobaan sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" ingatlah pertolongan Allah amat dekat” (QS Al-Baqarah [2]: 214).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ayat gugat di atas itu seolah membangunkan kelupaan manusia, khususnya kaum beriman. Bahwa tak cukup pengakuan kebenaran saja tanpa dibuktikan lewat serangkaian ujian kemanusiaan dan tes keimanan. Klaim beriman secara sepihak dan sangat percaya diri akan masuk surga dipertanyakan Allah melalui firmanNYA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus ayat itu memberikan peringatan keras bagi siapapun yang puas jumud dan statis dalam zona kenyamanannya. Merasa nyaman dan terlena dengan status tempelan “beriman” hanya karena rajin ritual formal, tidak mau refleksi, dan sepi dari amal kesalehan sosial. Di hadapan Allah manusia ini belum berbuat apa-apa, tapi sudah narsis mengharap bidadari. Ibaratnya, manusia yang sudah merasa baik thok ini percaya sesanti, “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Itulah manusia-manusia yang dikritik Allah dalam dua ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebagaimana adik-adik pelajar yang sedang menikmati UN-nya, sepatutnyalah setiap manusia merasa saat ini sedang diuji olehNYA. Bahkan ketika serius dan asyik membaca kolom Lentera ini, ingatlah bahwa waktu dan proses membaca itu adalah materi ujian yang harus diselesaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa materi ujiannya? Iyalah manusia disebut berakal jika saat berdiri, duduk dan berbaring senantiasa mengingat merasakan keberadaan Allah yang menggenangi jagad (QS. 3:190-191). Saat baca tulisan ini, sudahkah kita tetap merasakan ingatan kepadaNYA? Kalau belum merasa ingat Allah, berarti 'ujian iman' kita masih keliru jawabannya. Kata Allah, kita ini orang yang “belum berakal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika peserta UN hanya diberikan 50-an soal dan harus tuntas dalam waktu 100-an menit, maka ujian hidup kita ini materi soalnya lebih banyak lagi. Ada 6 ribuan ayat Al Quran berisi perintah maupun larangan yang harus kita jawab dan selesaikan. Waktunya secepat hayat dikandung jasad, sebatas kita masih bernafas di dunia ini. Jika gagal UN tahun ini punya kesempatan lagi di periode berikutnya, maka di ujian kehidupan, sekali gagal tiada lagi kesemapatan memperbaiki prestasi. Jadi hati-hatilah dan jangan ngawur memilih jawaban hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok sejarah para Rasul terdahulu, materi ujian yang mereka hadapi mayoritas berupa soal-soal kesusahan dan kesengsaraan. Ada yang dikejar-kejar dilecehkan umatnya, dilempari batu, ditimpuk kotoran unta, diintimidasi penguasa, diboikot kehidupannya, hingga ada yang dibunuh. Ritme cerita mereka penuh elegi, pengorbanan diri dan drama menyayat hati. Namun itu sesuai firman Allah bahwa siapa menghendaki kebaikan akhirat, akan diuji kesulitan di dunia. Siapa yang sabar itulah yang beruntung dan lulus menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. " (QS 2-155).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah dahulu juga, ada umat yang diuji soal-soal kesenangan dan kebahagiaan. Firaun dan Namrudz diberi soal ujian kekuasaan, hasilnya mereka gagal total. Qarun di jaman Nabi Musa dan Tsa'labah di saat Nabi Muhammad diberi soal ujian harta kekayaan, mereka tidak berhasil lulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat-umat yang digembala Rasul, yang diuji penyembahan berhala, dicoba perlombaan pengetahuan, diberi soal ujian ketokohan, dst, juga gagal. Sehingga akhirnya mereka mati membawa tanda sertifikasi “tidak lolos uji”. Maka sebaiknya hati-hati bila umat sekarang diberi soal ujian dengan materi sebagaimana peringatan ayat berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS.3:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang, susah, jelata, kuasa, hidup dan mati adalah bagian dari materi ujian kemanusiaan sekaligus tes keimanan. Saat punya harta, sudahkah kita berani mengorbankannya untuk menolong sesama manusia? Saat miskin, sabarkah dalam kondisi itu dan tetap mensyukuri kesehatan jasmani ruhani? Saat senang, bisakah tetap menyikapi itu sebagai soal ujian dan tak terjatuh ketakaburan? Jangan sampai kita merasa diuji cobaan ketika susah saja, dan merasa senang berlebihan lupa syukur kepada Tuhan saat diuji kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengaku manusia, maka sikapilah semua dinamika hidup ini sebagai ujian yang harus diselesaikan.  Jika kita mengklaim beriman, maka ambillah soal-soal yang sulit agar hadiah yang kita peroleh sepadan beserta bonus-bonusnya. Fa laqtahamal aqobah (QS. 90:11-17). sebaiknya kita memilih jalan susah yakni: membebaskan perbudakan, memberi makan orang yang kelaparan, dan sabar berpesan kebajikan sesama insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera selesaikan ujian kemanusiaan dan tes keimanan ini sebelum panggilan bel akhir berbunyi. Sikapi dengan serius dan tirakati dengan prihatin hati-hati hidup yang sementara ini sebelum ajal wafat mendekat, sebelum ada panggilan kematian tiba, sebagaimana yang diterima Rosihan Anwar dan Franky Sahilatua, baru saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-177551692132899339?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/177551692132899339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=177551692132899339' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/177551692132899339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/177551692132899339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/ujian.html' title='Ujian'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3706275531708783018</id><published>2011-04-19T08:34:00.000+07:00</published><updated>2011-04-19T10:20:24.190+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;i&gt;Senin, 18/04/2011 14:15 WIB&lt;br /&gt;Kolom Telematika Detikinet&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hayya 'Alal Linux&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rFbrU6y3T0Q/TazwJUhq3DI/AAAAAAAAAOg/lh5fD9_bpmI/s1600/linux2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rFbrU6y3T0Q/TazwJUhq3DI/AAAAAAAAAOg/lh5fD9_bpmI/s400/linux2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597112479834102834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Milad kelahiran Linux mulai ramai diperingati bulan April ini. Berbagai syukuran digelar, antara lain peluncuran CGL (carrier grade Linux) 5.0, pemasangan gambar “&lt;em&gt;I'll celebrating 20 years of Linux with the Linux Foundation&lt;/em&gt;!” di blog para pemeluk Linux, dan akan dipungkasi gelaran selebrasi LinuxCon di Vancouver, Agustus nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usianya yang menapak kurun 20 tahun, wajah Linux kini nampak menggelegak jiwa muda penuh merdeka.  Torvalds sebagai sang bidan, tentu bergembira melihat Tux, “anak baptisnya”, kini sudah menjadi sosialita sekaligus ikon dunia: Penguin pahlawan pembebasan melawan tirani proprietary dan monopoli sistem operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dunia yang dibundel dalam dua sisi berbeda, maka Linux seolah ditakdirkan menjadi alternatif serasi dari piranti lunak berkode proprietary. Seperti sunnah keseimbangan Yin Yang: ada ketertutupan jendela, sudah pasti harus ada pintu yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat vendor besar menjual mahal software berlisensi resmi, GNU/Linux menawarkan kemudahan berbagi pakai lisensi. Proprietary for capital branding, Linux for human being. Sampai di sini, Linux nampak lebih manusiawi karena tidak semata menjejalkan konsep untung rugi dalam berdagang jual beli materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-v7l-GoLC6FY/TazwklRytMI/AAAAAAAAAOo/ARHTmfNM5ig/s1600/foss.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-v7l-GoLC6FY/TazwklRytMI/AAAAAAAAAOo/ARHTmfNM5ig/s320/foss.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597112948187378882" /&gt;&lt;/a&gt;Transformasi bibit Linux kemudian memekarkan semangat FOSS (freeware open source software) ke seluruh penjuru dunia, termasuk disambut meriah di Indonesia. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini dimungkinkan karena filosofi yang diusung FOSS Linux lekat secorak dengan nilai adiluhung keIndonesiaan: gotong royong, kesukarelawanan, kemerdekaan, kesetiakawanan, keadilan, dan keswadayaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Atas alasan ini pula, penulis hijrah jadi muallaf Linux sejak pertengahan 2008, selain tanggungjawab moral mengendalikan hama pembajakan.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perayaan 20 tahun Linux seyogyanya dapat menggugah Indonesia, khususnya masyarakat pemerhati dan pengguna TI. Satu sisi pesatnya perkembangan teknologi di negeri ini patut disyukuri, misalnya dengan melihat pertumbuhan penjualan perangkat keras. IDC merilis, tahun fiskal 2010, pengiriman komputer PC ke Indonesia mencapai 62 %. Data Apkomindo menyebut penjualan notebook dan netbook tahun 2010 diperkirakan porsinya meningkat menjadi 70% dan akhirnya menjadi 80% pada 2011 dan 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, fenomena penggunaan perangkat lunak bajakan terus memprihatinkan. Silakan googling prosentasi pembajakan software di Indonesia. Ya, angkanya masih berkutat di kisaran 86 %, sebagaimana rilisan data IDC dan BSA. Tentu ini catatan wanprestasi yang wajib diakhiri. Alasan  harga mahal saat membeli lisensi legal dan memilih praktis menggunakan lisensi bajakan adalah ciri patologi pariah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-54UZ2xOI30k/TazwyEjNbRI/AAAAAAAAAOw/BtINTwKUdgA/s1600/foss2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-54UZ2xOI30k/TazwyEjNbRI/AAAAAAAAAOw/BtINTwKUdgA/s320/foss2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597113179920231698" /&gt;&lt;/a&gt;Bila mau jujur, dua alasan umum pengguna bajakan itu sudah terjawab dengan hadirnya FOSS Linux. Kemudahan fitur, tampilan GUI, dan kehandalan isi kini nyaris menyamai software komersil berbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket sistem operasi dan aplikasi yang disertakan dalam satu bundel instalasi, kian memudahkan penggunaan, selain hemat di kantong tentunya. Para pengembang FOSS Linux Indonesia pun terus bergerak menyempurnakan berbagai celah kelemahan (bug) yang dikeluhkan. Setidaknya tiada lagi alasan membajak piranti lunak, terutama untuk keperluan rutin perkantoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara pengakuan kehandalan, Linux sudah merambah luas ke ekosistem teknologi perkomputeran. Komputasi awan, server, sindikasi media, termasuk internet, kini kian riuh berLinux ria. Mesin pencari Google, siapa tidak kenal dia? Juga fenomena Android yang kini melejit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ternyata memilih platform Linux sebagai jerohan penggeraknya. Dari sini, keengganan untuk mencicipi Linux dengan alasan “gak setenar bajakan” atau “gak ada teman” sangat tidak relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah pun sudah berusaha lewat kampanye IGOS, meski kini gaungnya sepi setelah ganti menteri. Setidaknya masyarakat punya pijakan kuat untuk memulai usaha serius ke arah legalisasi piranti lunak ini. Fatwa MUI juga sudah berbunyi, “haram menggunakan piranti lunak bajakan”. Jika itu dianggap belum cukup berkekuatan inkracht, cukuplah jejaring komunitas jadi penggairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5reQfuVE_1E/Tazw-TdzmfI/AAAAAAAAAO4/-4euelH9CzY/s1600/KKOnno.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5reQfuVE_1E/Tazw-TdzmfI/AAAAAAAAAO4/-4euelH9CzY/s400/KKOnno.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597113390082529778" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti pesan Pak Kusmayanto Kadiman, bahwa poros pemasyarakatan FOSS Linux bisa diaktifkan lewat rangkaian kerjasama ABG+C (akademisi, bisnis, goverment+community). &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, kekuatan jejaring community bisa jadi pelopor kalau misalnya ketiga unsur ABG memble. Community diwakili pengembang lokal yang sangat kuat komitmen kerelawanannya dan semangat keIndonesiaannya.  Jadi kurang endorser apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, ada relevansi nilai yang mirip bila menyandingkan filosofi Linux dan semangat kemerdekaan Indonesia. Indonesia memerdekakan diri dari penjajahan VOC Belanda, sementara Linux coba menawarkan pembebasan lisensi dari jeratan vendor proprietary. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kang Onno pernah memperingatkan, selama ini jutaan dollar lari ke luar negeri karena pembelian sistem operasi berlisensi proprietary. Selebihnya, pembelian software bajakan, selain merugikan negara, juga entah menguap kemana peruntukan uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EM0UZBk5dbI/TazxKBJCidI/AAAAAAAAAPA/D0EzT9UCC7I/s1600/linux1.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-EM0UZBk5dbI/TazxKBJCidI/AAAAAAAAAPA/D0EzT9UCC7I/s400/linux1.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597113591322020306" /&gt;&lt;/a&gt;Maka saatnya ucapkan selamat milad ke-20 Linux.. Lewat peringatan 20 tahun kelahiran Linux inilah, saatnya berpindah ke pilihan piranti lunak yang murah, mudah, dan sah. “Hayya 'Alal Linux”. Marilah berhijrah ke Linux. Merdekakan diri dari jerat prorietary. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Uang 20 ribuan yang yang biasanya digunakan untuk beli piranti lunak bajakan itu sebaiknya disumbangkan untuk pengembangan FOSS Linux lokal. Tentu ini akan jadi fenomena keswadayaan yang membersyukurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait latihan praktik kejujuran, mulailah dari lingkungan terdekat. Misalnya di pekerjaan komputasi, selalu gunakan komputer yang bersistem operasi legal. Bila lisensi software proprietary terasa mahal, gunakanlah FOSS Linux yang harganya ramah sosial dan terbukti handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa pilih FOSS Linux edisi corporate enterprise atau gratisan yang bebas tersedia di berbagai mirror unduhan. Pilihan ini akan lebih aman dan menenteramkan daripada kucing-kucingan dengan aparat keamanan karena jual beli lisensi bajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih FOSS Linux juga mencerminkan kesadaran berdikari dan proses berswadaya TI, selain mendukung-hargai karya pengembang lokal yang potensial. Jangan lupakan juga tanggungjawab sosial memberangus kriminalitas pencurian kekayaan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana publik mencerca pembajak Somalia yang menyandera warga Indonesia, maka saatnya kini menghentikan pembajakan di negeri sendiri: Gunakan FOSS Linux dan sudahi penggunaan lisensi illegal proprietary.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LRhtvffmKk4/TazxbiYd-FI/AAAAAAAAAPI/hCxONNK78Jk/s1600/linux3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LRhtvffmKk4/TazxbiYd-FI/AAAAAAAAAPI/hCxONNK78Jk/s400/linux3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597113892302878802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersama penulis, mari bersalaman dengan Tux dan ikuti ayun langkahnya yang gemulai meliuk-liuk. Selamat milad atas ijtihad Torvalds. Selamat bersemangat Linuxer semuanya. Sambil syukuran, terus kumandangkan ajakan “&lt;em&gt;Hayya 'alal Linux&lt;/em&gt;” kepada pengguna komputer di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sumber: http://www.detikinet.com/read/2011/04/18/141537/1619755/398/hayya--alal-linux&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3706275531708783018?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3706275531708783018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3706275531708783018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3706275531708783018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3706275531708783018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/milad-kelahiran-linux-mulai-ramai.html' title=''/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rFbrU6y3T0Q/TazwJUhq3DI/AAAAAAAAAOg/lh5fD9_bpmI/s72-c/linux2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-4061257461928812019</id><published>2011-04-14T19:06:00.000+07:00</published><updated>2011-04-19T08:29:19.714+07:00</updated><title type='text'>Pseudo Ilmiah, Patologi Pariah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-r0VG_vxLqmc/TazjC8hR-cI/AAAAAAAAAMo/IdSawPGSGno/s1600/Morgansizeme.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-r0VG_vxLqmc/TazjC8hR-cI/AAAAAAAAAMo/IdSawPGSGno/s320/Morgansizeme.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597098076659644866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Super Size Me adalah film dokumenter tahun 2004 yang ditulis, diproduksi, disutradai dan dibintangi oleh Morgan Spurlock, sineas independen asal Amerika Serikat. Kisah semi kronikal   ini mendokumentasikan “aksi uji nyali” Spurlock yang mengonsumsi makanan cepat saji selama 30 hari (Februari hingga Maret 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pembuatan film, Spurlock makan di satu merk restoran cepat saji terkenal, tiga kali sehari.  Akibatnya bobot Spurlock menggelembung drastis. Ia juga mengeluhkan gejala disfungsi seksual dan didiagnosa mengalami kerusakan hati. Spurlock membutuhkan waktu satu tahun dua bulan untuk terapi penyakit yang ia dapati dari ujicoba ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Super Size Me, Spurlock mengeksplorasi pengaruh fast food terhadap kesehatan badan, termasuk bagaimana resto gaul itu menggunakan bahan bernutrisi rendah untuk keuntungan berlimpah. Inilah film indie yang coba menginvestigasi perilaku zalim produsen industri makanan cepat saji sekaligus advokasi hak-hak konsumen yang kerap dikebiri.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, penelitian serupa dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) awal Februari 2010. Hasilnya, 30 % jajanan yang beredar di masyarakat ternyata mengandung zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia a.l pengawet formalin, boraks, rhodamin B dan pewarna sintetis methanil yellow. Celakanya jajanan itu banyak menyasar pelajar sekolah dengan harga relatif murah. Seperti luput disadari, kelangsungan tunas muda ini terancam oleh makanan yang mereka konsumsi setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-I3oZaCvUv_w/Tazj6KADzlI/AAAAAAAAAM4/rP7oeTgcBms/s1600/gembili.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-I3oZaCvUv_w/Tazj6KADzlI/AAAAAAAAAM4/rP7oeTgcBms/s320/gembili.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597099025171205714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan bila ada anggapan bahwa industri makanan skala internasional maupun lokal yang menyertakan zat berbahaya dalam produksinya –sebagaimana temuan Spurlock dan BPOM-- dikategorikan sebagai upaya pembunuhan kemanusiaan. Faktanya rumus dagang “untung besar dengan modal kecil” seolah mengabaikan begitu saja harkat kehidupan. Apalagi bila bisnis itu disukseskan dengan laku tipu-tipu, konsumen dirugikan dan tak pernah diberitahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itulah yang penulis sebut sebagai pseudo-ilmiah. Kelahiran pengetahuan, pesatnya teknologi penemuan dan tumbuh kembang keilmuan yang semestinya bermanfaat bagi keselamatan dan kesejahteraan umat, justeru disalahgunakan sistemik untuk meracuni masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya pemakaian berlebihan pemanis aspartam dalam minuman, penyedap MSG dalam makanan, formalin pengenyal ikan, daging ayam broiler yang disuntik antibiotik, penggunaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;styrofoam&lt;/span&gt;, kemasan tas kresek beracun, dst. Demi mengejar laba besar harus mengorbankan hak hidup orang lain. Seolah memanfaatkan manusia sebagai binatang percobaan lewat produk-produk makanan yang dipasarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, perilaku konsumen memamah semua jenis makanan juga sangat memprihatinkan. Bagi yang berkantong tebal, menikmati makanan mahal berdwifungsi sekaligus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jaim&lt;/span&gt; status sosial. Tak sekadar menutup rasa lapar. Bagi kaum jelata, semua jajanan murah meriah diborong untuk memenuhi perut yang tak kunjung kenyang. Desakan kerakusan mengalahkan prioritas kebutuhan. Analisa nafsu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;want&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (keinginan berlebihan) lebih didengarkan daripada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;need&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (keperluan pas-pasan).&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gXmSAtgPYrk/TazkJsSIkjI/AAAAAAAAANA/HiX7seyhz3o/s1600/telorebs.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 271px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gXmSAtgPYrk/TazkJsSIkjI/AAAAAAAAANA/HiX7seyhz3o/s320/telorebs.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597099292071858738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ciri patologi pariah. Sebuah penyakit peradaban manusia dengan gejala cara pandang hidup yang menuhankan kenikmatan dunia profan. Contoh satu diantara sekian prinsip yang  wajib diimani mereka ini adalah ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;culinary party&lt;/span&gt;. Berpindah-pindah kongkow dan lesehan sepanjang lapak makanan untuk mencicipi aneka masakan dari berbagai menu olahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laku yang sedikit beda, makan di rumah tak terpuaskan dengan satu macam hidangan. Sudah ada nasi, kuah, sayur, dan lauk, masih ingin nambah kerupuk. Sudah ada sambel lalapan, kemaruk kepingin ngemplok gorengan, dst. Mottonya “hidup untuk makan”, bukan “makan untuk hidup”. Sebenarnya ritual makan cukuplah untuk kebutuhan survival tapi disalah-kaprahi jadi rutinitas pemborosan makanan yang awur-awuran. Sudah tahu makan sembarangan itu tidak baik tapi tetap diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah paham bahwa Al Quran menganjurkan memilih yang berunsur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halalan &amp;amp; thayyiban&lt;/span&gt;, tapi seketemunya makanan dihabiskan. Asal berlabel halal, meski belum tentu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thayyib&lt;/span&gt; (baik bagi kesehatan), diembat semua tanpa sisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal keren, gaul, beraroma iklan, senyampang mulut menuntut, selagi punya duit, tak peduli sehat atau tidak, halal-haram, pokoknya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;junk-food&lt;/span&gt;, semua masuk perut. Sungguh ironi ketika di negara asalnya, makanan sampah itu mulai dijauhi, tapi di sini malah antri diserbu pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9XCbmrXpwbo/Tazk1T4FxXI/AAAAAAAAANQ/-vXmNSphN9U/s1600/kentangireng.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-9XCbmrXpwbo/Tazk1T4FxXI/AAAAAAAAANQ/-vXmNSphN9U/s320/kentangireng.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597100041434416498" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti kian menegaskan, penelitian yang dilakukan sebuah konsultan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brand marketing&lt;/span&gt; tahun 2010, menemukan fakta bahwa makanan favorit para pengguna internet Indonesia adalah produk mie instan dan minuman berkarbonasi. Padahal dua jenis produk olahan itu banyak diakui mengandung komposisi yang tidak aman bagi kesehatan. Terutama pengawet, pewarna, dan zat berbahaya lainnya. Tapi konsumen malah memilihnya sebagai makanan favorit utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa yang keliru? Jawabannya adalah keduanya patut disalahkan. Kebutuhan produsen yang mau jualannya laku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;--meski dengan memanfaatkan zat berbahaya--&lt;/span&gt; digayung-sambuti keinginan konsumen yang tertipu nafsu menurutkan hawa rakusnya. Tumbu ketemu tutup. Kloplah sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pseudo ilmiah berselingkuh dengan patologi pariah.  Hukum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;supply and demand&lt;/span&gt; yang kemudian berjalan. Produsen terus eksis menzalimi, karena konsumen merem melek menikmati. Lahirlah anak kembar haram bernama konsumerisme dan hedonisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ajakan penulis adalah mari mengarifi diri. “Disaat konsumerisme akut mewabahi bangsa ini, jadikan perilaku hidup kesederhanaan sebagai pedoman. Kita harus berkata 'CUKUP SUDAH' kepada hedonisme dan ugal-ugalan kemaruk panganan,” pesan seorang rekan kandidat doktor bioinformatika dari Jerman.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NdIrne0RTTc/TazkamJyfdI/AAAAAAAAANI/v34YmhYdy24/s1600/banyuputih.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-NdIrne0RTTc/TazkamJyfdI/AAAAAAAAANI/v34YmhYdy24/s320/banyuputih.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597099582484020690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau perlu tirakat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;poso nowo&lt;/span&gt;: sahur dan berbuka hanya dengan minum air putih dan makan umbi-umbian rebusan saja. Latihan hidup sederhana sekaligus detoksifikasi zat-zat jahat yang sudah lama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngendon&lt;/span&gt; mengotori jiwa raga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk aksi segera, fungsi BPOM didorong lebih aktif bersama gerak aparat terkait lainnya melakukan pengawasan terhadap maraknya makanan yang beredar. Akademisi dengan tridharma perguruan tinggi melalui biro penelitiannya turut mendukung penghapusan praktik pseudo ilmiah dalam produk makanan/minuman beserta derivat aneka jenisnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan giat mencerdaskan warganya tentang kesadaran “jangan asal jajan”. Institusi masyarakat sipil juga urun advokasi di isu kesehatan pangan ini. Kebetulan belum banyak orsos/ornop yang bekerja membela hak publik di sektor kebutuhan primer ini. Swadaya di level terkecil, fungsi keluarga mestinya sangat efektif mencegah patologi pariah, misalnya dengan pembiasaan makan cukup dari masakan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu meniru Spurlock untuk sekadar membuktifkan efek buruk kebiasaan jajan di luar kebutuhan. Jangan tunggu sakit dulu baru berhenti rakus. Sekalian saja mengikuti penulis yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt;: berhenti mengonsumsi makanan cepat saji, tidak sembarangan jajan dan cukup mensyukuri sajian menu rumahan. Jangan lupa baca Bismillaah sebelum makan. Dengan ikhtiar ini, diharapkan konsumen akan tercerdaskan dan tidak lagi jadi korban yang paling rentan dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FIHZsrPC53Q/TazjMhuWgDI/AAAAAAAAAMw/umQ27jcjwyw/s1600/singkongrebus.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-FIHZsrPC53Q/TazjMhuWgDI/AAAAAAAAAMw/umQ27jcjwyw/s320/singkongrebus.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597098241265401906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ulat bulu yang lagi marak demonstrasi itu, sedang membentang spanduk-spanduk panjang bertuliskan peringatan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Hei Manusia, Hentikan Sifat Rakusmu. Kamu habiskan semua sumber makanan sampai kami kelaparan. Atas nama hobi kamu embat burung-burung yang jadi penyeimbang rantai makanan kami. Sekarang nikmati aksi pembalasan kami ini”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-4061257461928812019?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/4061257461928812019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=4061257461928812019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4061257461928812019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4061257461928812019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/pseudo-ilmiah-patologi-pariah.html' title='Pseudo Ilmiah, Patologi Pariah'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-r0VG_vxLqmc/TazjC8hR-cI/AAAAAAAAAMo/IdSawPGSGno/s72-c/Morgansizeme.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-5548913215908307485</id><published>2011-04-14T18:38:00.001+07:00</published><updated>2011-04-14T18:51:44.924+07:00</updated><title type='text'>Internet Sehat vs Internet Syahwat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Detikinet, Senin (11/4/2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-aP0PeKxn7-c/Tabekt5Qi5I/AAAAAAAAAMQ/4Rrx_oX5GAc/s1600/internetputri.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-aP0PeKxn7-c/Tabekt5Qi5I/AAAAAAAAAMQ/4Rrx_oX5GAc/s320/internetputri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595404309430832018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta - Internet sehat adalah kampanye kreatif rekan-rekan ICT Watch dalam pemasyarakatan internet yang tertib, aman, legal dan bermanfaat. Inisiatif ini muncul mengantisipasi pesatnya laju inflasi kelahiran penduduk maya sekaligus menjawab maraknya penyalahgunaan internet di Indonesia. Dalam kegiatannya, internet sehat selalu melibatkan jejaring komunitas dan pengiat lembaga nirlaba, termasuk penulis yang bekerja di organisasi non-pemerintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ICT Watch merupakan pemegang hak penggunaan nama/merek berdasarkan keputusan Dirjen HAKI, Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Kata 'INTERNET SEHAT' telah terdaftar sebagai merek pada Dirjen HAKI pada tanggal 21 Oktober 2010, dengan nomor pendaftaran IDM00276610.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di jalur yang beda tipis vis a vis, kini marak fenomena pengalihfungsian internet menjadi alat kampanye penjahat dan habitat netizen 'aliran sesat'. Penulis menyebut fenomena ini dengan istilah internet syahwat sebagai antitesa parodik internet sehat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara fungsi, internet sehat mengendalikan penggunaan agar netter tidak tersesat, sementara internet syahwat membiarkan hasrat berkobar liar. Posisi internet syahwat mendekat ke moral hazard sedangkan internet sehat merapat ke moral safeguard.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keduanya giat mendakwahkan kegunaan piranti komunikasi berbasis jaringan silaturahmi komputer global ini. Pun demikian, keduanya berasumsi azas manfaat, walau tanggung jawab sosial dan kesadaran beragama yang kemudian membatasi perbedaannya. Internet sehat efektif sebagai media pencerdasan dan penyejahteraan umat. Sebaliknya internet syahwat produktif mendatangkan mudharat bagi tatanan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Xis8bqIwbiM/TabfGxc_myI/AAAAAAAAAMY/mWMoayE5QoE/s1600/foto4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Xis8bqIwbiM/TabfGxc_myI/AAAAAAAAAMY/mWMoayE5QoE/s320/foto4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595404894501575458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemaknaan internet sehat akan melahirkan kreatifitas, kecerdasan, power of simplicity, keterbukaan saling berbagi dan peradaban yang lebih manusiawi. Ada Kang Onno W. Purbo dengan ide VoIP Merdeka yang murah dan produk Wajanbolic yang meriah. Para blogger yang memelopori eksistensi pewarta warga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ICT Watch bersama ID-SIRTII jadi 'tukang kebun' dunia maya agar semua penghuni tetap bersih dan terlindungi. Dari luar negeri duo Lary Page dan Sergey Brin, Mark Zuckerberg, serta Jerry Yang adalah contoh generasi terkini yang cerdas memaknai hakekat internet sehat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Derivat internet sehat dapat mewujud dalam produk yang bermanfaat, mendidik dan ramah masyarakat. Contohnya BSE untuk pendidikan, SAHANA untuk kebencanaan, NAWALA untuk pencegahan keasusilaan, F/OSS mengurangi monopoli sistem operasi, dukungan Facebooker untuk penegakan keadilan, saling sapa via kicauan Tweeps, upacara online, pengajian virtual, dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di batas lain, Internet Syahwat berangkat dari ketertutupan, germo (gelem seger kerjo emoh), ambisi saling menguasai, kecanduan nafsu setan, terjebak dunia profan, budaya enak instan, dan semangat pelecehan harkat kemanusiaan. Hubungan gelap itu kemudian melahirkan turunan produk gagal bernama pornografi, phising, carding, bullying, abuse of mouse, human trafficking, money laundring, maling banking, dan kejahatan dunia maya lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembaca tentu tahu aksi penipu cerdik dan pencuri cantik yang tertangkap polisi baru-baru ini. Pada perkara asusila sebelumnya, beberapa sosialita kerap dituduh mengejar tenar dengan cara umbar video dan foto penuh ego libido. Teranyar, muncul kasus anggota dewan yang tertangkap candid camera sedang indehoi joged chaiya-chaiya sembari menikmati pranala email 'LinkInPorn'-nya. Apakah mereka tergolong penikmat internet syahwat? Hanya Allah yang tahu kebenarannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika disanding dalam deret moral benchmarking, maka pelaku internet sehat dengan kesadaran ikhlas sedang berlatih mengamalkan fatwa kitab suci berikut ini, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (QS. 17:36). Peringatan ayat ini nampak secorak dengan tagline 'wise while online, think before posting'. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara penikmat internet syahwat sedang bersenang-senang  dan bergegas melakoni satire pedas Iwan Fals, "khutbah soal moral, omong keadilan sarapan bagiku. Aksi tipu-tipu, lobbying dan upeti, ooohh jagooonyaaa." (Swami, Bento: 1989).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memilih satu di antara keduanya merupakan hak pembaca. Sila pikirkan keuntungan dan kerugian sebagai konsekuensi pilihan yang mesti ditanggung. Internet sehat menawarkan alternatif tamasya arung maya yang aman, nyaman dan ada jaminan perlindungan. Sementara internet syahwat mengajak bertualang keliling dunia virtual yang illegal dan amoral -- meski mungkin lebih markotop dan menantang buat sebagian orang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi pelaku internet sehat, sebaiknya menambah energi ekstra supaya revolusi baik ini tak layu berhenti. Rangkul dan perkuat fungsi keluarga sebagai pelaku utama selain advokasi peraturan yang sudah ada. Buat penikmat internet syahwat, doakan semoga saja mereka lekas bertobat. Tentu lebih bijak mengarifi diri daripada menuduh ada konspirasi atau mengaku jadi korban yang dizalimi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pilih internet sehat, Insya Allah hidup lebih bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Pilih internet syahwat, risikonya berhadapan dengan hukum aparat dan malaikat. Mudah-mudahan pilihan Anda sama dengan saya, ambil pilihan pertama: internet sehat yang bertanggungjawab dunia akhirat. Bismillaah...&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-MuDkzRO5tlw/TabfoFe5CNI/AAAAAAAAAMg/rhvethDdRkk/s1600/mentawai.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-MuDkzRO5tlw/TabfoFe5CNI/AAAAAAAAAMg/rhvethDdRkk/s320/mentawai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595405466813925586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sumber:&lt;br /&gt;http://www.detikinet.com/read/2011/04/11/100651/1613108/398/internet-sehat-vs-internet-syahwat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-5548913215908307485?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/5548913215908307485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=5548913215908307485' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/5548913215908307485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/5548913215908307485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/internet-sehat-vs-internet-syahwat.html' title='Internet Sehat vs Internet Syahwat'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aP0PeKxn7-c/Tabekt5Qi5I/AAAAAAAAAMQ/4Rrx_oX5GAc/s72-c/internetputri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6072922145896978720</id><published>2011-04-07T21:01:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T11:57:08.795+07:00</updated><title type='text'>Kitaro &amp; Rapsodi Orkestra Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-bnSZVSIOetU/TZ1DiP8-ioI/AAAAAAAAAMA/oipJpjr0CEc/s1600/kitaroku.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-bnSZVSIOetU/TZ1DiP8-ioI/AAAAAAAAAMA/oipJpjr0CEc/s320/kitaroku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592700567940926082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu sering saya ditawari rekan menonton konser musik, tapi sesering itu pula ajakan saya tampik. Bukan karena saya tidak tertarik, tapi ini soal pilihan selera saja. Meski buat saya semua madzhab musik itu apik, tapi untuk pertunjukan live yang layak simak itu cuma orkestra dengan musikal multi-instrumental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pementasan yang bukan sekadar olah vokal atau lirik-lirik fenomenal, tapi keterampilan seorang komposer memadukan ragam 'konflik' dari berbagai etnik alat musik. Di situlah antusiasme saya dalam melihat pertunjukan orkestra begitu menggebu.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jenis pertunjukan itu, Indonesia memiliki Addie MS dengan Twilite-nya, juga Ananda Sukarlan dan Dwiki Dharmawan.  Musikus orkestra mancanegara, saya paling suka menikmati Kitaro dan Yanni yang sama-sama punya basis kepiawaian pianis. Saya senang pernah berkesempatan mendengar karya mereka walaupun hanya dari pita kaset atau keping cakram saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Kitaro dijadwalkan manggung di Jakarta. Mau datang kejauhan, selain menimbang harga ongkos masuk yang tidak murah. Akhirnya saya cukup puas buka-buka YouTube untuk menikmati rekaman pemetasan yang pernah ia kelilingkan. Tanpa beli tiket mahal, saya dapat mengikuti “World Tour” Kitaro yang mondial. Hanya dari layar laptop tigabelas inci, saya bisa menikmati tingkah Kitaro yang sering terpejam gedek-gedek itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembaca, mungkin diantara Anda semua memiliki selera musik yang sama dengan saya. Sebagaimana saya yang belum beruntung bisa menikmati aksi Kitaro secara langsung via pandang mata, tetaplah kita wajib bersyukur terutama atas anugerahNYA hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurnya lagi, kita hidup di Indonesia: sebuah bangsa besar yang kaya raya akan karakter manusia maupun sumber daya alamnya. Satu-satunya negara di dunia yang terdiri dari ribuan suku, bahasa, dan pulau hunian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitaro dan atau pementasan orkestra lainnya memiliki kemiripan dengan struktur budaya Indonesia yang beraneka rupa. Alat musik itu diandaikan manusia dan budayanya. Sementara komposer itu adalah kepemimpinan kita semua, sesuai jenjang tupoksi-nya. Pementasannya adalah sepanjang usia Nuswantara Indonesia ini ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pementasan orkestra kita bisa belajar memaknai dan mengamalkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Musik etnik dipadu synthesizer, bedug, suara manusia, biola, drum dan garputala, menghasilkan irama yang rancak penuh gelegak enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Indonesia, jika saja kita mau menghayatinya. Ragam perbedaan dengan dinamika prosesnya, sebenarnya adalah anugerah indah. Sebagaimana alat musik yang berpotensi konflik, dengan olah perpaduan yang pas, keberbedaan itu justeru jadi satu pementasan padu, menghasilkan nada-nada syahdu dan aksi penghiburan yang seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesederhana itu?,” tanya seorang rekan saya. Tentu saja iya sederhana pelaksanaannya kalau kita tidak mau bikin repot. Setidaknya bisa dimulai di level keluarga, jika terlalu apatis melihat macam-macamnya karakter manusia Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keluarga kita bisa belajar mengelola kepemimpinan, mengerem ego senioritas, menghormati sesama manusia, memadukan perbedaan, berbagi ide positif, saling menguatkan dalam semangat perubahan, dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level Indonesia, anggaplah kita semua ini serumpun keluarga. Pancasila sebagai sokoguru tatanan kekeluargaan sekaligus konduktor kepemimpinan berbangsa dan bernegara. Jadikan masa depan akhirat sebagai mindset utama, sehingga urusan dunia saling ikhlas berbagi bakti sesuai potensi yang dimiliki tanpa rebutan, tanpa saling bermusuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada emosi yang meninggi akibat dinamika diskusi, berwudhulah untuk usir setan pembawa amarah. Tarik nafas dalam. “Huh, syah, huh, syah,” lepaskan emosi seperti yang diajakkan Kitaro dalam komposisi Matsuri. InsyaAllah pertentangan akan reda, kita akan rukun bersaudara kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema Kitaro dalam pementasan dunia kali ini adalah “Pray for Japan”. Banyak cerita pemulihan pasca tsunami di Jepang kemarin yang menginspirasi saya. Satu diantaranya adalah betapa cepat dan tanggapnya penanganan tsunami di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin yang meminta maaf, berpidato di depan televisi dengan seragam tim penyelamat, pidatonya bermuatan motivasi penyemangat. Masyarakat juga enggan mengeluh dan sibuk membenahi keadaan. Masyarakat optimis walau dihimpit duka dan kesulitan. Dalam hal ini, kita patut meniru Kitaro dan “Saudara Tua” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-8DwR7X3inM8/TZ1DwHZjdZI/AAAAAAAAAMI/EmIrg1EffXE/s1600/orkestraindonesia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8DwR7X3inM8/TZ1DwHZjdZI/AAAAAAAAAMI/EmIrg1EffXE/s320/orkestraindonesia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592700806163035538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dengan segenap potensi sumber daya, perbedaan karakter manusia dan jutaan permasalahannya adalah sebuah pementasan rapsodi orkestra. Kita semua turut sibuk dalam pementasan itu. Maka hentikan saling menyalahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah mengalah demi sebuah komposisi indah. Kesempatan kita menata orkestra Indonesia ini hanya sangat sebentar, sebagaimana tiupan terompet Kitarao dalam Heaven &amp; Earth. Sebelum takdir jaman akhir ditiup sebagai tanda usainya pertunjukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat Anda yang hari ini telah memegang tiket pertunjukannya. Semoga saja Kitaro bisa menghibur, pertunjukan berlangsung aman lancar dan bebas ancaman amuk liar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saya dan Anda semua para pemimpin orkestra keluarga Indonesia bisa meniru Kitaro yang tampil ciamik menata musik “konflik” dari berbagai etnik. Bagi penonton jangan lupa berdoa untuk dunia agar segera rukun sentosa. Semoga Indonesia aman dari segala bencana dan marabahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latihan melihat Indonesia dan keluarga kerabat sebagai orkestra setiap saat, tak perlu kita datang ke Jakarta malam ini untuk menikmati gemulai “Dance of Sarasvati”.  Di sini saja sudah tersedia: murah, mudah dan sah. Sebuah anugerah pertunjukan orkestra nusantara bernama INDONESIA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama violin angin, perkusi ombak, senandung gunung, gesekan biola suara fauna, nyanyian hutan, denting dawai dedaunan, mari kita tampilkan pentas gerak perubahan keIndonesiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur puji kepada Ilahi dan bedug Matsuri mengawali gairah ibadah sehari-hari. Pancasila-kan kembali jiwa raga anak-anak pertiwi. Inilah peta jalan sutera meraih kejayaan Nuswantara lama. "Kerja semangat. Satu tekad, satu komando, satu tujuan, AYO," seolah teriak Kitaro.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6072922145896978720?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6072922145896978720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6072922145896978720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6072922145896978720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6072922145896978720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/04/kitaro-rapsodi-orkestra-indonesia.html' title='Kitaro &amp; Rapsodi Orkestra Indonesia'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bnSZVSIOetU/TZ1DiP8-ioI/AAAAAAAAAMA/oipJpjr0CEc/s72-c/kitaroku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-5051231594077205601</id><published>2011-03-31T23:21:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T12:00:54.423+07:00</updated><title type='text'>Gus, Goodwill, Glory</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-0IgCw991pB8/TZwcgK8_sZI/AAAAAAAAALw/uaMf48zX3rw/s1600/000_1998.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0IgCw991pB8/TZwcgK8_sZI/AAAAAAAAALw/uaMf48zX3rw/s320/000_1998.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592376176308892050" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Guru sebagai figur teladan kami senantiasa memberikan pembelajaran dalam setiap ucapan, pikiran dan tindakan beliau. Pun ketika hendak mengutarakan pertimbangan yang berbeda dari pemikiran kami, cara penyampaian beliau penuh tata krama dan bermisi penyadaran insan. Sehingga keputusan beliau selalu kami patuhi sepenuh hati tanpa berani mendebat lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu kali kami bersama saudara berembuk hendak membelikan mobil untuk Bapa Guru. Selama ini beliau kemana-mana –terutama saat menghadiri undangan pengajian-- selalu menyewa, karena memang tidak memiliki mobil pribadi. Asumsi kami, dengan mobil yang terbeli itu nanti, dakwah akan kian mudah. Setidaknya Bapa Guru tidak lagi repot memikirkan sewa mobil saat hendak berangkat menggembala umat.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dus, kami yakin pemanfaatan mobil ini nanti tidak akan jadi properti pribadi. Karena kebutuhan pelayanan penghuni pesantren yang 24 jam juga butuh fasilitas kendaraan. Sehingga usulan pembelian mobil tersebut sudah sangat layak dengan berbagai pertimbangan fungsi sosial. Untuk menyeriusi niat tersebut, akhirnya kami putuskan bayar uang muka pembelian di sebuah dealer di Surabaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesuai hasil rembukan, seorang wakil saudara akan menyampaikan niat pembelian mobil ini ke Bapa Guru untuk mendapatkan ijin dan persetujuan. Gus Glory terpilih untuk tugas ini, karena dia pemula inisiatif sekaligus penyumbang mayoritas diantara saudara yang ikut urunan pembelian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat niat itu disampaikan, Bapa Guru tidak tergesa menanggapinya. Beliau diam seolah menunggu ilham sekaligus memilih kata yang pas untuk menjelaskan. Menurut pengalaman kami, jika Bapa Guru bersikap diam agak lama begini, biasanya jawaban akhir adalah “tidak setuju”. Setelah beberapa saat menunggu, Bapa Guru pun membuka jawabannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Gus, niat sampean dan dulur-dulurmu itu sudah bagus. Aku sebagai orang tua dan gurumu berterimakasih untuk inisiatif baik itu. Tapi ada beberapa pertimbangan yang ingin aku sampaikan,” kata beliau mengawali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pertama, santri-santri yang ada di sini dan mondok di pesantren kita ini, semua ingin menyerap ilmu dan mewarisi nilai keislaman yang kita ajarkan. Mereka datang dari berbagai daerah yang jauh dan rela bersusah payah di sini hanya untuk belajar dan praktik perilaku santri secara benar. Sementara posisiku Guru dan sampeyan adalah Gus yang akan digugu ditiru oleh mereka itu,” terang Bapa Guru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejenak jeda, beliau melanjutkan jawabannya. “Nah, jika nanti aku jadi sampeyan belikan mobil baru, bagaimana dengan santri-santri itu? Aku khawatir jika nanti mereka melihat mobil baru itu, santri-santri itu tidak jadi ikhlas kepingin mewarisi ilmu dan nilai Islam yang kita ajarkan, tapi justeru terpengaruh nafsu lalu kepingin mobil baru seperti yang sampeyan belikan itu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kedua,” lanjut beliau, “Warga desa di sekitar pesantren kita ini masih banyak fakir miskin dan keluarga telantar yang kesehariannnya memprihatinkan. Jangankan berfikir beli mobil, untuk menutupi kebutuhan makan saja, mereka sering kesulitan dan terpaksa pinjam tetangga kanan-kirinya. Lha nanti kalau kita jadi beli mobil, betapa kian nelangsah perasaan mereka saat melihat kita setiap hari wira-wiri lewat depan rumah mereka dengan mobil baru itu. Apa mereka tidak ingin punya juga saat melihat mobil baru itu parkir di halaman rumah kita?,” tanya retoris beliau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selagi kami masih merenungi kebenaran jawaban kedua itu, Bapa Guru meneruskan, “Selain kita akan berdosa telah membuat mereka kepingin tapi tak mungkin, kita juga akan terkena tuntutan pertanyaan dari Gusti Allah atas kepemilikan mobil itu. Apa jawab kita, saat nanti ditanya tentang tanggungjawab sosial sebagai seorang pemuka agama yang harus peduli pada nasib bangsanya?? Alangkah besar dosanya jika fasilitas kita lapang berkecukupan, sementara hidup mereka sempit dan kekurangan?.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kebingungan antara membenarkan pertimbangan Bapa Guru dan kengototan membelikan mobil baru, Gus Glory bertanya, "Lalu uang calon beli mobil baru ini baiknya digunakan untuk apa, Bi?" Seperti sudah bisa menebak pertanyaan kami itu, Bapa Guru pun menjawab dengan cerita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dulu tahun 1974, aku menjual sepeda motor keluarga untuk membangun jembatan dari kayu jati yang menghubungkan areal perumahan penduduk desa ini dengan lahan persawahan. Awalnya jembatan ini hanya berbentuk wot dari sebatang bambu sehingga sering petani yang menyeberang terjatuh ke sungai, terutama ketika kondisi wot licin di musim penghujan. Kemarin (waktu itu tahun 2002), aku lihat jembatan dari jati itu banyak yang rusak dan keropos di tiang-tiang utamanya. Mungkin setelah tiga puluhan tahun usianya sudah waktunya minta ganti baru.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nah, bagaimana jika uang yang sampeyan niatkan untuk beli mobil ditasarufkan saja untuk merehab jembatan yang sudah rusak itu? Kalau dulu Abi menjual sepeda motor satu-satunya milik keluarga untuk kepentingan kemanusiaan, giliran sekarang sampeyan latihan mengikuti jejak Abi, bangun jembatan itu kembali. Sementara ini kita tidak harus punya mobil, untuk pergi ngaji cukup sewa saja. Yakinlah jembatan itu akan lebih langsung bermanfaat buat masyarakat daripada diperuntukkan beli mobil kita. Semogalah pembangunan jembatan itu nanti akan berwujud mobil keluarga kita di akhirat sana. InsyaAllah,” pungkas Bapa Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ODeQATWNl7U/TZwcpyZPhiI/AAAAAAAAAL4/dcBfiZi04RI/s1600/000_1995.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ODeQATWNl7U/TZwcpyZPhiI/AAAAAAAAAL4/dcBfiZi04RI/s320/000_1995.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592376341515175458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas jawaban dan pertimbangan beliau yang sangat masuk akal itu semua, kami bersepakat menyetujuinya. Mobil yang sudah di-down payment itu pun tak jadi mampir di garasi rumah kami. Pada akhirnya seluruh biaya calon pembelian mobil digunakan untuk membangun jembatan, seperti yang Bapa Guru sarankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillaah kini jembatan itu kokoh berdiri menyambung keterisolasian areal perumahan dan lahan persawahan. Hingga wafat 2006 silam, Bapa Guru tidak pernah memiliki mobil pribadi ---sebuah teladan hidup kesederhanaan yang patut diturut oleh kami dan para santri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari peristiwa itu kami diajari Bapa Guru tentang praktik keagamaan dalam fungsi sosial kemasyarakatan. Betapa seorang santri dituntut lebih peka melihat kebutuhan umat, meski dengan konsekwensi kebutuhan pribadi harus menepi. Bahwa “Gus” sebagai simbol kepesantrenan bukanlah sebuah fasilitas yang boleh dinikmati enak-enakan, tapi amanah agung yang harus dipertegas dengan pembuktian dan keteladanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketokohan di depan tidak akan melahirkan perubahan kebaikan yang signifikan jika hanya puas menempati kasta tinggi tanpa peran berarti. Dibutuhkan “Goodwil” serius dan pengorbanan demi kesejahteraan umatnya agar pemuka agama ternyatakan sebagai figur teladan pengubah sejarah. Bapa Guru juga mengajarkan bahwa di atas pertimbangan keputusan yang seolah sudah berdalih dakwah, ada pertimbangan yang lebih bijaksana: pertimbangan keadilan dan kemanusiaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa keseriusan Goodwill serta pertimbangan kemanusiaan dan keadilan, maka kepemimpinan pemuka agama akan terlihat semu. Tanpa keteladanan yang bisa diperlihatkan, umat akan enggan meniru. Barangkali ini yang menjelaskan pertanyaan kenapa fatwa tokoh agama selalu dilawan fakta kondisi riil umatnya. Terbaru, fatwa haram penayangan sebuah program hiburan hipnotis di layar kaca justeru direspon penghargaan reality show favorit pemirsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fragmen cerita Gus Glory yang hendak membelikan mobil baru buat Bapa Guru menginspirasi saya, Anda, dan kita semua bahwasanya Gus adalah peneladan dalam semangat kebaikan (Goodwill). Niatan itu yang akan membawa kemenangan dan kejayaan semua insan (Glory of Humanity).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada kami Bapa Guru sering berpesan, “Kemenangan hanya bisa dicapai dengan pengorbanan.” Bila Anda menonton Transformer, sila dengar Hammerfall dalam lirik lagunya “No Sacrifice, No Victory”. Ia kian menegaskan lagi peran keleladanan Gus, kemauan berkorban, dan arti kemenangan ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“By the code we are living, we are breathing, and then we die Sacrifice our own lives, but we'll never stand to lose our pride and glory”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-5051231594077205601?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/5051231594077205601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=5051231594077205601' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/5051231594077205601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/5051231594077205601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/03/gus-goodwil-glory.html' title='Gus, Goodwill, Glory'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0IgCw991pB8/TZwcgK8_sZI/AAAAAAAAALw/uaMf48zX3rw/s72-c/000_1998.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-2406446333500517527</id><published>2011-03-24T21:11:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T12:02:25.047+07:00</updated><title type='text'>Iman ABC, Keadilan Kesejahteraan</title><content type='html'>Pembuktian keimanan secara lahir relatif mudah ditampakkan melalui kesaksian, sumpah, wirid bacaan, dan syahadat lisan. Namun pembuktian keimanan secara amal sosial, inilah yang masih perlu ditumbuhkembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fakta Indonesia kekinian, kaum beriman (secara formal beragama di KTP-nya) yang berjumlah ratusan juta, mestinya mampu melahirkan senarai ideal-ideal kebaikan. Tapi yang terjadi malah anomali. Banyaknya kaum beriman berbanding timpang dengan sedikitnya amal kebaikan dan praktik nilai luhur keIndonesiaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ambil satu contoh kebaikan, misalnya tentang keadilan dan kesejahteraan. Sudah sejak lama program penyejahteraan digaungkan, dikampanyekan, diserukan, didakwahkan, dan diiklankan. Tapi deret antrian status orang miskin tetap tak beranjak. Sedikit terentas tapi sebanyak itu pula bertunas. Sementara di batas nasib yang lain, status sosialita dan orang kaya kian ngepop ngetrend saja. Betapa tiap tahun, Indonesia selalu menyumbang nama dalam daftar orang terkaya di dunia.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa bermaksud membenturkan dikotomi kaya-miskin, inilah panggung parodi sekaligus anomali yang terjadi. Indonesia yang dihuni ratusan juta kaum beriman dan berstatus negara kaya dengan segenap potensi tanah airnya, ternyata masih menyisakan persoalan di sektor keadilan dan terutama kesejahteraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu akut persoalan kesejahteraan ini, hingga kita pernah 'mengimpor' Profesor Muhammad Yunus dari Bangladesh untuk sekadar bercerita tentang konsep Grameen Bank dan mikro kredit-nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kadang Kinasih Pembaca sekalian, saya, Anda, kita semua adalah orang Indonesia yang beriman. Setidaknya berdasarkan pengakuan yang pernah kita ucapkan. Terutama iman tentang adanya kampung akhirat, hari pembalasan, dan timbangan amal kebaikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keimanan akhirat itu seyogyanya diamalkan terutama semangat bersedekah. Sehingga akan muncul kesejahteraan sosial di dunia. Nah, lewat tulisan ini saya ingin berbagi praktik terbaik tentang ujicoba pembuktian kadar iman itu yang akan berdampak langsung pada pelaksanaan kampanye keadilan kesejahteraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan pelajaran yang saya terima dari Bapa Guru, sebut saja uji praktik ini dengan “Iman A, Iman B, Iman C”. Iman A adalah ciri iman yang tingkatannya rendah atau tipis. Iman B adalah ciri iman yang ukurannya sedang. Iman C adalah ciri iman yang berderajat tinggi atau tebal. Dengan ujian ini, insyAllah kita akan tahu detil besaran iman yang bisa kita bukti-nyatakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya saya asumsikan kita semua sudah pernah mendapat rejeki maisyah dan atau bekerja dengan upah. Taruhlah dalam sehari kita bekerja dapat 4 ribu rupiah. Bila iman kita pada tingkatan rendah “A”, maka rejeki 4 ribu itu akan kita bagi: seribu disedekahkan, sisanya 3 ribu dinikmati bersama keluarga. Alokasi pendapatan dianggarkan 25 % pemenuhan kebutuhan akhirat dan 75 % untuk kebutuhan dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila iman kita berukuran sedang “B”, maka upah 4 ribu itu akan kita bagi: 2 ribu disedekahkan, 2 ribu dibelanjakan untuk sandang, pangan dan papan. Lumayan ada keseimbangan. Standar iman fifty-fifty bisa kita penuhi. Kebutuhan akhirat 50 % dan dunia juga sama 50 %.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila iman kita berderajat tinggi “C”, maka hasil kerja 4 ribu itu harus dibagi: 3 ribu disedekahkan untuk akhirat, seribu saja dicukupkan untuk kebutuhan keluarga di dunia. Asumsinya, akhirat kudu diprioritaskan lebih karena usia tinggal di sana lebih lama dan baka. Sehingga kebutuhan dan persediaan sandang, pangan, papan harus dilebih-banyakkan daripada kebutuhan hidup di dunia. Logis matematikanya, 75 % rejeki dialokasikan untuk persiapan kebutuhan hidup di akhirat dan 25 % dianggarkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uji praktik “Iman ABC” itu sudah sepadan dengan standar iman awam kebanyakan. Di atas itu, ada pembanding imanu yang lebih baik lagi. Yakni iman para Rasul dan sahabat menyerahkan semua kepemilikan tanpa menyisakan harta warisan. Sehingga sekali lagi bagi kita yang awam, uji praktik Iman ABC itu kiranya tak patut disanggah dengan berbagai alasan keberatan dan dalih ketidaksiapan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kaitannya dengan konsep keadilan dan kesejahteraan, terutama pengentasan kemiskinan, saya pernah berhitung sederhana. Misalnya, dalam satu desa jumlah penduduknya 700 KK. Setiap keluarga itu mengamalkan praktik Iman “A” saja, yakni memberikan seribu rupiah setiap hari. Lalu uang yang terkumpul 700 ribu ini diberikan untuk memodali usaha bagi satu keluarga orang miskin di desa tersebut. Maka satu keluarga telah terentaskan dengan merasakan wujud nyata keadilan dan pemerataan kesejahteraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika saja kaum beriman Indonesia mau mengamalkan uji praktik Iman “B” atau bahkan Iman “C”, maka akan ada hitung-hitungan yang sangat membersyukurkan. Setiap hari terentas satu keluarga miskin; setiap saat berlimpah dana abadi umat; setiap hari kita praktik berbuat iman akhirat; setiap hari kita berlomba ikhlas berbagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;InsyaAlah dalam sepekan atau maksimal sebulan, dengan Bismilaahirrahmaanirrahiim persoalan kesejahteraan semua akan terentaskan. Tak perlu menunggu 30 tahun Indonesia bisa berdaya, sebagaimana resep 'kesejahteraan' yang ditawarkan Professor Muhammad Yunus dengan Banker to the Poor-nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap hari wujud kesejahteraan dan keadilan akan dirasakan merata pada setiap penduduk Indonesia. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin bisa dijembatani secara manusiawi. Dengan sumbangan itu, kita bahkan bisa urunan melunasi hutang negara ini. Tak perlu mengemis dan terjepit nista di ketiak negara pendonor lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya, karena iman akhirat kita, maka godaan korupsi tak akan mempan mampir di hati. Syukurnya lagi, Indonesia bisa gemah ripah loh jinawi. Terwujudlah baldatan thayyibatan wa rabbun ghafuur. Negeri pembuktian bangsa beriman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila Anda membutuhkan penguatan untuk uji praktik iman ini, maka saya kutipkan ayat Al Quran:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat&lt;/span&gt;, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berbuat baiklah kepada orang lain&lt;/span&gt;...”. (QS. Al Qashas : 77)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu&lt;/span&gt;. Dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung&lt;/span&gt;.” (QS. at-Taghabun : 16)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penting dipahami bahwa dalam iman materialisme, memberikan sesuatu kepada orang lain dianggap seperti kehilangan barang. Sehingga sering muncul penyakit pelit, eman dan enggan. Akibatnya hati kemaruk, harta dan rejekinya disimpan bertumpuk-tumpuk. Takut berkurang bila hendak menyumbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebalikannnya, menurut keyakinan spiritualisme, berderma dan bersedekah dapat dinikmati sebagai investasi yang akan dituai di akhriat nanti. Muncul rasa ingin terus memberi harta terbaik kepada yang membutuhkan. Tak takut berkorban, bahkan untuk kepemilikan yang paling dicintainya sekalipun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya&lt;/span&gt;. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Al Baqarah : 267)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi kita yang beriman dalam dan menganut spiritualisme, bersedekah tentu dilakukan dengan senang dan bersemangat serta memilih harta yang terbaik. Pengamalan uji praktik “Iman ABC”  adalah keniscayaan agar pengakuan iman secara lisan selaras dengan perilaku sehari-hari. Agar iman transendental berdampak pada wujud amal sosial yang horizontal. Kian tinggi iman kita, kian peduli dan semangat berbagi kita kepada sesama manusia. Keyakinan iman akhirat kita akan berdampak manfaat bagi fungsi sosial kehidupan di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai pembanding, silakan lihat kampanye Giving Pledge yang digalang Bill Gates di Amerika. Bersama sosialita, termasuk Warren Buffet &amp; Mark Zuckenberg, mereka bersepakat sedekah 80 % rejeki yang didapat untuk amal kepentingan umat. Kalau mereka saja bisa berani bertindak mulia begitu, mestinya kita yang ngaku beriman meneladani di depan, bukan? Nah, jika kita sepakat, Iman ABC bisa jadi uji praktik terbaik untuk perwujudan keadilan dan pemerataan kesejahteraan di Indonesia. Tinggal kita mau pilih yang mana? Iman A, B, atau C?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-2406446333500517527?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/2406446333500517527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=2406446333500517527' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2406446333500517527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2406446333500517527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/03/iman-abc-keadilan-kesejahteraan.html' title='Iman ABC, Keadilan Kesejahteraan'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-1399282832607608546</id><published>2011-03-17T21:55:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T12:01:34.910+07:00</updated><title type='text'>Diam Positif, Bicara Produktif</title><content type='html'>Tiga hari ini, saya dan beberapa rekan sedang mematangkan rencana pembuatan demplot  tanam padi pola SRI (System of Rice Intensification). Sederhananya, pola SRI ini akan menyediakan beras organik yang ramah alam, dengan ongkos tanam freemium dan harga jual premium.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diskusi SRI ini bermula dari wacana pemberdayaan dan kemandirian petani dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional. Melalui penyejahteraan petani inilah kita berharap Indonesia tetap kondusif, stabilitas terjaga, dan mandiri berswadaya menjalankan kenegaraannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, konsep ketahanan nasional dapat digerakkan melalui pendekatan keamanan (security) dan kesejahteraan (prosperity). Dengan asumsi itu, kita berharap jika petani sudah bertaraf sejahtera maka ketahanan pangan nasional akan aman terjaga. Selanjutnya ketahanan pangan akan mengefektifkan proses pelaksanaan ketahanan nasional.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara kondisi saat ini, ketahanan pangan kita masuk level “peringatan dini” sebagaimana dirilis berita sinartani.com kemarin, Rabu (16/3). Sebuah panggilan kedaruratan yang harus kita sikapi segera dan bersama-sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillaah rencana demplot SRI ini bertaut sambut. Banyak pihak menyatakan dukungan, termasuk Pak Rhenald Kasali, penulis buku Cracking Zone sekaligus pemilik “Rumah Perubahan”. Sebagai wujud nyata dukungannya, Pak Rhenald bahkan sudah pasti akan mengirimkan dua staf ahlinya untuk pendampingan praktik SRI bersama rekan-rekan petani di lokasi demplot yang saya tempati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di saat yang sama, seorang rekan pegiat lingkungan yang tinggal di Bali mengajak saya agar turut berkampanye Hari Hening Sedunia (World Silent Day). Kampanye WSD adalah bukti kepedulian dan kesadaran kita sebagai manusia yang wajib memahami betapa letih bumi ini dalam meramut penghuninya. Maka setiap tanggal 21 Maret, kegiatan Hari Hening Sedunia ini diperingati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama 4 jam di hari itu, kita disarankan diam dan 'menyepi' sejenak. Matikan peralatan listrik, kurangi aktifitas berkendaraan motor dan pemborosan sumberdaya alam lainnya. Tanamlah pohon, bersih-bersih sampah, bercerita, berkumpul bersama, bina hubungan dengan keluarga, rekan kerja, sahabat, tetangga dekat, atau buat kegiatan ramah lingkungan lainnya. Kampanye ini bertujuan memberikan kesempatan bumi agar dapat sejenak istirahat menghela nafas yang sudah sangat berat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wacana ketahanan pangan yang berlanjut ide-aksi SRI serta ajakan peduli lingkungan melalui kampanye WSD ini memiliki kesamaan asumsi: bicara hal-hal produktif atau diam merenungi hal-hal positif. Dalam konteks keIndonesiaan yang sekarang berproses menuju kedewasaan, pilihan “diam positif atau bicara produktif” patut dilaksanakan dan disegerakan. Setidaknya oleh kita yang berkomitmen dan percaya Indonesia dapat kembali pada cita-cita kemerdekaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di saat semua orang ribut adu mulut, biarlah kita diam dan tidak ikut-ikutan. Apalagi jika kita tidak mengetahui kejelasan persoalan, baiknya kita netral sambil terus bekerja saja. Ketika berbagai pihak saling tuding menyalahkan, kita afdol diam sambil membantu doa agar mereka dijauhkan dari hawa panas setan dan didekatkan pada aura sejuk kebenaran. Karena kalau masing-masing pihak sudah benar, tentu mereka akan rukun bersatu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti sekarang ini, isu dan kabar yang kita dengar setiap detik bergerak liar. Susah memilah mana yang bohong dan mana yang benar. Berita agitasi dan propaganda beriring tipis dengan warta asumsi dan kepastian fakta. Kalau tidak segera mawas dan bersikap cerdas, bangsa kita akan mudah dipecah belah melalui tayangan sinema berjudul “devide et empera”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka lewat tulisan ini saya ajak Anda semua untuk diam positif atau bicara produktif. Penting terutama ketika menanggapi berita yang tersaji hari-hari ini. Agar pikiran dan jasad tetap sehat, hindari ikut-ikutan berkomentar sembarangan. Tak elok bila kita ikut nimbrung bahas persoalan yang kita tidak jelas kebenarannya. Untuk alasan kenyamanan dan keamanan keluarga kita, sebaiknya diam atau baca wirid positif saja sambil terus produktif bekerja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau Anda ingin bicara, mari diskusi tentang SRI. Sumbangkan ide konstruktif dan kreatif Anda pada saya. Kita akan berbagi peduli dan memetakan potensi untuk penanggulangan ancaman ketahanan pangan yang sudah di depan mata ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur bila Anda mau terlibat langsung menyumbang peralatan, meminjamkan lahan atau jadi relawan saat proses pendampingan nanti. Saya sediakan alamat gusadhim@spmaa.or.id untuk menampung “bicara positif” Anda semua. Jadilah “Dewa SRI” dan “Dewi SRI” yang mengayomi kesejahteraan bangsa kita ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika Anda memilih diam, saya sangat menyarankan ikutilah kampanye World Silent Day 21 Maret, Senin esok. Mari sebentar menyepi dari mesin duniawi dan kembali berusaha menjadi manusia yang saling sapa dengan segenap indera perasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar mendiamkan pikiran agar muncul kearifan dan perenungan kebaikan. Mulut didiamkan agar panasnya suasana bisa sedikit reda. Peralatan diistirahatkan agar bumi mau mendingin lagi. Selanjutnya bila berkenan, tuliskan pengalaman renungan suci anda ke mysilent@worldsilentday.org&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekali lagi, mari diam positif atau bicara produktif. Selanjutnya agar kita tetap merasa bahwa semua yang kita lakukan bertanggungjawab kepada agama, bangsa dan negara di dunia sampai akhirat, maka saya pungkasi tulisan ini dengan petikan ayat:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. AL ISRA:36)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-1399282832607608546?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/1399282832607608546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=1399282832607608546' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/1399282832607608546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/1399282832607608546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/03/diam-positif-bicara-produktif_16.html' title='Diam Positif, Bicara Produktif'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-1190358046158935801</id><published>2011-03-11T12:00:00.000+07:00</published><updated>2011-03-23T11:03:49.269+07:00</updated><title type='text'>Tuhan Masih Bisa Dipercaya</title><content type='html'>“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah Anda ingat petikan tiga alinea itu? Jika masih hapal selengkapnya, maka bersyukurlah karena catatan sejarah Anda bagus nilainya. Bila agak-agak lupa, maka saya ingatkan lagi, petikan di atas adalah tiga alinea pertama teks “Pembukaan UUD 1945”.  Itulah modal sakral bangsa ini dalam mengawali cita-cita perjuangan kemerdekaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus alinea yang berhuruf tebal, tertulis disitu bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah menurunkan rahmatNYA sehingga rakyat Indonesia berani menyatakan merdeka dari penjajahan Jepang dan Belanda. Atas restu kasihNYA, saat itu Indonesia tetap kuat bersatu di tengah genting ancaman serdadu pendudukan dan ulah pengkhianatan. Alhamdulillaah, akhirnya Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, bertepatan saat bulan suci Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Anda, kita semua, saat ini memiliki keprihatinan yang sama. Sulit percaya bahwa kondisi bangsa akan segera pulih jika membaca berita elit politik yang hanya sibuk tarung. Pasrah dan apatis bila melihat kondisi masyarakat yang mudah tersinggung. Pimpinan rebutan kepentingan sendiri, rakyatnya jadi korban tidak dipeduli. Kata pepatah, “gajah lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kita ingin mutung massal saja. Karena toh setelah berharap lama, para pimpinan-pimpinan seolah menelantarkan kepercayaan yang kita titipkan. Hampir sejak reformasi bergulir, pimpinan silih berganti lahir, pengamat dan tokoh saut menyahut hadir, tapi selalu berujung cerita yang sama. Yakni kepercayan kita kepada mereka berakhir dengan rasa kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sontak kembali saya, Anda, kita semua disadarkan. Orang Indonesia yang beriman masih punya Tuhan. Petikan alinea ketiga pembukaan UUD 1945 menyiratkan pesan, bahwa  kepada Allah kita bisa percaya. Sejarah telah menuliskan, kemerdekaan republik ini diraih atas bantuan Rahmat Kasih KuasaNYA melalui doa dan ikhtiar perjuangan para pahlawan. Masih ada yang bisa dicoba. Masih ada yang bisa dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdoalah kepada-ku, maka akan aku perkenankan” (al-Mu’minun : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sambil terus kita menjaga asa dalam berusaha swadaya mengobati patologi bangsa ini, yakinilah dengan iringan kekuatan doa. Janji Allah telah berfirman, setiap permintaan dan kepercayaan yang kita titipkan, akan berbuah keterkabulan. Bagi kaum beriman, doa adalah senjata utama selain ikhitiar sabar terus-terusan tanpa jeda, tanpa putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu doa ikhtiarnya berproses waktu. Jangan berharap hanya dengan duduk komat-kamit di masjid lalu berharap ada keterkabulan kontan. Sudah diteladani sejarah, antara doa dan tiba ijabahnya, tidak tentu saat itu juga bak bak mantra sulapan abrakadabra. Bahkan kadang bisa berlangsung lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yakub 40 tahun baru bisa bertemu Yusuf puteranya. Nabi Adam puluhan tahun terpisah, baru bisa bertemu dengan Hawa, isterinya.  Nabi Ayyub 18 tahun baru dikabulkan doa kesembuhannya. Pangeran Diponegoro memulai doa dan usaha kemerdekaan Indonesia di era 1800-an, tapi secara formal Allah baru mengabulkan di tahun 1945. Semua doa butuh waktu pemenuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya ajak Anda, kita semua percaya kepadaNYA. Selanjutnya mari saling berkirim doa. Agar kita dikuatkan, dirukunkan, disehatkan, dicerdaskan, disatukan, disejahterakan dan dimulyakan sebagaimana fitrah manusia Indonesia. Mari percaya dan berdoa untuk bangsa kita, agama kita, dan negara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa yang dilakukan setiap saat, bukan hanya ketika sholat atau ritual-ritual yang formal berjadwal. Di setiap detik kita, di setiap aktifitas kita, di iring pekerjaan kantor kita, di awal rapat, di akhir musyawarah, di setiap inci ruang hati, di setiap hela nafas, berdoalah. InsyaAllah kebeningan hati kita semua akan menyatu pada kuasaNYA. Doa kita akan menjadi jembatan yang menyatukan jurang perbedaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” &lt;br /&gt;(QS. Al-A’raf : 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1000 Al Fatihah untuk petunjuk kebenaran pemimpin negeri ini. 1000 Al Ikhlas untuk keikhlasan kita semua. 1000 Al Falaq untuk mengatasi iri, benci, dendam, hasud dan dengki diantara kita semua. 1000 An-Naas untuk mengobati prasangka dan perasaan was-was. 1000 bacaan ayat Kursi dan akhir surat Al Baqoroh untuk sapu jagad pembersihan terapi penyakit akut bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah kepada Tuhan Yang Maha Mengabulkan. Inilah celah yang belum sering kita rambah. Kekuatan gabungan antara semangat, harapan, dan keberadaan Tuhan. Doakanlah kepada orang yang salah, doakanlah kepada pimpinan yang pongah, doakanlah agar bangsa ini tidak bubrah, doa, doa dan doa. Jangan tergesa dan  tetaplah khusnudzon kepadaNYA. Sembari itu usaha swadaya harus terus kita giatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw sendiri bersabda, “Tidak seorang lelakipun yang berdoa dengan suatu doa melainkan pasti akan dikabulkan. Bisa disegerakan di dunia atau disimpan untuk akhirat, atau diampuni dosanya sekadar dengan apa yang ia minta, selagi ia tidak meminta pada suatu hal yang dosa atau memutus tali silaturahim. Atau ia tergesa-gesa dengan berkata, “Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak dikabulkan”. (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi masih ada Tuhan yang bisa kita percaya dan kita mintai doa. Saya juga akan terus berdoa bersama suara kokok ayam jantan yang berbunyi berkal-kali setiap hari. Karena kata hadist, setiap ada suara kokok ayam jantar terdengar, saat itu ia melihat malaikat pembawa rahmat. Kita disarankan berdoa, “Ya Allah beri kami rahmat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berdoa dan mari saling berbagi efek positifnya. Kepada Allah, Tuhan Yang Kuasa, kita masih bisa menitipkan rasa percaya. InsyaAllah. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-1190358046158935801?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/1190358046158935801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=1190358046158935801' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/1190358046158935801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/1190358046158935801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/03/tuhan-masih-bisa-dipercaya.html' title='Tuhan Masih Bisa Dipercaya'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7932973078673016910</id><published>2011-03-03T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-03-04T07:29:35.092+07:00</updated><title type='text'>Adjie, Realitas dalam Mimpi</title><content type='html'>Sabtu pagi (5/2), saya bezuk saudara yang sedang sakit di rumahnya. Sudah lama saya tidak menonton televisi, sehingga abai saja ketika melihat  keponakan memindah-mindah kanal siaran. Tapi saya tertarik saat sepintas baca running text yang mengabarkan kematian Adjie Masaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya saya pikir itu hoax yang kerap tersaji akhir-akhir ini. Sekadar menutupi isu yang sedang berkembang.  Namun saudara saya itu mengkonfirmasi berita tersebut benar adanya. Inna Lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang Adjie Massaid, sosok muda yang energik dan berpostur atletik. Gelar Raden menandai namanya sebagai kerabat dekat kaum ningrat. Sebelum jadi politisi Senayan, ia adalah seorang peragawan sekaligus artis film kenamaan. Karirnya kian benderang saat menikahi Reza, diva dengan vokal serak menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian sempurna saja hidup Adjie manakala ia menikahi wanita kedua kalinya. Seorang yang  pernah dinobatkan sebagai wanita tersempurna se-nusantara melalui pemasangan mahkota “Puteri Indonesia”. Dialah, Angelina Sondakh. Pasangan pangeran gagah rupawan dengan puteri jelita turunan bangsawan. Apalagi mereka berdua dikaruniai pulung  sebagai politisi sejoli yang bernaung di parpol lingkar Istana. Betul-betul bak roman percintaan dalam legenda dongeng-dongeng impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sesaat lalu, mimpi itu berhenti. Kematian tiba-tiba datang membangunkan.  Adjie Massaid meninggal dunia bersama iringan tangis duka para keluarga dan sahabatnya. Ia kini sudah berada di alam barzah yang nyata adanya, setelah kemarin menjelajahi alam mimpi bernama dunia. Sungguh seperti mimpi saja, Mas Adjie yang kemarin masih ada, kini sudah tiada. Banyak kerabat maupun teman dekat yang masih merasa tak percaya dengan kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya kemudian menerawang ke INCEPTION, karya terbaru sineas cerdas Chris Nolan. Film besutan sutradara asal Inggris ini berpesan tentang realitas dalam mimpi. Sebuah fiksi ilmiah yang membedah misteri alam bawah sadar dan rancang bangun di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya mimpi, semua dimensi bangun, ruang dan waktu di dalamnya bisa dihadirkan secara nyata oleh tim cerdas pimpinan Dom Cobb (Leonardo Di Caprio) dengan bantuan mesin canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia INCEPTION, mimpi tersaji begitu nyata. Kita punya rumah, berkeluarga, berkarir, dan merasakan hidup sungguhan. Tapi sesaat setelah terbangun dari mimpi, semua kenyataan itu sirna tak berbekas. Kita bangun dari tidur dan kembali ke dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enaknya, dunia mimpi didesain ala game yang memiliki level berjenjang. Di mimpi pertama kita bisa masuk mimpi kedua. Dalam mimpi kedua kita bisa masuk level mimpi tiga. Begitu seterusnya. Makin tinggi level mimpi yang kita masuki, kian sulit jalan keluar yang kita temui. Kian rumit pula proses “bangun dari mimpi” dan banyaknya halangan dari peristiwa di dalam mimpi yang harus kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahayanya, semakin lama kita berdiam di dalam mimpi, kita bisa terperangkap di dalamnya. Apalagi bila sampai masuk ke tingkat mimpi yang lebih tinggi, maka kesadaran antara “dunia nyata dan dunia mimpi” bisa menjadi kabur. Sedangkan proses bangun dari mimpi hanya bisa ditempuh lewat tendangan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Anda, kita semua akan mengalami peristiwa serupa Mas Adjie.  Dipaksa bangun dari hunian mimpi duniawi ini menuju kehidupan nyata akhirat melalui kematian. Segala catatan amal kita akan jadi persaksian yang memberatkan atau meringankan tuntutan. Itu semua bergantung saat kita bernafas di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup di dunia ini, tak lain hanya kesenangan dan permainan. Sesungguhnya kampung akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya. Jika mereka mengetahui” (Q.S Al-Ankabut: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ajakan saya adalah segera saja kita sadari bahwa dunia ini mimpi dan yakini akhiratlah hidup nyata sesungguhnya. Selagi di sini, sedekahkan sebanyak-banyaknya harta dan kepemilikan kita untuk kepentingan bangsa, agama dan negara. Itu akan jadi bekal kita hidup nyata di akhirat selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung di dunia mimpi ini masih hidup, berikan permaafan dan saling asah-asih-asuh terhadap sesama manusia. Agar nanti saat terbangun di dunia nyata akhirat, kelakuan baik kita diganjar ampun ridhaNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi, mungkin setelah baca ini, kita akan segera menyusul Mas Adjie. Bangun dari dunia mimpi dan memulai hidup di dunia nyata melalui jalan kematian. Jika di INCEPTION, Chris Nolan melalui Dom Cobb bisa mengulang-ulang dan modifikasi desain mimpi sesuka hati, maka Allah sebagai sutradara mimpi duniawi ini hanya memberi kesempatan hanya sekali. Jadi, sebaiknya kita semua lebih super hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kita terjebak di dunia mimpi yang sementara ini. Memasuki mimpi duniawi ke level lebih rakus lagi hanya akan mempersulit kepulangan kita ke akhirat. Jangan sampai ketinggian obsesi di dunia ini membuat kita begitu terperanjat saat di kubur nanti. Karena baru sadar bahwa dunia kemarin kita cuma mimpi, dan saat di kubur semua itu hilang tiada berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertipu melakoni sesanti parodi “cilik royokan balung, gede royokan ulung”. Ketika balita rebutan tulang (mainan remeh temeh), ketika besar rebutan untung (politik, dagang, umat, fans, jabatan, dst). Apalagi sampai berantem gantian sewa demonstran, saling kirim somasi tuntutan, lempar makian di tipi-koran-internet dan Senayan, debat adu pamer kepintaran, dst.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh itu tak layak jika memperebutkan kursi kekuasaan dan bisnis keuntungan dengan tingkah “adigang-adigung-adimumpung”. Karena toh, sekali lagi kita harus sadari, ini cuma hiasan mimpi duniawi, Bung !&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7932973078673016910?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7932973078673016910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7932973078673016910' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7932973078673016910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7932973078673016910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/03/adjie-realitas-dalam-mimpi.html' title='Adjie, Realitas dalam Mimpi'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6950967994870583713</id><published>2011-02-24T08:27:00.000+07:00</published><updated>2011-03-04T07:27:33.838+07:00</updated><title type='text'>Malu, Bagian dari Indonesia</title><content type='html'>Taufiq Ismail sastrawan terkenal negeri ini pernah membuat puisi yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Kegundahan sebagai orang beriman dan sebagai bangsa beradab ia tumpahkan dalam rangkaian kalimat yang memotret fakta dengan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan kata-kata dalam bait puisinya seolah menempeleng kesadaran kita semua. Suasana hati yang disuarakannya seperti mewakili perasaan yang sama kita alami juga. Taufiq berhasil mengurai rasa malu sebagai refleksi anak negeri yang cinta sekaligus belasungkawa atas keadaan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Besar Jenderal Sudirman baru saja dioperasi dan harus kehilangan satu paru-parunya. Saat itu masa pemulihan yang mengharuskan beliau istirahat di rumahnya. Rasa kesakitan masih menyisakan deraan di sekujur badan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nalurinya sebagai prajurit Sapta Marga begitu kuat ingin cepat-cepat menyahuti panggilan pertiwi. Beliau tidak duduk saja ketika tahu agresi Belanda sudah mulai memasuki kota Jogja yang menjadi ibukota sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Sudirman dengan tertatih segera pamitan kepada Presiden Sukarno di Istana Gedung Agung. Presiden Sukarno berupaya mencegah karena rasa sayangnya, "Kang Mas sedang sakit, lebih baik tinggal di kota". Namun Sudirman gegas dan tegas menukas, "Yang sakit Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Panglima Sudirman pun memulai gerilya perjuangannya yang melegenda, melawan arogansi dan kepengecutan penjajah Belanda. Walau harus ditandu selama perjalanan karena ringkih sakitnya, Sudirman tak pernah menyerah. Turun gunung masuk hutan di sepanjang wilayah Jawa Tengan dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Sudirman mengajari kita tentang rasa malu, bila tanggungjawab besar harus terbengkalai oleh sebab yang bersifat pribadi dan kecil. Jenderal Sudirman dengan semangat keIndonesiannya meneladani bangsa ini tentang rasa malu bila harus 'mengasihani diri' dan lari bersembunyi dari amanat penderitaan rakyat. Malu jika anak buah berjuang dengan sengsara menderita, sementara pemimpin berleha-leha walau dengan alasan yang bisa diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari, Sunan Bonang melewati hutan Jatiwangi yang dikuasai Brandal Lokajaya. Begitu dekat nampaklah tongkat sang Sunan berkilau bagai emas di mata perompak. Saat itu juga tongkat milik Sunan itu direnggutnya dengan paksa. Sunan Bonang pun terjatuh. Sambil tertatih bangun, ia kemudian menangis. Brandal Lokajaya kasihan lalu mengembalikan tongkat sambil berkata, “Jangan menangis. Ini tongkatmu aku kembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Sunan menyahuti, “Bukan tongkat ini yang kutangisi,” sambil menunjukkan beberapa helai rumput di genggamannya. “Lihatlah ! Aku telah berbuat dosa, berbuat zalim dan menyakiti. Rumput ini tercabut ketika aku aku jatuh tersungkur tadi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa ?” Tanya Raden Said alias Lokajaya heran. “Ya, berdosa ! Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa !” jawab sang Sunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Sunan Bonang menangisi dosanya yang tak sengaja mencabut rumput kian relevan untuk direnungi hari-hari ini. Beliau mengajari kita tentang rasa malu berbuat dosa. Malu bila harus merampas hak hidup sesama hambaNYA. Malu dan sedih jika berposisi sebagai pihak yang kuat menzalimi pihak yang lemah dengan semena-mena. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu dan merasa dosa jika jadi orang besar lalu membunuh kehidupan orang kecil. Sunan Bonang mengajari kita 'rasa malu' bila sebagai manusia mulya hanya berebut 1 % kenikmatan dunia yang fana dan lupa derajar 99 % di akhirat yang baka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Ismail, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga adalah legenda Indonesia. Cerita dan ketokohan mereka beredar tenar di negeri ini. Puisi Taufiq sering dijadikan lagu karena kekuatan liriknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Sudirman kepada Presiden Sukarno itu kini terukir pada mural berlatar Sang Saka Merah Putih di Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama. Nama Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga dipilih menjadi nama universitas Islam negeri di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran dari para legenda itu adalah pentingnya memiliki rasa malu. Terutama jika kita hendak berbuat keliru. Bolehlah abai terhadap nilai agama atau keimanan, tapi jika bisa, sisakan sedikit rasa sungkan. Okelah jika nekad menerabas norma dan pagar budaya, tapi bila mungkin, sisihkan secuil rasa: Kita orang Indonesia yang terkenal adiluhung kewarasan akal budi dan urat malunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu lekat Indonesia dengan budaya malunya, sehingga pepatah menulis, “lebih baik putih tulang daripada putih mata”. Iyalah. Nenek moyang kita semua adalah para pejuang yang pantang berbuat curang. Sebagai ksatria, sangat malu dan lebih baik mati daripada harus tunduk kepada intervensi asing yang merendahkan nilai kebangsaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengklaim kebenaran, malu jika harus keukeuh menyembunyikan kesalahan dan enggan meminta ampunan hanya karena ingin mengawetkan kekuasaan, melanggengkan ketokohan. Sebagai bangsa besar, malu jika harus bertengkar karena kepentingan yang kecil. Sebagai negara petani, malu jika harus impor sembako setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malulah kita. Malulah Indonesia. Malulah wahai para pemimpin. Malulah rakyat semua. Malulah kalian setiap diri yang merasa dilahirkan ibu pertiwi. Malulah kita yang dikenal beradab tapi kini gemar bertingkah biadab. Malulah kita kaum beriman yang lupa mengarifi pesan, “malu sebagian dari iman”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tuding diri lain keliru dan dosa, tapi sesat kita sendiri luput mencatatnya. Malulah kita semua kepada para pendahulu yang rela perang berkorban jiwa raga, sementara kita malah sering ribut berantem karena minta enak dituruti nafsunya saja. Malulah kepada Raqib dan Atid yang senantiasa mengawasi dan merekam semua tingkah polah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan rasa malu adalah bagian dari ciri kearifan lokal dan keunggulan sosial budaya Indonesia. Terutama ketika hendak berbuat amoral, asosial, vandal, egosentris, chauvinis dan perilaku jahat yang merugikan kepentingan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap memelihara urat malu, kita akan bisa menempati derajat mulya seorang manusia (ahsani taqwim).Yakin, bangsa ini akan maju jika masih punya malu. Namun bila kita nekat mengabaikan rasa malu dan sungkan, silakan mengambil tempat diantara kumpulan para anggota hewan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6950967994870583713?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6950967994870583713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6950967994870583713' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6950967994870583713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6950967994870583713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/02/malu-bagian-dari-indonesia.html' title='Malu, Bagian dari Indonesia'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-8375056938509403045</id><published>2011-02-17T08:43:00.000+07:00</published><updated>2011-02-17T08:48:51.700+07:00</updated><title type='text'>Damaikan Bumi, Teladani Nabi</title><content type='html'>Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, sebagian umat Muslim memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Di Indonesia, peringatan itu jadi tradisi yang mewaris turun temurun. Banyak ragam kegiatan yang dilakukan masyarakat kita untuk memperingati kelahiran Sang Nabi. Diantaranya pengajian, khataman Al Quran, karnaval, sholawatan puji-pujian, gelar syukur jamuan makan, juga perlombaan, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua itu diniati ikhlas sebagai napak tilas jejak keteladanan Rasulullah. Dengan mengikuti keteladanan itu, tentu kita sebagai umatnya berharap syafaat dan pertolongan Rasulullah di hari kiamat. Baiklah kita kaji kembali apa saja perilaku Rasulullah yang perlu diteladani dari kutipan ayat Al Quran berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah” (Al-Ahzab: 21)&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafhum muwafaqoh dari ayat itu, bahwasanya tugas pokok fungsi penugasan Rasulullah di muka bumi adalah untuk diimani, diteladani dan diikuti. Maka beruntunglah orang yang bisa mengikuti beliau dan diakui sebagai umat beliau di akhirat nanti. Penting diketahui, hanya orang-orang terpilih saja dengan tiga ciri perilaku yang bisa meniru Rasulullah dan mendapat syafaat di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, senantiasa rindu dan selalu berharap bisa bertemu Allah. Bagi kita kaum beriman, kecintaan kepada Allah adalah mutlak. Rindu bertemu Allah merupakan manifestasi nyata dari ayat-ayat cintaNYA, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (QS. 2:165). Sebagaimana saat kita dilanda cinta, maka setiap saat rasanya diri ini rindu ingin bertemu dan dekat dengan seseorang yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bila kita yang mengaku beriman ini sudah bertemu dan dekat dengan Allah. Hilanglah sifat marah, dendam, benci, hasud, iri, riya, sombong, bohong, rakus harta, berebut pengikut, loba kedudukan dunia, dan penyakit hati lainnya. Kita akan teraliri energi positif sifat Allah Yang Maha Pengasih (ArRahman) dan Maha Penyayang (Arrahim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik hidup sehari-hari kita akan senantiasa diliputi rasa cinta dan sayang kepada sesama manusia. Pribadi kita berciri rendah hati dan ramah bumi. Bila ada orang lain yang menyakiti, jawaban kita adalah kalimat doa agar orang itu sadar kembali. “Apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63). Kalimat sanepan Jawa menyebutnya, “ngalah kasihane alah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku rendah hati dan anti benci ini juga diteladani para Nabi, terutama Rasulullah Muhammad yang kita peringati kelahirannya. Bila melihat orang lain tersesat, muncul rasa iba dan ingin membantunya. Bukan malah menjauhi, meneror, atau mengadili dengan tindakan vandal nan massal. Menyikapi orang berdosa seperti melihat bayi yang tercebur sumur. Tentu afdolnya menolong bayi itu dan bukan malah melemparinya dengan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Thaif, Rasulullah disakiti badan dan jiwanya. Sendirian beliau dikejar-kejar, diumpati makian, dilempari batu hingga badan luka berdarah. Tapi Rasulullah justeru membalasnya dengan kasih doa, “Ya Allah berilah petunjuk umatku itu. Mereka berlaku begitu karena tak tahu aku ini RasulMU”. Inilah manifestasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mahabbah&lt;/span&gt; yang sangat perlu ditiru. Nah, bagi kita yang mengaku pengikut Rasul terakhir itu, sudah sebegitukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri kedua, orang yang bisa meneladani Rasulullah adalah orang yang selalu rindu kampung halaman sejatinya, yakni akhirat. Ejawantah dari sifat rindu akhirat adalah segera bersiap bekal dengan cara bersedekah sebanyak-banyaknya. Bagi yang merasa aghniya' bisa memberdayakan yang duafa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kita yang awam dan jelata, sedekah tidak harus berbentuk harta atau benda-benda berharga. Cukuplah tenaga dan pikiran yang bisa kita sumbangkan. Berbuat baik dengan tindakan kecil yang bermanfaat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari pengetahuan dan keterampilan mereka yang susah sekolah. Swadaya kecil-kecilan menambal jalan yang berlobang. Membersihkan selokan yang mampet. Mendoakan para pimpinan supaya mereka cepat sadar jika berbuat tidak benar. Membacakan seratus surat Al Fatihah dan ayat-ayat taubat bagi rang-orang yang kita lihat sedang tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al Qashas:77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu menyarankan kita supaya mencari pahala akhirat. Selain dengan cara banyak-banyak bersedekah, kita bisa menyahutinya lewat perbuatan baik kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Terutama berbuat baik kepada orang yang kita anggap dosa dengan cara menyadarkannya, mendekatinya, mengingatkan dan mendoakan. Jauhi sifat merusak yang dapat merubuhkan nilai-nilai kerukunan dan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri ketiga, orang yang bisa meneladani Rasulullah adalah orang yang banyak dan senantiasa ingat Allah saat apapun, di manapun, dan kapanpun. Di saat bekerja, bersama keluarga, sedang istirahat, ketika susah maupun senang, waktu sempit dan lapang, selalu ingat Allah. Inilah wujud syahadat ilahiah, “amantu billaah”. Ingatan dan konsentrasi kita selalu terfokus kepadaNYA. Hanya Allah tambatan pikiran dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahayanya bila tidak ingat Allah adalah, kita akan jadi sekutu dengan syetan. "Barangsiapa yang berpaling dari ingatan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya" [Az Zukhruf : 36]. Karena berdekatan dengan syetan yang terbuat dari api, panaslah hati ini. Inginnya cuma marah, bernafsu destruktif, dan bisanya melihat dosa orang lain saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti sahihnya dapat kita lihat dari kasus kekerasan yang ngetrend akhir-akhir ini. Maka supaya kita tidak jadi korban sia-sia berikutnya, sering-seringlah ingat Allah. Buktikan kebenaran firman Al Quran, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d :28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, esensi peringatan milad Nabi adalah reinkarnasi dari perilaku dan teladan baik beliau itu. Khususnya bagi kita pengikut Rasulullah, sudah jadi keharusan bisa meraih tiga ciri orang yang bisa meneladani Rasul/Nabi. Visi kehidupan dan praktik sehar-hari para Nabi kita jadikan cermin pembanding sekaligus analisa benchmarking. Sudahkahkah kita bisa persis menirunya? ataukah kita cukup puas mengaku pengikut Rasulullah itu dengan syahadat lisan dan ritual kebiasaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga peringatan kelahiran Sang Nabi bukan sekadar perayaan keramaian, pembacaan dongeng-dongeng tahunan, atau lomba kenyang-kenyangan jamuan makan. Apalagi sampai  menukar kesakralan "muludan" yang bermakna kelahiran ulang dengan sanepan plesetan "mulutan" yang berarti muluk ketan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya hari ini kita beri kado milad Rasulullah dengan bingkisan kerukunan antar saudara sebangsa dan sesama penghuni bumi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-8375056938509403045?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/8375056938509403045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=8375056938509403045' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8375056938509403045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8375056938509403045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/02/damaikan-bumi-teladani-nabi.html' title='Damaikan Bumi, Teladani Nabi'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-2865250865053795719</id><published>2011-02-09T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-02-10T12:42:42.696+07:00</updated><title type='text'>Kepada Para Atasan &amp; Bawahan</title><content type='html'>Diceritakan Al Quran bahwa pada hari pengadilan akhirat nanti, banyak tersaji rekaman drama memilukan dan penyesalan umat manusia yang gagal amal. Satu diantara rekaman adegan itu adalah pertengkaran antara kaum rendahan dengan pimpinan yang terbukti kemudian menyesatkan. Pengikut atau bawahan yang merasa disesatkan kemudian mengutuki  pemimpin atau atasan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (Ibrahim : 21)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar." (QS. AL AHZAB:67-68). &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada beberapa ayat serupa yang menceritakan tukar padu pimpinan-bawahan itu. Sayangnya peristiwa itu terjadi di akhirat yang sudah sangat terlambat dimana tiada kesempatan perbaikan dan tiada lagi pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pimpinan tak dapat memberi suaka dan syafaat. Bawahan hanya bisa menyesal dan mengumpat. Pada akhirnya, pimpinan-bawahan tersebut bernasib sama: divonis siksa dan dibuang ke neraka. Mereka terpaksa menerima hukuman karena salah  menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar peristiwa itu tak terjadi nanti, maka saya ingin menyampaikan dua tuntutan melalui tulisan ini. Kepada sampeyan para atasan atau pimpinan dan kepada sampeyan para pengikut atau bawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pimpinan, sudahilah perlombaan “klaim kebenaran” yang hanya bertujuan memperbesar jumlah jamaah. Hentikan ambisi duniawi “atas nama tuhan” sampeyan yang ternyata mentok berebut banyak-banyakan pengikut.  Jangan jadikan umat sampeyan itu seperti kerumunan ayam aduan yang siap dilagakan.  Jangan posisikan kaum awam itu saling berbenturan karena membela fanatisme paham parsial sampeyan.  Jangan manfaatkan taklid dan keawaman mereka untuk mengenyangkan syahwat sesaat dan hasrat sesat sampeyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh sampeyan harus bertanggungjawab penuh terhadap nasib mereka di dunia dan akhiratnya. Pada contoh sederhana, tahukah sampeyan berapa orang diantara ratusan pengikut sampeyan yang tidak bisa makan hari ini? Pernahkah menyuapi makan mereka sebagai bukti kasih peduli dan wujud tanggungjawab sosial di dunia? Sudahkah sampeyan menengok jamaah sampeyan yang sakit hari ini, jika sampeyan ingin meneladani akhlak kepemimpinan Nabi? Beranikah sampeyan menanggung-lunasi hutang mereka ini bila wafat nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika di kehidupan dunia saja sampeyan tidak bisa menanggungjawab kebutuhan mereka, maka sebaiknya tak perlu nekat memimpin umat. Jika belum bisa peduli nasib mereka hingga memperhatikan detil persoalan mereka yang kecil, tak usah ngaku benar dulu. Karena bagaimana sampeyan akan menolong mereka di akhirat, sedang mempedulikan nasib mereka di dunia saja tidak bisa??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih baik saya sarankan sampeyan memimpin keluarga. Berhasil memimpin keluarga sholat jamaah fardhu 5 waktu secara rutin saja, itu sudah luar biasa. Apalagi jika bisa menyelamat-sejahterakan keluarga akhirat dunia-nya, tentu lebih hebat lagi. Sekali lagi saya minta, jangan narsis menggalang pengikut bila mengelola keluarga saja masih sering salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada para pengikut atau bawahan, mulai sekarang teliti kembali pimpinan yang sampeyan imani.  Jangan bergegas kagum hanya karena mereka sering ceramah di tivi. Jangan mudah percaya hanya karena figur pimpinan yang dicitrakan baik dan alim oleh media. Jangan tertipu sosok yang seolah berwibawa ketika beraksi di atas mimbarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengenali ciri pemimpin berakhlak Nabi tidaklah sekadar samai etnis kesukuannya atau urut nasab keturunannya. Cerdaslah memilih dengan tidak asal mengikuti orang terkenal.  Mengikuti pemimpin jangan hanya karena mereka berderajat ningrat, bergelar pengamat, berpendidikan hebat, berpengikut jutaan umat, atau penghafal ribuat ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampeyan harus buktikan sendiri keteladanan mereka dengan aturan agama, bangsa dan negara. Nyatakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Rumah dan kendaraan mewah ataukah sesederhana milik Nabi? Kepedulian mereka terhadap umat apakah seperti Nabi? Apakah dakwah mereka minta upah umatnya atau justeru menyedekahi pengikutnya? Apakah mereka lebih sering menangis prihatin mengingat nasib umatnya ataukah lebih banyak tertawa menikmati kemewahan bersama keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah pemimpin itu rajin muhasabah menginsafi dosanya sendiri ataukah lebih banyak  marah-marah mengomentari dosa kelompok lainnya? Bagaimana pengelolaan keluarga mereka? Akhlaknya cinta dunia ataukah bisa seimbang dan lebih mendahulukan akhiratnya? Beranikah pemipin sampeyan itu mengorbankan kepemilikan yang paling dicintainya? Sekali lagi, bila ciri pemimpin itu belum bisa mendekati teladan Nabi, sebaiknya tak usah diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cocokkan iman dan pengakuan dengan Al Quran.  Ingatlah, bahwa setan dan jin sekalipun bisa membentuk keyakinan di hati yang seolah-olah itu benar adanya. Untuk antisipasi keliru itu, jadikan kisah-kisah teladan kerasulan dan orang shalih sebagai satu-satunya standar ukuran kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepemimpinan dan keikutsertaan dalam sebuah jamaah keyakinan akan sangat menentukan nasib sampeyan. Di dunia, sampeyan tak akan mudah dibentur-benturkan para spekulan penjual politik kepentingan sebagaimana tragedi amuk massa yang marak belakangan ini. Di akhirat, sampeyan tidak akan mengalami sesal seperti diceritakan Al Quran di awal tulisan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-2865250865053795719?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/2865250865053795719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=2865250865053795719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2865250865053795719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2865250865053795719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/02/kepada-para-atasan-bawahan.html' title='Kepada Para Atasan &amp; Bawahan'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-8319259414984507492</id><published>2011-02-03T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-02-03T08:37:47.237+07:00</updated><title type='text'>Diskusi Bawah Tanah</title><content type='html'>Yang berkuasa ingin awet menduduki kursinya. Yang belum kebagian kekuasaan grusa-grusu ingin segera merasakan.  Si kaya kian bernafsu menambah harta bendanya. Si miskin makin terpacu agar bisa cepat kaya. Penjahat tersenyum bangga memamerkan keahlian dan koleksi jarahannya. Aparat turut bersiasat menikmati hasil kerja sang penjahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh agama mulai kehilangan tugas penggembalaan. Umat jadi bingung karena kehilangan figur teladan. Pemerintah dijadikan ajang pelampiasan kekesalan. Masyarakat menyukai tabiat saling umpat. Media menggelar palagan sekaligus sirkus tontonan politik adu jangkrik. Dan kita sering terjebak latah memihak hanya berdasar asumsi 'suka atau tidak'.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ada baiknya kita semua jeda sementara. Beristirahat dari kesibukan ambisi yang tiada henti. Sebentar lesehan menyandarkan badan. Mengendurkan emosi dan ruhani yang dibiasakan ketegangan. Mendiamkan sejenak pikiran yang ngelunjak karena ketagihan dikipasi mimpi. Membebaskan diri dari belenggu nafsu yang memaksa kita selalu terburu dan kerap kehilangan perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ajak Anda semua bicara tentang dahsyatnya peristiwa yang akan segera tiba. Fakta kejadian yang pasti dialami oleh semua manusia. Drama elegi yang harus dijalani setiap diri: Mati. Itulah  realita yang mudah-mudahan menyadarkan kita tentang tujuan dan makna kehidupan. Ya, kita semua akan dipanggil pulang ke awal muasal, yakni tanah. Manusia dibuat dari tanah liat dan ke dalam tanah itu juga manusia akan dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah semenit saja kita diskusi tentang situasi bawah tanah. Merenungi kabar dari kubur sebagai pengendali aktifitas kita. Apapun agama kita, sebagus apapun rupa kita, selancar apapun karir kita, sebanyak apapun harta kita, sekuat apapun kekuasaan kita, sebaik apapun perilaku kita, serendah apapun derajat lahir kita, tak peduli pejabat atau rakyat, status penjahat atau sosialita terhormat, tak peduli lansia atau balita, pria atau wanita, semuanya pasti berakhir tiada. Cepat atau lambat, jasad kita akan dikubur di bawah tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh bagus yang sering kita elus. Rambut yang kita sisir rapi setiap hari. Kaki yang kita sepatui. Wajah yang biasa kita hiasi. Tangan yang selalu kita bersihkan. Badan yang kita taburi wewangian. Pucuk helai rambut kepala hingga ujung kuku jari kaki yang rajin kita sabuni. Sesosok sempurna yang kita bajui. Sebentar lagi semuanya akan terkulai sepi di peti mati. Pada akhirnya, kisah indah itu akan ditutup rapat dalam lembaran kain kafan. Selanjutnya kita hanya bisa diam menunggu kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah prosesi penguburan, kisah kita berlanjut dalam tanah yang basah. Mulut membisu dan tubuh terbujur kaku. Sendirian tak ada teman. Terkurung gelap di ruang 1x2 meter yang pengap. Jasad kita terikat liang lahat. Hilang sudah fasilitas bebas yang kita nikmati di dunia. Tak bisa lagi kita berontak atau sekedar berteriak. Kerabat dan pengikut tak dapat mendengar kabar. Tiada tempat suaka yang bisa kita mintai bantuan. Tinggallah seonggok daging ini dalam penjara bawah tanah berdimensi alam barzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita mulai rasakan kondisi ngeri. Cacing-cacing berkelindan dengan tak sopan menyesaki rongga mulut kita. Semut berkerubut ganas menggigiti rongga telinga, hidung, pusar dan anus kita. Ratusan kelabang menari-nari dari ujung jari kaki hingga kepala kita. Ribuan belatung mengulat dari usus yang meletus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kubur tak seekor binatangpun yang sudi menghormati. Mereka berpesta dengan bebasnya menjambak, menginjak, mengiris, mengeroyok, melahap dan menjarah setiap inci kulit ini. Tak berguna lagi kekayaan, jabatan, fasilitas, kehormatan, dan kepemilikan yang di dunia kita banggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya warna kulit kita berubah hitam legam. Perlahan tubuh kita merekah. Sesaat otot kita meledak dan pecah. Menyengat bau busuk dari badan yang diurai tanah. Bola mata kita muncrat dan meleleh dari cangkangnya. Hidung kita tanggal dari tempatnya. Persendian kita terputus dari tempurungnya. Daging kita terlepas dari tulang. Setelah tubuh dikunyah-kunyah tanah, hanya tersisa tengkorak kita yang mengerikan bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah situasi kita di bawah tanah nantinya. Bagi orang bernalar waras, peristiwa kubur akan menjadi renungan yang mencerdaskan. Bahwa sesungguhnya peristiwa kematian seorang manusia adalah lebih besar dari persitiwa apapun di dunia ini, lebih dahsyat, lebih heboh, lebih menyedot perhatian, lebih butuh diprioritaskan, lebih layak dikhawatirkan, harus lebih sering dipikirkan, dan lebih penting untuk dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi bawah tanah ini merupakan renungan asasi tentang diri dan kemanusian. Betapa ramainya manusia saat ini berlomba mengejar keinginannya, toh akan berhenti di kubur juga. Keniscayaan yang tak terbantahkan. Boleh saja Anda tak percaya adanya surga dan neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan bila kita memilih jadi atheis dan menafikan keberadaan Tuhan. Tapi mati dan peristiwa kubur ini, Anda harus menerimanya sebagai fakta. Semenit lagi, usah membaca tulisan ini, sore nanti, besok pagi, lusa esok hari, minggu depan, beberapa tahun lagi, kita pasti merasakan mati dan masuk kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang hari-hari ini berambisi rebutan politik kekuasaan dan berlomba nikmat di dunia saja, kendalikan liar nafsu Anda dengan renungan ini. Sehingga nantinya mata batin kita tidak dibutakan oleh syahwat sesaat dan hasrat sesat yang fana adanya. Kesadaran tentang mati dan kubur akan mengantarkan kita pada penginsafan kesalahan diri sendiri, bersemangat taubat dan tidak mudah mengomentari dosa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengejar kebaikan, jadikan diskusi tentang mati dan kondisi badan kita di bawah tanah sebagai pengganda semangat. Karena hanya amal kebaikan yang nanti bisa memberi terang dan suaka saat gelap tanah kubur mengasari wajah kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-8319259414984507492?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/8319259414984507492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=8319259414984507492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8319259414984507492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8319259414984507492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/02/diskusi-bawah-tanah.html' title='Diskusi Bawah Tanah'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7133637634857081470</id><published>2011-01-27T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:32:29.559+07:00</updated><title type='text'>Crop Circle &amp; Creative Citizen</title><content type='html'>Lingkaran tanaman (dari bahasa Inggris crop circles) adalah suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman, seringkali hanya dalam waktu semalam. Fenomena ini pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir 1970, dengan bentuk pola-pola lingkaran sederhana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada masa-masa setelahnya, pola-pola tersebut kini cenderung bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada bentuk lingkaran. Namun karena mengacu pada asal-usulnya, maka istilah lingkaran tanaman ini masih dipertahankan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Indonesia, fenomena crop circle menjadi berita utama media pekan-pekan ini. Televisi, internet, radio dan koran turut serta menyemarakkan. Dari sebuah petak sawah nan sunyi di kawasan Kabupaten Sleman, kemunculan lingkaran tanaman riuh mengundang pemberitaan, rasa penasaran sekaligus lingkaran perdebatan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beragam teori keilmuan, bumbu penyedap cerita dan komentar berseliweran. Mulai dari prediksi ahli astronomi LAPAN, diskusi di forum internet, unggah foto crop circle  plesetan di situs jejaring pertemanan, obrolan penghuni warung kopi, pendapat akademisi, hingga terawangan  klenik koplak Ki-Pas-Anginan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi saya, biarlah keabsahan dan bukti ilmiah crop circle  buatan Sleman itu menjadi domain para ahlinya. Saya serahkan sepenuhnya itu kepada mereka. Apakah ulah UFO atau karya manusia, wallaahu a'lam  saya percaya Tuhan pasti tahu kebenarannya. Yang jelas, para pembuat crop circle  tentu punya daya kreasi dan imajinasi cipta luar biasa. Atas ulah usil nan fenomenal mereka, ijinkan saya menjulukinya dengan sebutan “warga kreatif” atau Creative Citizen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Betapapun, seandainya pembuat crop circle ini terbukti UFO atau makhluk luar bumi, tetaplah mereka warga negara angkasa yang kudu disambut selayaknya tetangga dunia. Apalagi dengan kehadiran fenomena crop circle, pengetahuan manusia kian bertambah. Setidaknya kita mau berselancar ke wikipedia, tanya kanan-kiri, dan atau buka-buka mesin pencari untuk menemukan jawabnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pikiran kita mulai terbuka dan sedikit percaya bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni kolong langit ini. Lumayan, kita tidak perlu ngintip  lewat teropong Hubble atau ngekos di stasiun NASA untuk memata-matai keberadaan UFO dan misteri luar angkasa. Orang Indonesia tak usah menghayal jadi kosmonot yang berbiaya mahal untuk sekadar tahu dan titip salam kenal buat alien bernama ET alias extra terrestrial. Cukuplah kita datang sendirian ke Sleman, dan rekam jejak UFO menunggu di situ.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh sebuah perilaku creative citizen ala UFO yang menginspirasi keingintahuan dan mencerdaskan wawasan. Mereka, warga atau pejabat UFO itu, tak perlu menipu mark up  anggaran untuk alasan peningkatan kualitas pendidikan. Walau sedikit merusak padi pak tani, setidaknya UFO juga tak perlu membabat jutaan hektar hutan untuk alibi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi. Teladan kreatif warga negara luar angkasa yang mulia, bukan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika diduga crop circle itu ulah segelintir manusia iseng yang cari sensasi, justeru ini perlu diapresiasi sebagai creative citizent  yang mbarokahi. Betapa tidak? Tindakan mereka yang diawali keisengan tak dinyana malah mendatangkan kesejahteraan buat banyak orang. Crop circle berarti berkah jualan bagi tukang gorengan, penjual minuman, juru parkir, tukang dongeng, tukang ojeg, juru poto keliling, pemilik lahan, pemandu wisatawan, loper koran, jagongan wartawan, dan kaum ardzalun lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan pemilik konglomerasi media yang sudah kaya dan para sosialita pun ikut kecipratan rejekinya. Media bertambah stok lapak jualan berita, sedangkan sosialita berkesempatan menaikkan rating  nama dengan komentar sak nyemplungnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Crop circle made by creative citizen itu sensasi beritanya jauh lebih bermutu daripada curhat keluhan, tayang pencitraan, dan politik dizalimi melulu. Karya kreatif sekelompok warga ini enak dilihat dan lebih manis legit dibanding ulah segerombolan elit yang kerjanya cangkrukan datang, duduk, debat, diakhiri “damai” dum-duman duit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buat saya rakyat jelata, crop circle juga menawarkan solusi perekonomian “pasar kagetan” yang riil dan menguntungkan dibanding jualan bursa saham yang fluktuatif angin-anginan karena rentan dimainkan seenak udel  spekulan. Terpenting lagi, crop circle ini wujud etos kreasi warga Indonesia yang lebih layak diangkati topi daripada karya moral pembesar negeri yang sudah bergaji tinggi tapi kedonyan ingin nambah upah dan mimpi naik gaji setiap hari. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk penikmat teori konspirasi, silakan crop circle ini dimaknai sebagai pengalihan isu dari fakta kejahatan agung yang sedang berlangsung. Sayang memang, jika konspirasi itu betul adanya, kecerdasan creative citizen bukannya disalurkan ke perilaku bermanfaat. Tapi malah digunakan untuk kepentingan sepihak yang merugikan rakyat banyak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saking kreatifnya, maling pun bisa melintas “berkoordinasi” melenggang bebas seenaknya dari penjara yang penuh penjaga bersenjata. Hukum dibalik, orang jahat dielu sebagai orang baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun saya khusnudzon  saja. Justeru fenomena crop circle inilah bukti asli kecerdasan creative citizen  khas manusia Indonesia. Karena lama tertempa berbagai rintangan kesulitan, daya kreatifitasnya terlatih menemukan jalan kemudahan. Karena pandai bersiasat di tengah situasi kesempitan, otaknya peka mendeteksi potensi kelapangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkinkah ini yang jadi alasan kenapa UFO nekat mendaratkan pesawat di rimbun persawahan Sleman? Apakah mereka hendak studi banding peradaban yang lebih canggih dan belajar norma etika kepada manusia Indonesia? Sekali lagi wallaahu a'lam bi showab sambil berharap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan saya sederhana saja. Jika pembaca terinspirasi crop circle made by creative citizen dan berniat menirunya, janganlah menggebyah tanaman gabah di sawah. Karena itu dapat merusak ketahanan pangan. Apalagi jika itu sawah itu milik tetangga orang lain yang kita obrak-abrik tanpa ijin, bisa-bisa kita dicarok karena merebut jatah perutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buatlah crop circle di pekarangan rumah. Jika tak cukup punya lahan, bolehlah iuran bareng tetangga kiri kanan. Selanjutnya pasang iklan, getok tular, undang kabar pakai pelantang agar orang berkerumun datang. Hubungi Polisi untuk ijin keramaian supaya aman dan tidak dituduh penipuan. Jangan lupa bayar lunasi pajak hiburan disertai doa keprihatinan supaya tidak digelapkan. Setidaknya, anda sudah turut berupaya membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus mengatasi pengangguran akut di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7133637634857081470?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7133637634857081470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7133637634857081470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7133637634857081470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7133637634857081470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/crop-circle-creative-citizen.html' title='Crop Circle &amp; Creative Citizen'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6902265130999410305</id><published>2011-01-20T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:14:44.823+07:00</updated><title type='text'>Untung Ada Akhirat</title><content type='html'>Ketidakpuasan karena keterbatasan merupakan ciri khas kehidupan di dunia. Sebanyak apapun kekayaan, sesehat ruh badan, segaul apapun penampilan, senikmat apapun makanan, setinggi apapun harapan, senyaman apapun hunian, seenak apapun kendaraan, sebagus apapun fisik pasangan, setenteram apapun kekeluargaan, sebebas-bebasnya perbuatan, sekuat apapun kekuasaan, tetap saja akan terasa ada yang kurang. Selalu saja muncul sifat fana duniawi yang membatasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kekayaan mustahil memiliki seluruh bumi. Ganteng dan cantik masih berbau pesing kalau pas kencing. Kesehatan pasti diselingi jeda sakit. Makanan dibatasi ruang perut yang kenyang. Harapan pasti ada yang tak kesampaian. Kendaraan akan aus dan usang. Pasangan kian tua usia, keriput kulitnya dan pasti akan uzur kebagusan fisiknya. Tenteram damai berkeluarga pasti direnggangkan oleh waktu. Perbuatan apapun pasti ada hentinya. Sesenang-senangnya perassaan, pasti ada rasa bosan.Kekuasaan sering diliputi rasa khawatir pemakzulan dan pengkhianatan. Kalaupun sampai awet beberapa lama nikmat-nikmat itu, tetap saja ada keniscayaan mati yang akan menghalangi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untunglah Allah dengan kearifanNYA menyediakan akhirat buat manusia. Sebuah kehidupan lanjutan yang bercirikan keserbabolehan, kebebasan dan kekekalan. Sebuah fase sejarah antitesa dari fakta duniawi yang terikat dimensi ruang, waktu dan materi.  Allah tahu sifat manusia yang ingin puas, bebas, merdeka, dan berkehendak enak selamanya. Semua keinginan manusia itu tak dapat terpenuhi di dunia sehingga untuk itulah Allah membuat akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau saja kita semua menyadari sifat kekekalan dan keserbabolehan akhirat ini, niscaya akan gandrung berusaha meraihnya. Terus bersemangat fokus menyiapkan akhirat dengan tetap menghidupi dunia secara sahaja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak usah kemaruk menumpuk fulus di dunia ini sehingga sampai sedemikian rendahnya menjual moral dan nilai kemulyaan diri. Tak perlu berebut menjadi markus hanya untuk memperkaya diri sampai harus menukar iman dengan segepok materi. Tak kan terjadi kasus Pak Gayus yang sekarang ini membuat heboh seluruh negeri melalui pemberitaan internet, koran, radio dan televisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibaratnya anak kecil di desa yang belum bekerja ketika mendapat hadiah uang seribu rupiah, tentu ia akan menerimanya dengan perasaan girang bukan kepalang. Karena buat anak kecil itu, nilai seribu rupiah sudah sangat besar artinya. Tapi buat kita para dewasa yang sudah bekerja dan tinggal di kota, uang seribu rupiah itu tentu kita terima dengan biasa, bahkan kadang menampik karena merasa terlalu kecil nominalnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah perumpamaan dunia dan akhirat. Buat orang yang imannya masih kecil, melihat merasakan kenikmatan dunia tentu ia akan senang dan saling berebut. Bila perlu adu jotos dan saling sikut. Persis seperti perumpamaan anak kecil yang diberi seribu rupiah tadi. Tapi buat kita yang imannya sudah dewasa, segala fasilitas pemberian Allah di dunia akan kita terima dengan biasa saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak perlu cakar-cakaran dan saling menjatuhkan hanya karena kemaruk meraih popularitas, materi, kekuasaan, jabatan, dan kenikmatan dunia. Karena kita tahu dunia ini 1 % nilai nominalnya dibandingkan derajat akhirat yang 99 % besarannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengingat akhirat tidak berarti melupakan dunia. Zuhud bukan berarti malas bekerja. Optimis akhirat bukan berarti pesimis dunia. Kita tetap berusaha keras dan bekerja giat selama di dunia. Hasil kerja itu yang kita tasarufkan untuk kebersamaan. Kebutuhan pribadi dan keluarga di dunia kita cukupi secara sederhana saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nikmat hasil pekerjaan serta kesenangan dunia yang hanya 1 % ini, biarlah kita sedekahkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan agama, bangsa dan negara. Dari sedekah sebanyak-banyaknya  itulah, nanti akan berbunga 99 % berupa ganjaran dan derajat berlipat di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah yang disebut investasi penanaman modal akhirat (PMA). Ad-dunya mazroatul akhiroh. Semakin banyak kita menanam bibit amal sosial di dunia, maka akan semakin besar panen pahala yang akan kita tuai di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena kita tahu akhirat lebih menjanjikan dan lebih membanggakan dibanding dunia, maka fokus tujuan kita akan kesana. Efek positifnya, kita akan terhindar dari sifat rakus harta, kemaruk kuasa, doyan dosa dan perbuatan nista lainnya yang diakibatkan cinta dunia berlebihan. Efek positifnya lagi, kita akan gemar bersedekah dan tidak eman mengorbankan kepemilikan yang paling kita cintai untuk kebutuhan pencerdasan dan penyejahteraan umat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi para pemimpin agama, penegak hukum dan aparatur negara, kepercayaan akan adanya akhirat akan berimbas positif pada pelaksanaan tupoksinya. Yakinlah apa yang kita lakukan di dunia pasti akan dimintai pertanggunggugat di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika berfikir mendasar seperti itu, tentu kita menghindari perilaku korupsi, kolusi, mempermainkan nasib orang dan perbuatan zalim lainnya. Maka bersabarlah kalian wahai pemimpin agama, pemimpin bangsa, penegak hukum dan aparatur negara. Jangan berebut nikmat dunia yang secuil ini, apalagi sampai nekad mengimami jamaah korupsi !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengarusutamaan akhirat akan memupuk kejujuran dan etos kerja yang bersemangat ikhlas. Pelayanan sebagai abdi masyarakat dilaksanakan tanpa paksaaan, bebas tipu-tipu dan atau pungutan tanpa aturan. Ganjaran berlipat di akhirat jauh lebih mengekalkan dan membahagiakan daripada rebutan korupsi di dunia yang berujung malu sekeluarga, masuk penjara, dan dicap penjahat oleh masyarakat. Keuntungan investasi sedekah untuk akhirat akan membangun kolektifitas tim dan penghematan anggaran besar-besaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para pencari keadilan dunia yang selama ini sudah pupus asa, berbesar hatilah dan bersabarlah. Karena masih untung ada akhirat buat kita memimpikan harapan. Di sanalah keadilan dan kepastian hukum akan berlaku sesungguhnya. Kita bisa menuntut sekaligus sebagai jaksa dan memperoleh keadilan sebenar-benarnya. Para malaikat akan menjadi saksi dan Allah sebagai ketua hakim tertinggi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi peminat kebebasan, kepuasan dan kesenangan, songsonglah akhirat dengan bersemangat. Di sanalah kita bisa bebas, puas, senang, bahagia, bangga, kuat, cantik, kaya, dan hidup selamanya. Hidup terus muda, asuransi jiwa all risk anti semuanya, kesenangan tanpa bosan, hati  bersih dari dendam, steril dari suara makian, kendaraan kelas premium tanpa takut BBM kehabisan, pendamping yang anti aging, rumah dari cahaya berdinding air bening, kekayaan sepuluh langit dan bumi, jika kurang masih bisa nambah lagi. Semua harta itu dibebaskan dari kewajiban bayar pajak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh akhirat jauh lebih baik dan baka daripada dunia. Wa lal-aakhirotu khoirun laka minal uulaa. Masa depan akhirat itu peruntukannya buat kita semua, kaum beriman yang dewasa pemikirannya. Tentu kita harus menunggu hingga tiba waktu esok itu. Butuh kesabaran luar biasa, pengorbanan harta-pikiran-tenaga, kekuatan mental, investasi amal sosial, dan energi ekstra selama di dunia ini agar janji Allah 99 % di akhirat bisa kita nikmati selepas wafat nanti. wal aakhirotu khairun wa abqaa. inna haadzaa lafi suhufil uulaa suhufi ibraahiima wa muusaa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6902265130999410305?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6902265130999410305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6902265130999410305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6902265130999410305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6902265130999410305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/ketidakpuasan-karena-keterbatasan.html' title='Untung Ada Akhirat'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3467406044910426732</id><published>2011-01-14T07:03:00.000+07:00</published><updated>2011-01-31T06:47:03.870+07:00</updated><title type='text'>Kalau Semua Ingin Kaya</title><content type='html'>Gampang kabujuk nafsu angkoro (mudah terbujuk nafsu angkara)&lt;br /&gt;ing pepaese gebyare dunyo (terpesona perhiasan gebyar dunia)&lt;br /&gt;iri lan meri sugihe tonggo (iri dan kepingin kekayaan tetangga)&lt;br /&gt;mulo atine peteng lan nisto (maka hatinya gelap dan nista)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Empat larik penggalan lirik di atas terambil dari kidung Syi'ir Tanpo Waton Gus Dur yang bisa kita unduh di situs YouTube. Bahasanya sederhana dengan susunan rima a-a-a-a. Walau sederhana, namun petikan lagu itu seperti memotret secara presisi fakta terkini kondisi agama, bangsa dan negara yang kita hadapi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nafsu angkara mengamuk siapa saja. Bagaikan bom tandan yang menarget sasaran tanpa secuilpun menyisakan kehidupan. Hulu ledaknya menyebarkan radiasi pesona harta dunia dan racun berupa kilauan kekuasaan.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Yang awam kian dibutakan, yang paham ikut ketularan. Mengikuti cucuk lampah lakon pagelaran di babak akhir jaman. Semua berebutan, bingung, sibuk, panik, adu kuat saling bertubrukan karena takut tidak kebagian. Keadaan umat saat ini, “koyo gabah diinteri,” kata sanepan Jayabaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah kalau semua ingin kaya di dunia. Karena standar kaya tidak mengenal batas sampai berapa jumlah yang dimauinya. Kapan berhenti untuk jadi kaya, tidak pasti ukurannya. Sehingga perburuan materi dan ambisi berlangsung tanpa ujung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika punya uang seratus ribu, pasti ingin memiliki sejuta. Sudah jadi orang terkaya seIndonesia, nafsunya ingin nambah lima benua. Begitu seterusnya. Muncul sifat tamak dan loba. Sifat jahat ini bermutasi jadi embrio penyakit korupsi yang akut berkelindan menyelimuti negeri ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Seandainya seseorang itu mempunyai satu lembah dari emas niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah (ia tidak akan merasa puas terhadap dunia ini sebelum mati) Dan Allah akan senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat“. (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia, biasanya muncul sifat pelit dan eman. Karena proses usaha menuju kaya kudu mematuhi prinsip asasi ekonomi, “mengeluarkan sesedikit mungkin, mendapatkan sebanyak mungkin”. Dalam tahap ini, penumpukan modal adalah keniscayaan. Aset harus dijaga awet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sifat pelit cenderung dipelihara untuk menyeimbangkan neraca. Sedekah sesempatnya dan sepantasnya saja. Pada level yang sedikit lumayan, cukuplah zakat profesi 2.5 % per tahun sebagai bukti keimanan. Muncul perasaan eman jika semuanya hendak dikorbankan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah dari kodrati sifat manusia itu pelit (QS. 4:128), diperparah bisikan setan yang menakut-nakuti miskin (QS. 2:168) jika hendak bersedekah. Nafsu syaithaniyah lebih dominan menguasai nurani basyariyah. Kian pelitlah manusia. Makin engganlah bersedekah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau dulu ketika punya 300 rupiah, mampu sedekah 200 rupiah dengan ikhlas dan mudah. Tapi saat bertambah 300 ribu, mulai muncul perasaan eman memberikan 200 ribu. Apalagi nanti bila punya 300 juta? mau sedekah 200 juta, pasti makin eman lagi !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia, jadinya saling sikut berebut. Karena untuk mencapai derajat kaya, hukum kompetisi berlaku pasti. Iklim persaingan harus ketat, hegemoni dan monopoli dipegangi kuat. Disiplin dagang menyepakati “Untung besarlah aku, rugi bangkrutlah kamu”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan itu berlaku diantara sesama penganut agama. Keniscayaan makhluk ekonomi memaksa pemberlakuan hukum rimba. Siapa kuat, dia dapat. Naluri hewani mengalahkan fitrah manusiawi. “Homo homini lupus,” kata Plautus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia itu meniru teladan siapa? Rasulullah, ulul azmi, empat sahabat dikisahkan hidup dalam kesederhanaan. Bila diukur jaman sekarang, hidup beliau-beliau itu cenderung di bawah garis kemiskinan. Tidak ada satupun Rasul dan Nabi yang berkeadaan kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Nabi Yusuf, Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman tidak memiliki properti pribadi. Fasilitas beliau-beliau yang ditafsirkan sebagai “kekayaan” oleh sejarawan, itu merupakan aset negara/kerajaan. Sedangkan hidup sehari-hari beliau sangatlah sederhana dan bersahaja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiada satupun ayat maupun hadis yang menganjurkan agar kita kaya. Karena ambisi kaya dan berkuasa itu secara naluriah sudah ada pada manusia. Itu adalah animal instinct  yang dibundel sepaket saat kita diciptakan olehNYA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itulah agama dihadirkan untuk memberikan rambu-rambu dan rem pengendalian. Silakan pelajari lagi ayat-ayat suci. Justeru banyak sekali firman AlQuran yang mewanti-wanti bahwa harta itu sumber fitnah dan musuh manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah menguburkan para sahabat yang wafat pada perang Uhud, Rasulullah berkata: "Saya tidak takut kamu akan kembali menyembah Tuhan yang lain selain ALLAH; tetapi saya takut kamu akan saling membunuh karena kamu memperebutkan dunia ini (harta atau kekuasaan)!" (Shahih Bukhari, Kitab 23 no 428). Sebuah peringatan bahaya dari Rasulullah Guru Waskita yang justeru disikapi terbalik oleh umatnya, kita semua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia dengan dalih “nanti setelah kaya rutinitas ibadah akan bertambah tenang”, itu cuma ilusi. Lihatlah kisah Tsa'labah di masa Rasulullah dan Qarun di era Nabi Musa. Mereka berdua awalnya sahabat dekat Rasulullah, imannya kuat dan ibadahnya taat. Tapi ketika dianugerahi kekayaan, mereka justeru menjauh dan berbalik menjadi musuh. Naudzubillaah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Klaim bahwa dengan menjadi kaya, pamor Islam akan naik juga mengingkari fakta dan sejarah. Fakta betapa kaya negara dan penguasa di Timur Tengah sana tapi ironisnya bargaining position Islam di percaturan dunia justeru nyungsep hingga titik nadir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah kejayaan Islam yang membuat kagum para raja lain adalah karena hari-hari kehidupan Rasulullah dan sahabat yang sahaja. Sementara keruntuhan dan perpecahan Islam justeru datang ketika kekayaan, gemerlap istana, dan kemasyhuran meliputi penguasa Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ingat juga, nafsu berebut kekayaanlah yang menyebabkan kekalahan pasukan Rasulullah di medan Uhud. Setelah sebelumnya diawali kemenangan meyakinkan, penjaga bukit melakukan insubordinasi perintah komandan. Kemenangan yang didapat pun luput dari tangan, pasukan lari kalang kabut meninggalkan banyak korban. Gara-garanya, matanya silau ijo lalu hatinya serakah terpikat ghanimah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia, maka biasanya godaan kekuasaan dan materi ikut meramaikan. Kekayaan berselingkuh dengan ambisi kekuasaan, kloplah sudah. Lahirlah anak haram bernama “rejim tatanan dholim”. Kebohongan dibiasakan. Hukum dijungkirbalikkan. Doa dan ayat suci dijadikan komoditi. Pertikaian dan adu koboi dijadikan hobi. Maksiat dan tingkah laku sesat justeru digemari masyarakat. Kebenaran dibias-tafsirkan sesuai kepentingan pemesan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia, lalu siapa yang ingin dan rela menjalani peran miskin? Padahal sunnatullah hidup di dunia ini harus ada keseimbangan dengan kehadiran unsur keduanya. Takdir kaya miskin sudah ditetapkan olehNYA. Sehingga ketika kita semua ngotot berebut pingin kaya di dunia, bukankah itu sama dengan melawan kepastian-Nya?.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidakkah kita mau belajar dari kisah Nabi Sulaiman? tentang sifat sahaja sekawanan hewan yang tidak silau tergoda kekayaan (lihat surat An Naml). Ya, semut yang kecil itu menggurui kita yang besar ini tentang perilaku sabar neriman senajan pas-pasan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya di dunia, silakan saja. Tetapi Nabi mewanti-wanti akan ada syarat &amp; ketentuan yang berlaku di akhirat bagi orang yang memilih kaya di dunia. Misalnya tentang proses hisab. Rasulullah mengabarkan bahwa orang kaya yang seandainya ditakdirkan menghuni surga, prosesnya akan sangat lama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang-orang miskin akan masuk surga terlebih dahulu daripada orang-orang kaya karena mereka tidak memiliki sesuatu untuk dihisab. Selisih waktu antara keduanya adalah 40 tahun. (HR. Muslim). Karena orang kaya harus diaudit dulu penggunaan dan pertanggunjawaban hartanya di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau semua ingin kaya, itu adalah hak dan pilihan kita. Allah memberikan pembolehan penuh terhadap hal ini. Tentukan hak dan pilihan itu. Mengambil hak kaya raya di akhirat selamanya sesuai fitrah manusia dengan cara hidup sederhana di dunia ini?, ataukah memilih ingin kaya di dunia yang sementara dengan resiko bernasib seperti Qarun yang mati kelojotan ditelan bumi?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3467406044910426732?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3467406044910426732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3467406044910426732' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3467406044910426732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3467406044910426732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/kalau-semua-ingin-kaya.html' title='Kalau Semua Ingin Kaya'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-879871480555973968</id><published>2011-01-06T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-02-17T22:14:38.905+07:00</updated><title type='text'>Energi AI di Awal Masehi</title><content type='html'>Digerojok kabar media dan fakta dunia yang sering menciderai akal sehat, badan dan ruhani kita seperti dibanting-banting sakit. Kuping ini jadi gatal, mata pedih, jiwa perih, isi otak penuh sesak, dan mulut seolah ingin berontak berteriak. Kesadaran nurani dilemahkan pementasan parodi dan ironi setiap hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ditambah persoalan dapur rumah tangga dan karir pekerjaan kita. Harga kebutuhan sehari-hari naik surplus, sementara pendapatan tetap bahkan kadang turun minus. Pekerjaan ruwet menumpuk bersenyawa angin pagebluk dan deru debu kalabendu. Jaman ini terasa sangat menyiksa, berat dan pahit untuk dilalui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi itu semua adalah perjalanan tahun kemarin. Memory catatan keluh 2010 yang harus ditinggal jauh. Sedangkan saat ini kita sudah memasuki pertengahan Hijri dan mengawali Masehi. Saatnya menjelajah potensi syukur yang berlimpah, memulai arung mimpi indah nan mardhatillaah, desain rencana pencapaian baru menuju takdir akhir yang lebih bermutu. Merujuk kata gaul yang kini digemari: Resolusi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, kali ini saya tawarkan kepada Anda sebuah resolusi Appreciative Inquiry atau biasa disebut AI (baca: a-i) saja. AI yang dikembangkan oleh David L. Cooperrider sejak 1980 ini layak kita praktikkan agar terbentuk energi perubahan positif yang ajeg berkelanjutan. Pada akhirnya sukses dan syukur akan selalu menjadi bagian dari siklus kehidupan kita semua. Janji Allah, “la-in syakartum la-azidannakum”. Jika bersyukur, maka Allah akan menambah karuniaNYA kepada kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah pertama adalah menemukenali potensi positif dan sumber syukur yang banyak berlimpah di sekitar kita. Rasakan organ-organ tubuh kita yang sehat sebagai potensi sugesti. Jadikan itu placebo effect yang membantu meredakan sakit badan dan mengurangi nyeri hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangsang semangat melayani umat dengan kisah-kisah sukses dan pengalaman membersyukurkan. Segarkan hari-hari dengan memulai sholat tahajjud dini hari, sholat duha di pagi hari, serta dzikrullah bersama penghuni langit dan bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sholat ismul muadzom dengan cara tafakkur alam dapat membuka aura positif dan memunculkan prana dari jiwa kita. Al Quran yang berisi kabar penghiburan dari Allah adalah obat penenang hati sekaligus penyeimbang berita sampah duniawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pot bekas atau pekarangan dapat dijadikan lahan menanam cabe dan sayuran sekaligus fungsi penghijauan.Gowes bersepeda ke tempat kerja harus dicoba. Gunakan perangkat lunak berbasis F/OSS yang murah, mudah, dan sah sebagai alternatif piranti proprietary yang harganya tak terbeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan itu sebagai siasat sehat dan kiat hemat menyikapi mahalnya ongkos kebutuhan. Sebuah cara elegan memberi pelajaran para preman spekulan yang hobi mempermainkan demand.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jelajahi lebih banyak lagi sumber syukur di sekitar kita dengan cara mardhatillah, sederhana, dan murah. Temu kenali potensi positif itu sebagai penyemangat perubahan menuju kebaikan. Melajulah sendirian, bersama keluarga, batih kerabat, atau sahabat-sahabat yang bersemangat. Jangan lupakan potensi positif yang menggenangi jagad, Dzul Quwwatil Matin, Gusti Allah Yang Maha Kuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah kedua menayangkan mimpi-mimpi kita. Silakan gantung impian setinggi langit dengan pijakan kaki tetap membumi. Pada level keluarga, meluas ke lingkup Indonesia, hingga menggapai mimpi tertinggi, yakni kehidupan abadi setelah wafat nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang melewati batas dimensi ruang, waktu dan materi. Mimpi meraja, bersenang-senang, berkebebasan, berbangga, berbahagia, bermewah-mewah, berpuas, muda, kaya raya, dan berderajat mulya bersama keluarga di akhirat selamanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mimpi akhirat akan berdampak manfaat sosial di dunia. Jika mimpi hunian megah di akhirat, bangunkan rumah ibu-ibu janda telantar dan lansia yang papa di dunia. Jika ingin mobil mewah di akhirat, perbaikilah jalan umum dan atau jembatan yang telah rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bermimpi kenyang di akhirat, hibahkan makanan yang kita sukai di dunia ini kepada fakir miskin, yatim dan para tahanan yang kekurangan. Jika mimpi jadi sosialita di akhirat, rehablah gedung pendidikan dan atau fasilitas umum yang lapuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seterusnya lanjutkan daftar mimpi itu hingga kita semangat dan sumringah untuk bersedekah. Mimpi yang senantiasa terjaga dalam shirat mustaqimNYA hingga kita senang berbagi cinta sesama manusia. Ketinggian mimpi yang melahirkan sikap kerendahan hati dan perilaku ramah bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah ketiga adalah mendesain rencana dan strategi perubahan positif ke depan. Tebar dan luaskan jejaring. Semua manusia adalah saudara sekaligus potensi yang bisa dirangkul. Gunakan Blue Ocean Strategy (BOS) yang membuat kompetitor tidak lagi relevan dibandingkan. Ingatlah, kompetitor sekaligus musuh ghaib kita adalah setan yang beroperasi di dalam hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan positif yang harus kita kembangkan adalah, “berapa banyak lagi saudara manusia yang dapat kukenalkan Allah secara mendekat dan mendasar?”; “Kiat sukses manakah yang kutempuh agar manusia tahu musuh ghaib setan dan selamat dari bisikan jahatnya “Media apakah yang kugunakan untuk mengarusutamakan penanaman keyakinan dunia akhirat?”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika strategi positif ini yang dipakai, maka tumbuhlah cinta kasih, saling berbagi, berjejaring melindungi dan berkembang rasa sayang diantara kita. Kepentingan kelompok dan ego duniawi akan gugur sendiri. Hukum pengadilan akhirat menjadi tumpuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh dampak terkecil, kita menulis status di situs jejaring sosial isinya adalah motivasi penuh wirai. Bukan sekadar takut dituntut ancaman UU ITE, tetapi karena lebih menghargai firman Allah, “sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan kutikan hati akan dimintai pertanggungan jawab”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langkah keempat adalah target pencapaian akhir. Semua tahapan mulai penjelajahan, gelar mimpi hingga strategi desain perubahan diarahkan menuju final ideal, yakni hadiah ampunan dan ridho Allah seluas langit bumi di akhirat. Itulah prestasi terbaik yang harus bisa kita capai.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ampunan dan ridho itu adalah hasil revolusi cara pandang. Mengembangkan paradigma baru tentang prestasi pencapaian. Kata Bapa Guru, "Banting setir. Ganti kasetmu." Jika saat ini ramai rebutan kursi capres, kita ganti lari meraih ridho ampunan Allah. Bila mayoritas manusia mengejar kenikmatan sementara 1 % di dunia, kita fokus menggapai kesuksesan selamanya berupa derajat 99 % di akhirat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Turn around&lt;/span&gt;, begitulah istilah Rhenald Kasali dalam bukunya, "Re-Code Change Your DNA". Bebaskan diri kita dari belenggu-belenggu kebiasaan umum yang sering keliru itu. Berbalik arah dari nilai kebiasaan yang diusung manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sekarang kebutuhan dunia begitu dipikirkan dan menjadi arus utama, maka kita balik segera sekarang juga. Bahwa kebutuhan akhirat lebih pantas menduduki prioritas arus utama dan difokuskan persiapannya. Sekali lagi, itu semua berujung pada target raihan ridho dan ampunan Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya ampunan dan ridho Allah yang dapat menyelamatkan kita dari epidemi pagebluk dan episode kalabendu saat ini. Raihan ampunan dan iringan ridho Allah akan membangkitkan ion positif di sekujur badan dan pikiran. Agama, bangsa dan negara akan beriringan membangun saling menguatkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;InsyaAllah Indonesia kembali menemukan kejayaannya. Berangkat dari keyakinan “dibalik kesulitan pasti ada kemudahan”. Inna ma'al usri yusro. Berpositif pikiran, bersinergi potensi, berpadu kekuatan, berangkul seduluran, kita segerakan Indonesia menjadi mercusuar dan teladan dunia. Bismillah kita insafi masa lalu sambil menyanyikan energi positif semangat baru AI..AI.AI..Aishiteru.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-879871480555973968?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/879871480555973968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=879871480555973968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/879871480555973968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/879871480555973968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/energi-ai-di-awal-masehi.html' title='Energi AI di Awal Masehi'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3138956549696619538</id><published>2010-12-30T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T07:13:09.916+07:00</updated><title type='text'>Misi Penebusan Dosa</title><content type='html'>Baru beberapa waktu lalu kita mengawali penanggalan Hijri dan hari ini kita akan mengakhiri kalender Masehi. Tentu banyak rekam jejak bernilai plus dan minus yang sudah kita kerjakan. Seiring bertambahnya waktu, usia, dan tanggungjawab yang kita emban, makin padat pula catatan perbuatan ruh dan badan. Semuanya itu akan dimintai keterangan oleh Gusti Allah Kang Murbing Dumadi, sesaat setelah kita akan memasuki kubur sebentar lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat di atas cocok kita gunakan sebagai refleksi akhir tahun ini. Secara lugas Allah telah memerintahkan agar manusia segera berlomba menuju ampunanNYA dengan imbalan surga seluas langit bumi. Catat, bahwa penekanan perintah terdapat pada kalimat “saari'uu” atau bersegeralah. Allah tentu memiliki jawaban kenapa kita diperintah berburu ampunan dan bukannya diminta menumpuk materi atau modal kesementaraan duniawi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, tiada seorangpun di muka bumi ini yang setiap hari tanpa dosa. Tak terkecuali penulis pribadi dan pembaca semuanya. Saat menggunakan mata sehat ini untuk membaca, lalu kita lupa bersyukur, dosa. Saat duduk kita gunakan engsel persendian di lutut dengan enak tanpa sakit, kita luput bersyukur, itu dosa. Kita buka-buka halaman koran memakai engsel persendian jari, pergelangan tangan, sendi siku dan bahu tanpa rasa ngilu, lalu tiada bersyukur, itu sudah dosa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seluruh anggota tubuh dan ruh yang kita manfaatkan dengan gratis ini wajib disyukuri. Lupa syukur berarti kita kufur (cek QS. 14:7; QS. 2:152). Bila berani mengaku jujur, pada bab syukur saja kita sudah terlibat banyak dosa kufur. Yakni ingkar dan melupakan kenikmatan yang telah Tuhan berikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fakta ini hampir terjadi setiap hari dan melibat kepada semua pribadi umat, apapun agama kepercayaannya. Jika tidak ditaubati segera, makin hari dosa itu kian bertambah saja. Ancaman hukuman siksanya tentu makin berat di alam kubur dan akhirat. Karena itulah Allah menyeru manusia untuk bersegera menuju kasih ampunanNYA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, dosa setiap manusia selain bertambah setiap hari, macam ragamnya juga banyak dan bervariasi. Selain dosa kurang syukur, dosa lainnya sebanyak pasir di pantai bertumpuk setinggi langit. Dosa karena tidak ingat Allah, lupa persiapan bekal kehidupan akhirat, dosa karena lebih cinta uang dan barang-barang daripada Allah, dosa sombong, bohong, marah, dendam, iri, hasud, dengki, pamrih, riya', ujub, dosa meremehkan orang lain, mementingkan pribadi dan keluarga saja, membicarakan aib orang lain, dst. Semua itu nanti tertuntut dan berakibat hukuman di hadapan pengadilan Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beruntunglah, Allah dengan prerogatif kasihNYA memberikan kesempatan penebusan dosa selama kita masih hidup di dunia. Karena bila dosa yang super banyak dan bermacam-macamnya itu tidak dicicil dengan tangis taubat segera, dosa itu akan bertambah sehingga menutupi jiwa dan nurani. Ruang hati menjadi gelap sehingga sinar iman dan petunjuk tak bisa masuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih fatal lagi, karena gelap hati sehingga kita tidak tahu dosa pribadi dan pandai mencela kesalahan orang lain. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Maka terjadilah fenomena carut-marutnya Indonesia saat ini karena hanya pandai mengoreksi kesalahan orang lain dan luput meneliti dosa sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, masa hidup kita di dunia  sangat singkat. Rata-rata usia kita hanya antara 60-90 tahun saja. Ada mati yang membatasi. Itu berarti tenggat penebusan dosa selama masih ada kesempatan di dunia ini berhimpitan dengan takdir mati. Seperti berburu dengan waktu. Susahnya, kita tidak diberitahu kapan mati itu tiba, kapan masa penebusan dosa itu berakhir deadline-nya. Makanya Allah menekankan perintah pada kalimat “bersegeralah”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum dosa-dosa itu kian menghebat merusak kesehatan ruh dan jasad, sebelum masa tenggat itu lewat, sebelum jatuh kepastian wafat, senyampang masih ada jasad dikandung hayat, selagi Allah masih memberi kesempatan bertaubat, bersegeralah dan lakukan cepat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena sepanjang waktu kita menyicil ampunan itu, dosa-dosa yang lain kerap menghampiri lagi tanpa bisa kita deteksi. Makanya kita harus segerakan memulai misi pertaubatan ini dan jangan ditunda lagi. Kalau tidak ditaubati sekarang juga, siapa yang menjamin 1 menit lagi kita masih ada di dunia ini?? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat, para Rasul teladan hidup kita semua telah memberikan contoh bahwa penebusan dosa dan pertaubatan mengejar ampunan Tuhan adalah satu keharusan. Lihatlah Rasul Adam a.s moyang kita semua mengaku dzalim dan menangis-taubati dosanya seperti dikisahkan dalam QS. 7:23. Rasul Yunus a.s. mengaku dzalim dan berdoa taubat atas kekurangsabarannya menggembala umat (QS. 21:87). Rasul Musa a.s. juga mengaku dzalim dan meminta ampunan sebagaimana tersebut di QS. 28:16.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad SAW pernah sholat semalam suntuk sambil menangis hanya karena beberapa saat tidak ingat keberadaan Allah. Peristiwa ini yang menjadi asbabun nuzul  wahyu QS. 3:190-191. Di dalam hadis, beliau juga dikisahkan mengucap doa taubat seratus kali setiap hari. Sekali lagi dari teladan para Rasul ini, kita menemukan urgensi perintah saari'uu ilaa maghfirah dan bersegeralah !. Kalau tidak bercepat-cepat taubat, mau ditunda sampai kapan lagi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beliau-beliau Rasul yang maksum dan dijaga olehNYA saja, masih terkena dosa dan mau bertaubat. Alangkah congkak dan bebalnya diri kita yang berderajat manusia biasa, jika tak mau mengaku dosa dan enggan bersegera menuju ampunan. Betapa naif dan sombong bila kita merasa selalu merasa baik saja. Sungguh tak layak jika kita hanya bisa meneliti kesalahan orang lain dan luput mencari dosa sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah sucikah kita? Bebas dosakah kita? Bernilai maksumkah kita? Kenyang pahalakah kita? Tentu kita setuju bahwa kita tak lebih baik kesalehannya dari Rasul itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertaubatan dan misi penebusan dosa selayaknya kita lakukan sekarang juga. Dimulai dari diri sendiri lalu mengajak keluarga semua. Jangan menimpakan dosa diri kepada orang lain untuk dimintakan tebusan. Karena dosa adalah konsekwensi diri. Akibat perbuatannya tidak bisa dititipkan dan tanggungjawab tuntutannya tidak bisa diwakilkan. Dosa adalah properti pribadi dan bersifat nafsi-nafsi. Wa laa taziru waazirotu wizro ukhroo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dosa itu harus ditangis taubati dan kita tebus sendiri. Setiap desah nafas kita iringi doa taubat. Tangis taubat itulah yang kita harap mampu menghadirkan syafaat kelak di akhirat. Doa pemintaan ampunan setiap hari itulah sebagai wasilah penebus dosa kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain dengan tangisan, untuk menebus dosa kita kudu memperbanyak amal saleh, menahan amarah dan memaafkan orang yang bersalah. Istighfar dan  berdoalah di setiap aktifitas kita. Lakukan secara pribadi di mihrab hati yang khusyu'  dan hanya berdua denganNYA. Bukan dengan cara istighosah politisi  rame-rame geleng kepala di bawah sorotan kamera. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Misi penebusan dosa akan berdampak signifikan bagi bangsa ini ke depan. Selain menghindari ancaman disintegrasi dan pertikaian berkelanjutan, bulir air mata taubat akan menjaga ruhani tetap sehat. Pribadi akan wirai dan rendah hati. Semuanya saling mempersilakan, bukan malah saling berebutan minta posisi di depan. Yang paling penting, tumbuh kesadaran menginsafi dosa pribadi dan waspada muslihat musuh ghaib setan yang suka mengadu domba antar kita semua anak manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3138956549696619538?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3138956549696619538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3138956549696619538' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3138956549696619538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3138956549696619538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/12/misi-penebusan-dosa.html' title='Misi Penebusan Dosa'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7725683088403418696</id><published>2010-12-23T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T07:20:45.813+07:00</updated><title type='text'>Ibuku Sarah, Maria, Khadijah, Masyrifah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MqfvcrWH3Ns/TT9oyfHTNeI/AAAAAAAAALA/DBBR2hlQJV4/s1600/ibukuabiku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MqfvcrWH3Ns/TT9oyfHTNeI/AAAAAAAAALA/DBBR2hlQJV4/s320/ibukuabiku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566282881008088546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkenalkan ibu saya, Ibu Guru Hj. Masyrifah, seorang wanita perkasa di jaman ini. Beliau menyabung nyawa untuk proses kelahiranku bersama sepuluh bersaudara. Dari sentuhan kasih perjuangannya bersama sang suami sejak 1961, telah mentas ribuan anak dan keluarga yang bermasalah secara sosial kemudian dirawat, dibesarkan, dididik, dan dimandirikan sebagai manusia seutuhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini di komplek asrama pesantren yang sahaja, beliau mukim bersama lima ratusan santri dari usia balita hingga lanjut usia. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan beragam masalah sosial yang menimpa: anak telantar, para janda, korban kekerasan rumah tangga, eks napi, survivor traumatis, gelandangan psikotik, penyandang cacat, fakir miskin, dan lanjut usia terasing dari keluarganya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka semua yang masuk kategori 8 asnaf itu diasuh oleh ibuku dengan pendidikan dan kasih kekeluargaan sebagaimana beliau menyayangi putera-puteri sendiri. Semua pelayanan tanpa memungut pembiayaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak kecil ibuku mengajari kami indahnya berbagi dan keniscayaan sebuah pengorbanan dalam meraih derajat kebaikan. Aku ingat saat kelas satu sekolah dasar dulu, suatu siang dipanggil beliau lalu diperkenalkan dengan seseorang ibu. “Gus, ini Umi Nuriyati. Saudaraku sekaligus ibumu,” kata ibuku sambil tersenyum tulus. Sejak itu, aku resmi memiliki dua ibu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tahun setelahnya, baru ibuku cerita bahwa beliau yang mengambil inisiatif keputusan bermadu itu. Beliau ingin meringankan tugasnya sebagai ibu dan isteri yang harus selalu kuat mendampingi suami. Caranya dengan merelakan kedudukannya dibagi bersama isteri yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibuku sekaligus mendidik kami sejak dini tentang keikhlasan memberikan sesuatu yang paling kita cintai demi perjuangan agama dan meraih ridhoNYA. “Aku ingin meniru sifat dewasa Ibu Sarah yang dengan ikhlas melamar Hajar untuk berbagi cinta sejati bersama Ibrahim kekasih ilahi,” kata beliau. Ibuku sedewasa Sarah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seringkali ibuku ditinggal pergi tugas oleh Abi dalam rentang yang lama. Dengan bersemangat dan tanpa mengeluh, ibuku membesarkan kami semua. Terutama saat awal-awal perjuangan, Abi sempat diamankan selama empat bulan dalam tahanan karena fitnahan oknum tokoh agama yang hasud. Selama Abi ditahan itu, Ibuku hanya ditemani seorang mbah lansia wanita yang kini telah tiada. Teror, intimidasi, makian, hingga ancaman pembunuhan menjadi menu ibuku sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ditekan keadaan dan resistensi yang demikian, Ibuku senantiasa memotivasi dirinya dengan tangis penghiburan, “Aku belum tentu bisa setegar Hajar yang ditinggal sendirian di tengah padang pasir bersama si kecil Ismail. Sedangkan aku masih punya kawan berbagi di sini.” Beliau meneladani Ibu Hajar dalam kesetiaan bersuami, kesabaran ber-survival, keterampilan parenting skill sekaligus pelopor single parent. Ibuku setegar Hajar, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami ingin membangunkan rumah untuk tempat istirahat yang layak, tapi ibuku menolak. Beliau lebih memilih tinggal di perumahan komplek asrama yang mulai lapuk dimakan usia. Buat ibuku, itu sudah jauh melebihi standar perumahan Ibu Khadijah r.a., ummul mukminin ibu ideologis dan teladan kita semua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu Sayyidah Khadijah hingga wafat menghuni tenda pengungsian yang darurat. Jika aku menempati rumah melebihi Ibu Khadijah itu, bagaimana tuntutanku nanti di akhirat?. Cukuplah doaku seperti doa Ibu Asiyah yang minta dibangunkan rumah surga disisiNYA,” kata beliau. Aku menangis haru mendengar penuturannya. Ibuku sesahaja Khadijah, sesederhana Asiyah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang pengorbanan dan konsistensi perjuangan, ibuku selalu mendongengi kami dengan epos kepahlawanan Ibu Masyitah. Dengan iringan lagu “Tukang Suri” yang nggegirisi ati, beliau ingin kami sekeluarga bersama-sama berjuang hingga wafat jelang kemenangan tiba, yakni di akhirat nanti. Lirik patriotik itu masih terngiang di telinga kami. “Ibu Masyitah pahlawan puteri. Mbelo agomo direwangi mati...” Ibuku biasa menyanyikan lagu itu sambil membelai rambut kami dengan linang air mata doa. Kami pun ikut menangis teringatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat kami semua merasa letih lahir batin karena beratnya perjuangan, ibuku selalu menguati, “Nak, kita ini belum apa-apa dibanding kisah Ibu Masyitah yang menceburkan diri dalam panas air belanga bersama keluarganya demi konsistensi beragama.” ujar beliau. Ibuku setabah Masyitah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;April 2005, ibuku berangkat ke Aceh menyusul kelima puteranya yang bekerja sebagai relawan. Selama satu bulan, ibuku berkeliling Banda Aceh, Calang, Meulaboh, Nagan Raya hingga Aceh Utara. Membagi bantuan, menghibur para janda, menguati mental mbah-mbah lansia, menginap di tenda pengungsian bersama anak-anak dan wanita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di 19 jam perjalanan laut antara Banda Aceh Meulaboh, hari itu 16 April. Sambil berpegangan di bibir perahu motor yang kecil, beliau berkata lirih, “Gus, hari ini ulang tahun pernikahanku dengan Abi.” Ibu mengenang tersenyum, sementara aku menangis terkagum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu ibuku melanjutkan, “Aku belum apa-apa dibanding Ibu Maria. Beliau (yang dipanggi Bunda Maria oleh saudara kita dari Nasrani), pernah bersama Nabi Isa hanya makan daun-daunan selama berhari-hari di Gunung Lebanon. Tak ada yang dimakan, tak ada teman atau keluarga yang menguati perjuangan. Sementara aku di tengah ombak laut ganas ini, meski jauh dari suami, tapi masih ada sampeyan anakku yang menemani dan kita sehat berkecukupan. Ibu Mariam sendiri tanpa suami membesarkan Nabi Isa, sedang aku punya suami tercinta saat mengasuh sampean semua.” Aku menangis bersyukur mendengarnya. Ibuku sekhusyuk Maria, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menu makanan ibuku seragam seperti anak-anak asuh di asrama. Nasi, kuah, dan lauk seadanya. Karena kami semua masak dari dapur umum yang sama. Bermaksud ingin menyehatkan dan menggembirakan ibuku, kami sering hendak masak tambahan menu seperti buah, kerupuk dan susu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi dengan lembut beliau mengingatkan, “Sudahlah cukup ini saja. Ini lebih dari menu makanan Ibu Fatimah sekeluarga. Ibu Fatimah biasa makan sebutir kurma dan segelas air saja. Malah pernah tiga hari tiga malam kelaparan karena tidak ada yang dimakan. Apakah kita tidak dosa jika makan melebihi menu puteri Rasulullah itu?,” Kami pun tersadar dan belajar. Ibuku seneriman Fatimah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kecerdasan, ibuku luar biasa. Saat mengumpulkan bahan presentasi atau mencari referensi ayat-ayat suci, ibukulah termpat bertanya. Kami sekeluarga sepakat menjuluki “Ensiklopedi Kitab Suci” untuk beliau. Untuk hal ini, ibuku memotivasi kami, “Ayolah kita cerdas dan berilmu manfaat sebagaimana Ibu Aisyah. Sejak belia semangat belajarnya luar biasa. Ibu Aisyah yang cantik dan terlahir dari keluarga bangsawan rela jadi jelata berjuang bersama Rasulullah demi pencerdasan umatnya.” Ibuku secerdas Aisyah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibuku sangat kuat fisiknya. Beliau telah berkeliling Indonesia menyambangi santri-santri yang pernah diasuhnya. Setiap ada kabar bencana, beliau langsung ikut turun membantu ke lokasi dan sering menginap bersama pengungsi selama berhari-hari. Dalam kesibukan 24 jam, beliau masih istiqomah dengan disiplin pengamalan ibadah. Selain sholat fardlu 5 waktu, sholat sunnat tak pernah terlewat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sujud sholat tahajjud dan setiap doa pagi dhuha, ibuku selalu menyebut nama-nama keluarga semua. Agar kami anak-anaknya selalu sehat, kuat, penuh rahmat, diberi syafaat Allah dan Rasulullah Muhammad dunia akhirat. Ibuku mencintai Rabb-NYA, sebagaimana Rabiah yang gandrung kepada TuhanNYA. Ibuku sezuhud Rabiah, Ibuku Masyrifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kisah-kisah wanita perkasa di jamannya selalu menjadi inspirasi penyemangat ibuku. Kedewasaan Sarah, ketegaran Hajar, kesetiaan Asiyah, konsistensi Masyitah, ketabahan Maria, kesahajaan Khadijah, kesabaran Fatimah, kecerdasan Aisyah, kezuhudan Rabiah, menjadi menu cerita kami sekaligus energi penguat perjuangan beliau yang kini menapak usia enam puluh lima.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tangis doa dan titip rinduku selalu untukmu Ibu. Ibuku Sarah. Ibuku Hajar. Ibuku Asiyah. Ibuku Masyitah. Ibuku Maria. Ibuku Khadijah. Ibuku Aisyah. Ibuku Fatimah. Ibuku Rabiah. Ibuku Masyrifah. Ummi Nuriyati. Robbanaghfirlanaa waliwaa lidayya warhamnaa kamaa robbayaanii shaghiiraa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7725683088403418696?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7725683088403418696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7725683088403418696' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7725683088403418696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7725683088403418696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/12/ibuku-sarah-maria-khadijah-masyrifah.html' title='Ibuku Sarah, Maria, Khadijah, Masyrifah'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MqfvcrWH3Ns/TT9oyfHTNeI/AAAAAAAAALA/DBBR2hlQJV4/s72-c/ibukuabiku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-8545288762832143458</id><published>2010-12-16T21:00:00.001+07:00</published><updated>2011-01-26T08:25:34.777+07:00</updated><title type='text'>Mengejar Senyum Semar</title><content type='html'>Dalam mitologi budaya pewayangan Jawa, tersebutlah tokoh Semar dengan karakter dan perannya yang bersahaja. Tokoh manusia setengah dewa nan jenaka ini biasanya muncul bersama ketiga punakawan di jelang akhir pagelaran. Semar memiliki ciri yang mudah dikenali: mulut mesem mengulum senyum. Bukan senyum sembarangan. Karena senyumnya mengandung filosofi makna penghiburan sekaligus keprihatinan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Majelis pembaca sekalian, kali ini saya ajak Anda semua untuk memaknai pentingnya kehadiran Semar. Di tengah arus goro-goro yang mengaduk negeri ini dalam pusaran kebingungan dan tukar padu tak tentu, mari berikhtiar memanggil Semar. Kita berharap agar senyumnya segera keluar. Caranya, kita coba hadirkan figur dan karakter Semar dalam diri kita masing-masing. Belajar menjiwai karakter Semar.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, Anda saya ajak untuk mengenal senyum Semar, menirunya, dan menghembuskannya ke sekeliling kita. Senyum Semar yang terlihat neriman, samar penuh keprihatinan dan melahirkan inspirasi kebaikan. Semar yang berjiwa penggembala, bersifat pamong, dan senantiasa ikhlas melayani manusia sebagai wujud kebaktian abdi ngenger marang Gusti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanggap ing Sasmita. Agar bisa tersenyum seperti Semar, kita kudu melatih kepekaan jiwa. Akal dan perasaan ditempa melalui latihan peka sosial, cermat menyikapi fakta lingkungan dan cerdas membaca isyarat perubahan alam. Untuk menjaga kecerahan kalibrasi monitor diri, rajinlah sholat, seringlah puasa, dan kuat tirakat. Tanggap ing Sasmita mengharuskan kita selalu buka mata, buka telinga, jembarkan pikiran, perkaya ruang jiwa. Kuat-kuatkan berdoa di manapun dan kapanpun terutama akhir malam bangun sholat tahajjud, siap diremehkan, dan banyak-banyaklah bersedekah. Wani laku prihatin cegah dhahar lawan guling.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasilnya kita akan terlatih membaca tanda dan pesan kehidupan. Muncul sifat ringan tangan menolong tanpa diminta. Senantiasa mendahulukan kebutuhan umat sebangsa sebelum memikirkan diri dan keluarganya. Segera taubat menyadari dan menghentikan kesalahan sebelum dikirimi peringatan dan bencana hukuman. Kehalusan perasaan tumbuh dengan baik. Perubahan cukup dikulik dengan sentilan kritik, bukan dengan pencerengan penuh makian dan adu fisik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan Tanggap ing Sasmita, komunikasi pemimpin dan rakyat akan terpelihara sehat. Hubungan terbangun saling menguatkan sebagaimana teladan kepemimpinan Semar terhadap ketiga punakawan: Petruk, Gareng dan Bagong. Tidak ada saling menuding. Yang ada justeru refleksi kebersamaan. Tidak ada saling klaim kebenaran, karena masing-masing punakawan jujur menginsyafi kekurangan dan berani mengakui kesalahan. limpat pasang ing grahita. Para punakawan konsisten dalam ucapan dan perbuatan. Semuanya saling melayani dengan ikhlas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hamemayu Hayuning Bawana. Mengikuti jejak Semar dalam menjalani amanah manusia sebagai wakil Allah, menjadi khalifah pelestari bumi. Pada tataran vertikal, hubungan kita dengan Tuhan berjalan selaras sebagaimana fitrah awalnya. Yakni kita lahir turun ke bumi hanya mengabdi layani perintah Ilahi. Pada tataran horizontal, hubungan kita dengan manusia dan alam lingkungan selalu bermula dan berakhir dengan senyuman membersyukurkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam disiplin ekologi, hamemayu hayuning bawono adalah praktik sustainable development. Sebuah konsep “pembangunan berkelanjutan” yang kerap dibicarakan para pegiat isu lingkungan. Dalam ilmu pedagogi, hamemayu hayuning bawono merupakan bukti kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan iman seorang insan. Di ranah hukum, Hamemayu hayuning bawono akan menghadirkan keadilan dan supremasi hukum terjamin aman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua teladan karakter Semar itu disimbolkan dalam bentuk wayang yang berwajah tersenyum sekaligus menangis. Di balik senyuman Semar, tersamar siluet tangisan. Di dalam senyum pengharapan, terkandung tangis doa keprihatinan. Bibir Semar mengulum senyum, namun mata hatinya mengurai tangis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Figur Semar adalah personifikasi para Rasul, Nabi dan Wali. Tokoh Semar adalah ciri kepemimpinan para utusan Tuhan. Senyum dan tangis Semar adalah wujud cinta sekaligus perhatian kasih pemimpin terhadap umatnya yang terdiri dari manusia, tumbuhan, hewan serta lingkungan. Kasihnya begitu besar dalam mengemban misi amanat sebagai Sang Juru Selamat. Dalam keluarganya, Semar adalah Bapa penggembala yang mengasihi sekaligus Guru pendidik yang meneladani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita adalah anak-anak Semar. Kita adalah punakawan yang bersama-sama Semar akan menggelar babak akhir lakon kehidupan. Di saat ini, kita akan mementaskan sesi “Semar Mbabar Jati Diri”. Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan. Sebuah lakon revolusi perubahan yang bersih dari kepentingan duniawi, merdeka dari ego ragawi, dan jauh dari ambisi pribadi. Lakon revolusi itu adalah berburu ampunan Allah dan 99% derajat di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah tiwikrama kita, punakawan anak-anak Semar dalam menyikapi kondisi agama, bangsa dan negara. Ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu. Menghilangkan rasa cinta harta benda dan sifat kedonyan. Fokus akhirat sambil lalu memikirkan dunia. Mengalah untuk menang. Berani jujur mengakui kesalahan dan saling berbagi permaafan. Demi kemanusiaan, tidak eman memberikan harta yang paling dicintai. Membuang sifat amarah dan dendam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agar derajat budi pekerti kita tetap unggul sebagaimana fitrah manusia mulya. Agar sempurna hidup kita: selamat di dunia yang sementara ini dan sejahtera di akhirat nanti. Bersama Semar, kita perbanyak tangis taubat dan senyum jalin seduluran di dunia ini. Bersama Semar pula kita akan tersenyum selamanya dalam ampunan dan ridho Ilahi di akhirat nanti. Aamiin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-8545288762832143458?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/8545288762832143458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=8545288762832143458' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8545288762832143458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8545288762832143458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/12/mengejar-senyum-semar.html' title='Mengejar Senyum Semar'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3480526982576616658</id><published>2010-12-09T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:29:22.237+07:00</updated><title type='text'>Fathul Indonesia: Kemenangan Tanpa Kekuasaan</title><content type='html'>Peristiwa Fathul Makkah yang ditandai dengan masuknya Rasulullah ke Makkah berlangsung aman. Gemuruh kalimat takbir, tahlil, tahmid, tasbih, dan istighfar bergetar membahana seiring panji tauhid yang berkibar merambati penjuru kota. Lembah Makkah terperangah menyambut seorang yang pernah diusir, dikejar dan hendak dibunuhnya: Muhammad bin Abdillah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampailah Rasulullah di kompleks pelataran Ka'bah. Beliau memasuki Baitullah kemudian membersihkan patung-patung batu dari dalamnya. Setelah itu beliau berdiri di pintu Ka'bah sambil memandangi penduduk Makkah yang sejak awal berharap cemas menunggu pidato kemenangan Rasulullah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah, atas kuasa kasih Allah, pidato Rasulullah memuaskan harapan banyak orang, terutama kafir musyrik Quraisy. Dengan budi agungnya, Rasulullah mengampuni semua penduduk yang selalu berlaku kejam terhadap kaum Muslim di masa lalu. Mereka dibebaskan dari tuntutan dari hukuman. Tak terkecuali Abu Sufyan dan keluarganya yang menyambut gembira keputusan pengampunan Rasulullah itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peristiwa Fathul Makkah dengan runtuhnya pamor Abu Sufyan dan kawan-kawan dapat dimaknai sebagai kemenangan raya. Galibnya sang pemenang akan menduduki tempat itu dan mematok berbagai macam tanda kekuasaan di daerah taklukan. Para pemimpin wilayah akan dilengserkan lalu ditawan sebagai pecundang yang kalah perang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun Rasulullah disucikan dari nafsu ambisi kekuasaan yang melenakan. Ketokohan Abu Sufyan dibiarkan tidak dipreteli. Bahkan beliau menjamin siapa saja yang berlindung di rumah Abu Sufyan akan aman. Pun karena misi Rasulullah tidak bermotif pengawetan citra ketokohan, beliau hanya sebentar saja mukim di Makkah, selanjutnya kembali menetap hingga wafat di Madinah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fathul Makkah menyuguhkan pelajaran buat kita semuanya tentang kemenangan tanpa motif kekuasaan. Kemenangan bukan diniati sebagai tujuan akhir penguasaan pihak yang kuat terhadap yang lemah. Kemenangan itu tidak diawali obsesi penaklukan dan atau dominasi politik sebuah kelompok terhadap kelompok lain. Kemenangan itu tidak boleh dikotori nafsu fait accompli, klaim pemaksaan kebenaran ideologi agar semua orang tunduk mengikuti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasululah telah meneladani kita semuanya, terutama Muslim Indonesia. Melalui Fathul Makkah, beliau menyejarah sebagai pemimpin yang qonaah dan tak tergiur korupsi imamah. Bisa saja beliau memanfaatkan kedudukannya untuk meraup harta sebanyak-banyaknya untuk mendandani anak isterinya, untuk memfasilitasi perjalanannya, untuk memperbaiki perabot rumahnya, untuk mengangkat citra wibawa kepemimpinannya, untuk melengkapi koleksi baju dinasnya, atau dengan alasan yang terkesan mubah: “demi kepentingah dakwah”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi semua itu tidak dilakukan. Beliau tetap dengan kesahajaannya. Hingga wafat, Rasulullah sangat-sangat jelata, walau kedudukan beliau saat itu setara dengan Raja Persia dan Kaisar Roma. Melalui teladan kepemimpinan Rasulullah, maka tesis Lord Acton bahwa power tends to corrupt menjadi gugur dan tidak menemukan kesesuaiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kiranya kita perlu bertanya dan refleksi kembali, terutama bagi saudara kita yang saat ini sedang berpolitik, sedang berdagang, berproses meraih jabatan, dan atau sedang mengharap kedudukan. Apakah niat awal hingga tujuan akhirnya ingin ikhlas berbagi kebaikan ataukah menurutkan ambisi duniawi dan godaan kekuasaan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apapun partai yang dikendarai, apapun proses politik yang dilalui, apapun bisnis yang digeluti, apapun jenjang karir yang dilakoni, koreksi kembali niatan awal kita. Jika masih tertanam loba harta dunia, maka sadarlah. Jika masih terdapat setitik nila rasa ingin berkuasa, maka undur dirilah. Jika terbersit niat ingin merasakan nikmat memerintah, maka hentikanlah. Jangan diteruskan. Karena itu keliru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Loba harta dunia (hubbud-dunya) akan memaksa kita terseret sistem ribawi, hukum rimba, koruptif dan manipulatif. Obsesi kekuasaan akan memenjarakan nurani kita dalam kerangkeng kejahatan dan menjauhkan diri dari cahaya iman. Nafsu ingin memerintah akan membuat perangai kita semena-mena dan mengabaikan peringatan kebaikan. Semuanya itu bermuara pada sifat buruk: enggan sedekah, abai terhadap si miskin, kemaruk kaya, haus puja-puja, dan super ego yang menistakan norma keadilan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayolah kita berhijrah dan berubah sebagaimana teladan Rasulullah. Seruan ini berlaku bagi penulis pribadi dan semua warga negara dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Belajarlah dari Fathul Makkah. Kemenangan bukan bertujuan mencari dan mengawetkan kekuasaan. Bahwa kemenangan itu hanyalah proses yang semata dihadiahkan Tuhan. Kemenangan yang tanpa mengalahkan martabat kemanusiaan. Kemenangan yang berselera keadilan dan dinikmati oleh semua insan. Kemenangan itu adalah tangis  pertobatan, menginsyafi kesalahan dan sujud pengakuan kekuasaan semata hanya milikNYA. Sebagaimana definisi kemenangan yang difirmankan Allah dalam Al Quran sesaat setelah peristiwa Fathul Makkah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan; dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah; maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-NYA. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat”. (QS. 110 : 1-3)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maknai secara nyata peringatan Tahun Baru Hijriyah 1432 kali ini sebagai kemenangan semua insan. Rangkaikan dengan renungan Hari Anti Korupsi yang diperingati tepat tanggal 9 Desember ini. Hiduplah sederhana, hindari sifat boros yang berlebihan. Jangan mau dirayu setan untuk berebut kedudukan, kebanggaan, kehormatan dan kekuasaan duniawi, karena itulah awal peluang korupsi. Mari wujudkan kemenangan tanpa motif kekuasaan dan harta benda dunia. Mari bertobat mengakui kesalahan. Mari bersujud mengakui kekuasaanNYA semata. Iringi selalu aktifitas kita dengan doa pujian harap restu bimbinganNYA. Itulah kemenangan kita semua. Fathul Indonesia !!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3480526982576616658?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3480526982576616658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3480526982576616658' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3480526982576616658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3480526982576616658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/fathul-indonesia-kemenangan-tanpa.html' title='Fathul Indonesia: Kemenangan Tanpa Kekuasaan'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-2256442307147126516</id><published>2010-12-02T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:28:17.777+07:00</updated><title type='text'>Tuku Sapi Katutan Tali</title><content type='html'>Pengasuh pesantren kami, Bapa Guru MA. Muchtar, seringkali mengakhiri tulisannya dengan kalimat “Pemikir Hidup dan Kehidupan” di atas nama dan tanda tangan beliau. Konsistensi ini seiring dengan keajegan beliau dalam mengajak kami para santri untuk belajar hidup yang seimbang, adil dan berkelanjutan. Meraba secara matematika, logika, dan doktrin agama tentang kebutuhan sandang, pangan, papan di dua alam nyata: Akhirat dan dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu di antara analogi beliau dalam menggambarkan kehidupan akhirat dunia yang terus kami renungi adalah 'Tuku Sapi Katutan Tali'. Kalimat lengkap yang biasa beliau ucap adalah “nek tuku sapi pasti katutan tali, tapi nek tuku tali gak mungkin katutan sapi”. Terjemahan bebasnya, kalau seorang membeli sapi pasti dapat seutas tali, tapi kalau seseorang beli seutas tali tak mungkin akan dapat seekor sapi. Analogi “tuku sapi katutan tali” ini merujuk fakta transaksi di pasar-pasar hewan pada umumnya, yakni jual beli seekor sapi selalu sepaket dengan tali yang mengikat di lehernya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rupanya analogi itu bermakna sepadan dengan sebuah anjuran dalam Al Quran, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas: 77)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan dari Bapa Guru dan ayat Al Quran itu jelas. Bahwa kita harus fokus memikirkan kebutuhan hidup di akhirat dengan konsekwensi pasti: kehidupan dunia pasti akan terfikir juga. Logika dan hitung-hitungan matematikanya, masa hidup di akhirat lebih lama dan tidak ada lagi kesempatan berusaha bekerja bila kita kekurangan sandang, pangan, papan. Sehingga ia lebih pantas diprioritaskan untuk dipikirkan secara serius dan perlu perhatian khusus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedang kehidupan dunia yang kita jalani, kita rasa, kita lihat, dan kita alami saat ini lebih pendek waktunya. Kebutuhan langsung bisa dirasakan dengan indera fisik yang kita punya. Sehingga sudah pasti, tanpa diminta dan secara naluri manusiawi, kebutuhan dunia akan kita upayakan pemenuhannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fakta kemudian membuktikan bahwa apa yang disampaikan Bapa Guru itu bisa dilakukan dengan cara sederhana, sealur logika, manusiawi, bersistem, terorganisir, dan diakui oleh semua. Analogi itu bukan cuma teori yang jauh panggang dari api. Kiasan “tuku sapi katutan tali” bukan hanya utopia yang mustahil perwujudannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah atas pertolongan kasih Allah, melalui pesantren gratis yang telah dirintis beliau sejak tahun 1961, Bapa Guru telah melaksanakannya. Hingga kini, kami bersama lima ratusan santri mulai dari balita hingga lanjut usia, dari Aceh hingga Papua, bermukim di asrama secara cuma-cuma. Setiap hari kebutuhan pendidikan, akomodasi, konsumsi, jaminan kesehatan, bimbingan kerohanian, hingga tempat pemakaman disediakan tanpa menarik iuran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain kegiatan karitas berbasis asrama itu, sebagai NGO berbasis pesantren, program pengembangan masyarakat yang dirintis beliau juga banyak membawa manfaat. Diantaranya melalui tiga program utama: pendidikan, kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang diajarkan Bapa Guru mencambuk kami para santri dan golongan cendekia agama yang biasanya terlena dengan hafalan kitab-kitab kajian. Jujur kita sering mengira, bahwa dengan pengakuan syahadat, seperangkat tertib sholat, puasa, 2.5% zakat, gelar haji atau ustadz kiranya sudah cukup memenuhi kebutuhan akhirat. Padahal semua itu bukan jaminan. Belum lagi bila ritual wajib itu nanti terserang virus pamrih yang merusak nilai ganjaran. Maka lenyaplah jatah akhirat kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Janganlah menyanggah dengan berdalih kita sudah beramal akhirat. Karena jika dihitung logika matematika, apa yang telah, sedang dan akan kita usahakan di dunia, sangat jauh melampaui apa yang telah kita usahakan untuk akhirat. Padahal ayat di atas jelas memerintahkan kita untuk “prioritas mendahulukan kebutuhan akhirat, sambil mengurus kebutuhan dunia”. Hasilnya akan berwujud perbuatan baik terhadap sesama dan keadilan sosial bagi seluruh penghuni bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, ini praktiknya seringkali terbalik. Kebutuhan dunia siang malam dipikirkan, urus akhirat belakangan. Akhirnya terjadilah lomba hedonis dan konsumerisme massal. Senanglah aku, matilah kamu. Korupsi membudaya karena ingin mengenyangkan kebutuhan pribadinya di dunia saja. Tak pernah terlintas ingin memenuhi kebutuhan akhiratnya. Ini menimpa bukan kepada orang awam saja, bahkan kepada yang terkenal cendekia agama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara kritis Allah juga menggugat pengakuan iman dan kepercayaan akhirat kita dengan firmanNYA di QS. 2 : 8, “Dan diantara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Juga terdapat pada QS. 30: 7, “Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai pertanyaan pembuktian sederhana, “jika hari ini kita sudah sarapan sepiring nasi di dunia, sudahkah kita, sudahkah kita siapkan sarapan sepiring di akhirat sana, dengan cara memberi sarapan tetangga kita yang miskin dan atau gelandangan yang kelaparan?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuku sapi katutan tali. Bila fokus mengurus akhirat, urusan dunia pasti terbawa. Karena yang diteladani dan diajarkan Bapa Guru seperti itu, maka usaha beliau membawa manfaat sosial yang besar. Hasil kerja halal yang diperoleh beliau bukan dinikmati pribadi atau sekeluarga saja. Tapi dimanfaatkan untuk kemanusiaan, untuk kebersamaan. Program kepesantrenan tidak hanya ngaji dan sibuk adu teori, tapi segera aksi, aksi, aksi. Qaulan wa fi'lan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuku tali gak mungkin katutan sapi. Bila sibuk mengurus dunia saja, akhirat seringkali terlupa. Bukti dari analogi ini dengan mudah kita temukan. Kasus korupsi, kriminalitas, tingkah asusila, perbuatan amoral, meningkatnya angka kemiskinan, semakin acuhnya para pemimpin, kenakalan remaja, dan seterusnya adalah bukti bahwa kita fokus mengurusi dunia saja. Kita luput memikirkan urusan dan tanggung-gugat peradilan akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-2256442307147126516?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/2256442307147126516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=2256442307147126516' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2256442307147126516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2256442307147126516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/12/tuku-sapi-katutan-tali.html' title='Tuku Sapi Katutan Tali'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-2828356127135456149</id><published>2010-11-25T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:31:25.620+07:00</updated><title type='text'>Tak Usah Menunggu Pemerintah</title><content type='html'>Sungguh bersyukur dan menggembirakan saat melihat rukun guyubnya masyarakat Indonesia dalam membantu sesama saudaranya yang diterpa bencana. Berbagai institusi yang membuka kotak rekening amal laris diserbu para penyumbang dana sosial. Lembaga kemanusiaan sebagai wakil amil penyalur bantuan kewalahan mendistribusikan kebutuhan para korban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para peduli, komunitas filantropi, dan relawan bersemangat mengajukan diri untuk diberangkatkan sebagai bala keselamatan. Tak ketinggalan peran insan pemberitaan dalam menyuplai informasi kegawatdaruratan. Semuanya bersinergi sesuai potensi yang dimiliki. Walau di sana-sini masih sering menyisakan kekurangan, fenomena ini patut disyukuri.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sisi lain, kita menyaksikan kelambanan pemerintah dalam menjalankan peran dan kapasitas tanggungjawab pelayanan. Terbelit birokrasi yang rumit, kendala DIPA dan proses pencairan kelewat ngirit, atau mungkin karena hierarki atasan-bawahan yang rigid, membuat kiprahnya kalah gesit. Apalagi jika kita mengingat satire parodi selama ini yang ramah dengan kinerja pemerintah, “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walau mereka mengaku sudah bekerja setiap hari sesuai tupoksi, tetap saja kesan lamban dan hasil kerja yang jauh dari harapan sulit dihilangkan. Pada kasus kebencanaan Merapi dan Mentawai, kita sempat dengar PMI diplesetkan singkatannya menjadi Pemerintah Mandiri Indonesia sebagai sindiran atas buruknya koordinasi peran dan lambannya respon para pemimpin negara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berita terbaru, penanganan Sumiati dan Komalasari yang teraniaya sampai mati di Arab Saudi membuat kita prihatin mengurut dada. Nasib TKI kita seperti anak ayam ditinggal lari induknya. Wakil rakyat yang kita amanahi juga jauh panggang dari api. Alih-alih investigasi, visanya malah tertahan di kedutaan sehingga mereka telantar berhari-hari belum berhasil masuk Saudi. Kita semua jadi mbatin sedih campur geli, “Duh, Gusti. Gerangan guyon apa lagi ini? Sarapan lelucon kok tersaji sama setiap hari.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka lewat tulisan ini saya ingin memotivasi pribadi penulis sendiri dan tentunya pembaca semua. Setidaknya sekadar oksigen penghiburan di tengah menipisnya udara pengharapan. Bahwasanya potensi kekuatan kita masih ada dan peluang keselamatan negeri ini tetaplah terbuka. Belajar dari praktik kebersamaan urun peduli saat bencana hari-hari ini, sungguh kita layak optimis sembari terus bersinergi strategis mutualis. Inilah sebenarnya wujud nyata nilai adiluhung dan warisan agung khas berselera manusia Indonesia. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari kebersamaan ini, mari segera kita tempuh langkah-langkah penguatannya.&lt;br /&gt;Pertama, perkuat basis visi dan keteladanan aksi. Mulai dari pendidikan sejak dini di tingkat keluarga dan kerabat terdekat. Berikan contoh bagaimana kita berbuat menyikapi kesulitan tanpa saling menyalahkan. Visi kita adalah perwujudan nyata nilai Pancasila seutuhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sinilah distribusi peran, koordinasi pekerjaan, keterampilan komunikasi, saling pengertian, berbagi penguatan, dan fungsi kontrol dapat dilatih-praktikkan. Bila di tingkat terkecil keluarga sudah bisa, tularkan keterampilan itu di level atasnya. Misalnya di lingkungan rukun tetangga atau tingkat desa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, pertahankan konsistensi dan ketahanan gerakan. Jangan sampai kehabisan energi, semangat di posisi start lalu pingsan di tengah jalan. Tantangan keberlanjutan inilah yang sering membuat kita kalah. Makanya dukungan doa spiritual, kekuatan mental, dan tentu saja kekayaan modal sosial menjadi sangat penting peranannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, bersiaplah menjadi orang asing di negeri sendiri. Karena niat baik yang telah dan sedang kita galakkan belum tentu ditanggapi seperti yang kita ingini. Bisa jadi dari lingkungan terdekat muncul penolakan dan penggembosan. Atau mungkin ada pihak berwenang yang merasa lahannya kita rebut, lalu berusaha menghalangi karena takut. Jaman edan wolak-walike jaman. Kita yang waras berotak sehat malah bisa-bisa diteriaki gila dan perlu diruwat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka antisipasi itu dengan Bismillaah. Jika sampai terjadi, gunakan strategi creative minority. Berani setia melawan arus keumuman yang keliru. Konsisten dalam kebenaran walau hanya satu tim kecil bersama keluarga. Defensif aktif sambil terus berusaha mengajak individu/komunitas lainnya. Kita bisa menerapkan pola kebiasaan positive deviance. Hidup menyimpang positif di tengah kerumunan lingkungan yang berbudaya negatif. Maka kuat dan bertahanlah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat, jangan menunggu pemerintah. Pentingkan keswadayaan, kemandirian, dan inisiatif cerdas menyiasati keterbatasan. Biarlah pemerintah cukup menjadi fasilitator pemantau saja. Kasihanilah mereka karena beban kerja berlebihan sehingga sering nasib kita luput terperhatikan. Sudah cukup jangan penuhi lagi ruang kerja dan konsentrasi pikiran mereka dengan uneg-uneg kita yang ngewuhi ini. Bukan berarti kita mutung. Tapi ini lebih kepada upaya survival sosial menghindari keputusasaan massal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka jadilah kita ini seperti siswa di kelas pembelajaran orang dewasa yang terlatih tampil ke depan tanpa diiming-iming jajanan. Begitupun di saat kita menghadapi situasi sulit. Jika mengandalkan pemerintah susah, maka ayo bergerak mencari celah. Jangan merajuk ke pemerintah apalagi berniat menyerah. Jauhi aksi liar, strategi grusa-grusu ala bar-bar apalagi demonstrasi bakar-bakar. Silakan kita beroposisi, asal gerakan yang kita tampakkan harus elegan dan tanpa kekerasan. Sesanti perjuangan ini, “Menyadarkan bukan Mengalahkan”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita keliru besar kalau cuma bisa saling menuding kening, adu kuat debat, bersedekap tangan dan berebut melempar cibiran. Apalagi kalau cuma lomba unjuk gigi di televisi untuk persiapan duduk di kursi 2014 nanti. Karena kalau cuma begitu, anak kecil juga bisa ngotot ngaku dia yang benar melulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekali lagi bencana dan kesulitan di negeri ini menampakkan pelajaran buat kita semuanya. Masih ada peluang merajut kebersamaan tanpa aba-aba dari pemerintah. Tentu kita tidak mau hanya karena saling menunggu lalu kita perani Waiting for Godot-nya Samuel Beckett di ranah nyata ini. Ayolah kita semua bergerak gegas, berfikir cerdas, berjejaring luas, serta bersinergi ikhlas. Bismillaah. Laa haula wa laa quwwata illa billaah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila pemerintah kita anggap salah, biarlah itu menjadi refleksi mereka sendiri. Sementara sambil terus mengingatkan kebenaran dengan kesabaran, kita kudu terus jalan. Tak perlu menunggu kiprah pemerintah dan pesan “arahan dari atasan” atau kita akan mati pelan-pelan dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;Sekolah Penggembala SABDA (Standar Bertaraf Dunia Akhirat)&lt;br /&gt;Lamongan, In the Cold November Rain, 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-2828356127135456149?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/2828356127135456149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=2828356127135456149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2828356127135456149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2828356127135456149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/11/tak-usah-menunggu-pemerintah.html' title='Tak Usah Menunggu Pemerintah'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-6424649876162629629</id><published>2010-11-18T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:35:37.977+07:00</updated><title type='text'>Aspirasi Buat Pak Haji</title><content type='html'>Apa kabar hari ini Pak Haji? Setelah kemarin secara syar'i lunas menunaikan syarat, rukun dan wajib haji? Bagaimana perasaan Pak Haji setelah beberapa hari ini menghirup udara tanah suci? Berapa banyak pelajaran kehidupan dan ilmu kemanusiaan yang Pak Haji dapatkan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, kami di Indonesia tetap bisa memantau perkembangan informasi dari Pak Haji. Melalui tulisan ini, kami jamaah warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ingin menitip aspirasi buat Pak Haji dan kawan-kawan yang saat ini ada di dua kota suci: Makkah dan Madinah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, kami berharap Pak Haji bisa rukun menggandeng potensi dan menyerukan pesan-pesan perdamaian insan kepada sesama Muslim dari seluruh dunia yang ada di sana. Sudahi saja dikotomi syiah-sunni, wahabi-salafi, sesat-moderat, radikal-liberal, tradisional-intelektual, dan jargon propaganda agitatif lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih banyak peran kerjasama dan revolusi pribadi yang bisa dibangun untuk manfaat umat. Misalnya menarik investor penanaman modal akhirat (PMA) dari para aghniya'  di sana, agar peduli kepada kami kaum ardzalun yang ada di sini. Syukur jika kembali ke tanah air nanti, Pak Haji bisa berubah jadi murni filantropis, tak egois, tidak sempit berfikir politis, chauvinis, apalagi narsis. Setelah pulang nanti, kami berharap Pak Haji bisa ikhlas siap setiap saat berkorban melayani kebutuhan agama, bangsa dan negara ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, Pak Haji berniat ibadah dengan ihram, yakni mengenakan baju putih polos tanpa jahitan melambangkan kesucian tujuan. Kami berharap niat putih itu bisa terjaga selamanya. Perbanyak dan sesering mungkin mengingat Allah melebihi ingatan Pak Haji kepada kami sekeluarga di sini. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al Quran QS. 2:200.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Janganlah di sana terlalu meluangkan waktu untuk euforia saja, misalnya: alih-alih bawa oleh-oleh untuk kami, malah menurutkan nafsu belanja berlebihan. Lebih baik jatah living cost dan kelebihan ongkos Pak Haji dibawa pulang lalu disedekahkan kepada warga NKRI yang membutuhkan. Masih banyak warga di tanah air yang buta huruf, kekurangan gizi, hak hidupnya terabaikan, tak mampu berobat, survivor bencana alam, yang itu butuh sentuhan peduli Pak Haji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, dalam masa wukuf kemarin, kami berharap Pak Haji telah membaca catatan dosa-dosa pribadi untuk selanjutnya segera ditaubati. Ingatlah kakek buyut kita Nabi Adam dan Ibu Hawa yang pertobatannya dikisahkan dalam QS. 7:23. Cermati pula pertobatan Rasul Yunus di QS. 21: 87, Rasul Musa di QS. 28: 16,  Rasul Nuh di QS. 71:28, juga doa taubat di QS. 3:147.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beliau itu moyang manusia, para Rasul yang ma'shum dan uswah hasanah bagi kita semua, masih merasa keliru dan bertaubat. Alangkah pongah kami dan Pak Haji yang derajatnya masih manusia biasa, bila merasa berbuat benar saja dan enggan mengakui kesalahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renungi juga doa Khalilullah Ibrahim di QS. 2:128, tentang permintaannya agar dibimbing menjadi seorang Muslim dan ditunjukkan cara ibadah yang terarah. Beliau peletak dasar manasik Haji saja, masih minta diarahkan. Sedang kita sering ngawur menentukan ibadah sendiri dengan dalih ijtihad dan alasan keringanan. Maka kami mengajak Pak Haji, mari bersama giatkan pertaubatan dan tekad perubahan di setiap detik akfititas kita. Jadikan hari wukuf di Arafah itu, retreat harian yang bisa menerangi hati Pak Haji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat, Pak Haji sudah merasakan thawaf mengelilingi Ka'bah. Maknai putaran thawaf sebagai kehendak kuat untuk bersujud bersama semesta. Ikutilah gerakan takbir, tasbih, istighfar, tahlil dan tahmid dalam harmoni orbit tauhid. Memurnikan pelayanan kepada Tuhan. Jadikanlah diri Pak Haji sebagaimana ketundukan pembantu kepada juragan. Seluruh waktu, tenaga, pikiran, harta dan jiwa diserahkan tanpa keluhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka kami berharap setelah pulang nanti, Pak Haji tidak suka menuruti nafsu lagi. Jangan melakoni satire hikayat “kaji tomat”. Yakni berangkat haji tobat, sepulang haji kumat. Tapi turutilah perintah Allah dalam segala fungsi sosial kehidupan Pak Haji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah menyandang gelar “H” nantinya, lebih pedulilah; lebih dermawanlah; lebih merendahlah; lebih ingat akhirat; hati-hati menyaring rejeki; lebih ramah lingkungan; hiduplah sederhana; lebih sabar dan ikhlaslah; lebih konsistenlah dalam beragama, usahakan kerja halal dan hasilnya untuk kebersamaan. Jangan cuma bekerja untuk menggendutkan rekening pribadi dan kemakmuran keluarga Pak Haji saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelima, setelah sa'i antara Shafa dan Marwa, mudah-mudahan Pak Haji mengerti bahwa masih banyak saudara-saudara Pak Haji yang mengalami kesusahan. Meski saat ini proses sa'i dilaksanakan di lantai dingin dan tertutup dari sengatan matahari, tetaplah ingat bahwa Pak Haji sedang menapaktilasi perjuangan Ibu Hajar dan si kecil Ismail. Sehingga dengan mengingat itu, kepedulian Pak Haji lebih terasah sepulangnya ke Indonesia nanti. Posisikan Pak Haji sebagai Ibu Hajar dan kami kaum papa di sini sebagai Ismail. Sehingga dengan begitu, Pak Haji selalu memiliki tekad kuat untuk menolong tanpa pamrih dan tidak merasa lebih-lebih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keenam, setelah tahallul dan menyembelih kurban, kami berharap Pak Haji mampu menanggalkan kepentingan pribadi dan mendahulukan prioritas kebutuhan umat. Karena makna tahallul dan kurban adalah penyerahan total kepada perintahNYA. Ingatlah bahwa perjuangan mendapatkan nikmat akhirat, harus ditebus dengan pengorbanan di dunia. Banyak-banyaklah bersedekah untuk bekal akhirat. Hingga saat wafat nanti, tiada lagi harta dan kepemilikan yang tertinggal percuma di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketujuh, setelah melempar jumrah, maka kami berharap Pak Haji  mampu meneladani Nabi Ibrahim dalam melawan tipuan musuh syetan. Terutama dalam konteks kekinian, ajakan syetan yang paling  sering adalah takut miskin karena Pak Haji hendak sedekah. Lihat QS. 2:268. Pak Haji harus melawan tipuan syetan itu, sebagaimana Nabi Ibrahim melempari syetan yang menggoda beliau agar urung mengorbankan putera yang dicintainya. Pak Haji kudu berani mengorbankan harta yang dicintai untuk kepentingan umat, mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami tahu syarat Pak Haji berangkat ke tanah suci adalah Islam, dewasa, berakal, merdeka, dan mampu berswadaya. Sehingga aspirasi kami ini kiranya dapat dilaksanakan dalam waktu segera saja. Mudah-mudahan keberangkatan Pak Haji ini bukan sekedar rekreasi jasmani apalagi cuma update peci. Dari peci hitam ke peci putih. Tapi lebih dari itu, ada niat perubahan revolusioner nan radikal: dari Muslim setengah-setengah menjadi Muslim Kaaffah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah makna rites de passage yang sebenarnya.  Sebuah perjalanan peralihan kehidupan dalam melaksanakan perintah Allah, meneladani jejak Rasul, serta efek perubahannya terhadap fungsi sosial dan survival manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah membaca aspirasi ini, semoga Pak Haji terketuk memperjuangkan nasib TKI di Arab Saudi. Syukur jika kembali ke tanah air nanti, Pak Haji serombongan berkenan datang menengok  membantu saudara sebangsa di Wasior, Mentawai dan Merapi. Dengan begitu, Pak Haji akan mendapat pahala sekaligus manfaat berlipat, ganjaran pribadi dan kemaslahatan umat. Semoga saja Malaikat akan menyematkan gelar ganda: Haji Ritual dan Haji Sosial.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu kami dan Pak Haji berharap agar dunia akhirat bisa dimasukkan Allah dalam peringkat manusia terbaik melalui tawashou, tabayyun, titip aspirasi dan kritik. Labbaik Allaahumma Labbaiik.﻿&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-6424649876162629629?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/6424649876162629629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=6424649876162629629' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6424649876162629629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/6424649876162629629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/11/aspirasi-buat-pak-haji.html' title='Aspirasi Buat Pak Haji'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-122414733055451850</id><published>2010-11-11T21:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:41:13.235+07:00</updated><title type='text'>Pahlawan Tanpa Nisan</title><content type='html'>Alkisah dalam sebuah ekspedisi jihad Rasulullah, ada seorang prajurit Muslim yang bertempur dengan hebatnya. Ia menerjang palagan dengan penuh keberanian. Senjatanya berkelebatan ke kiri dan ke kanan mengakibatkan pasukan lawan bertumbangan. Semangatnya seperti nyala api yang tak mau berhenti. Badannya berpeluh darah musuh. Kerelawanannya luar biasa. Akhirnya prajurit itu gugur karena luka-luka yang dideritanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para sahabat yang melihatnya dibuat kagum dan terkesima. Mereka saling bergumam bahwa sang prajurit pasti pahlawan syahid dan surga akan menerimanya. Ketika hal ini disampaikan ke Rasulullah, para sahabat dibuat lebih kaget lagi. Karena menurut Rasulullah, sang prajurit tidak mati syahid. Ia justeru mati sebagai pendosa yang kurang sabar dengan perjuangannya. Setelah diselidiki, ternyata prajurit itu meninggal bunuh diri. Karena tak kuat menahan derita akibat luka, ia memotong urat nadi tangannya hingga maut menjemput.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kisah elegi dari hadis ini memberikan pelajaran buat kita semua yang sekarang sedang berjihad memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa bagaimanapun niat baik itu, tetap dibutuhkan keihklasan dan kekuatan bimbinganNYA sampai akhir. Kerelawanan aksi peduli dan meriahnya rilis berita saja belum cukup untuk menorehkan catatan baik bahwa kita layak dianggap sang pejuang. Apalagi disejarahkan sebagai seorang pahlawan. Karena pada akhirnya, hasil final catatan Tuhan yang menentukan: terutama saat kita wafat, apakah ditetapkan sebagai pemenang atau pecundang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari-hari ini kita menemukan banyak berita tentang relawan di medan kedaruratkebencanaan. Mereka gigih membantu tanpa pamrih. Kemarin kita warga Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang pengorbanan para pejuang revolusi kemerdekaan. Dua hal itu, yakni kerelawanan dan kepahlawanan menjadi relevan kita renungkan. Terutama untuk refleksi pribadi penulis yang saat ini ditugaskan menjadi relawan. Benarkah apa yang sudah kita lakukan dan kita anggap baik sejauh ini layak diapresiasi atau bahkan dicatat sebagai pahlawan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belajar dari hadis di atas, renungan ini menemukan relevansinya lagi. Bila dipikir, kurang apa lagi pengorbanan prajurit ini. Ia sudah berperang di sisi Rasulullah. Merelakan jiwa raganya untuk kepentingan agama Allah. Sebagai relawan ia ikut menjemput maut, bertempur dan gugur demi cita-cita mulia. Tapi hanya karena kurang sabar menahan kesakitan ia kehilangan kesempatan menjadi pemenang. Karena kurang cakap mengelola emosinya dan kurang ikhlas mental, amal sosialnya tertolak. Takdirnya malah menetapkan ia mati su'ul khotimah di saat akhir. Na'udzu billaahi min dzaalik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, kita memang patut dan wajib bersyukur karena Allah masih menghadiahi semangat kesukarelawanan di saat marak ketidakpedulian manusia terhadap sesamanya. Kita perlu menjaga elan kesetiakawanan di tengah egoisme barbarian yang melanda dunia. Kita harus menumbuhkembangkan kader-kader 'sosialis beriman' di tengah gencarnya iklan kapitalisme profan yang menyengsarakan. Kita butuh keberlanjutan aksi-aksi peduli nan manusiawi untuk melestarikan nilai-nilai kebenaran di bumi ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun di atas semua niat baik itu, ada hal penting yang tidak boleh kita abaikan. Pertama, nilai ilahiah yang melandasi kerja-kerja kita. Bahwa pekerjaan kita ini kudu didasari oleh prinsip kemanusiaan murni. Menolong dengan semangat kasih sesama tanpa membedakan SARA. Prinsip itu merujuk sifat Allah yang Ar-Rahman (Pengasih) dan Ar-Rahiim (Penyayang). Hanya karena atas namaNYA, kita bekerja sukarela. Semoga dengan pekerjaan kemanusiaan ini, kita tertulari dan diberkati sifat kasih sayangNYA. Bismillaahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, kewaspadaan menghadapi musuh ghaib setan yang beroperasi di hati kita. Setan dengan kelihaian muslihatnya bisa dengan mudah menyusupkan perasaan bangga berlebihan dan godaan ujub riya' di setiap aktifitas kita. Sifat itulah yang dapat merusak kesucian amalan baik dan dicatat sebagai dosa syirik. Ini yang mesti kita prihatini. Apalagi bila kita berani meninggalkan keluarga, karir dan pekerjaan demi kerja kemanusiaan, ajakan setan agar kita terbujuk pamrih kian berlebih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kadang karena saking pandainya setan, rasa pamrih itu tidak sampai terucap, tapi cuma terbersit di hati. Namun itu sudah cukup mengurangi keikhlasan amalan. Mari kita waspadai secara jeli dan sejak dini. Jangan sampai kesukarelawanan kita menjadi percuma karena terpengaruh bisikan setan yang mengajak riya'.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, niat jihad investasi penanaman modal akhirat. Bahwa apa yang kita lakukan semata berharap derajat 99 % di akhirat berupa ridho dan ampunanNYA. Makanya di setiap detik aktifitas kemanusiaan kita, iringi dengan konsentrasi dan kekuatan doa agar pelayanan kita diterima olehNYA. Seraya kita berharap bakti kasih peduli kita bisa bermanfaat untuk kemaslahatan umat dunia akhirat. Amal baik kita dicatat tanpa cela dan bisa kita tuai kelak di kehidupan selanjutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadikan semangat kesukarelawanan dan refleksi hari Pahlawan sebagai  misi awal mengembalikan fitrah penciptaan insan. Memanusiakan manusia, mengagamakan agama, mengimankan iman. Semoga sampai di akhir tujuan, kita akan tercatat sebagai mukhlasin yang bekerja lillaahi ta'ala. Kita dicatat wafat tanpa membawa dosa. Meski kita dimakamkan tanpa penghormatan, tanpa tembakan salvo ke udara, dan tanpa tanda penghargaan, pada akhirnya kita telah menang perang. Mudah-mudahan kita disemayamkan oleh Tuhan sebagai pejuang kebenaran: seorang pahlawan tanpa nisan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sikakap, Kepulauan Mentawai, 11/11/10&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-122414733055451850?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/122414733055451850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=122414733055451850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/122414733055451850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/122414733055451850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/11/pahlawan-tanpa-nisan.html' title='Pahlawan Tanpa Nisan'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7669151528250434785</id><published>2010-11-04T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:42:48.175+07:00</updated><title type='text'>Bukan Bencana Biasa</title><content type='html'>Saat gempa dan tsunami meratakan wilayah Serambi Mekah dengan tanah, kita semua kaget terperangah. Seolah tak percaya bencana sengeri itu bisa menyapa Indonesia. Setelah tsunami itu, bencana berlangsung bak parade yang panjang bersambung. Tak pernah berhenti hingga kini. Kecelakaan transportasi laut, darat dan udara seringkali terjadi. Bencana alam memamerkan tarian mautnya. Berproses sistemik dan periodik. Ia meliuk-liuk menubruk ujung barat Indonesia hingga mencapai timur Papua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban berat. Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” (Qs. 99 : 1-3).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita pun bertanya-tanya. Kenapa alam seolah marah dan menyerang kita semua. Padahal kita sudah merasa berbuat baik, terjaga dari perbuatan dosa dan sempurna memerankan tugas sebagai hambaNYA. Lalu apa yang keliru dengan semua itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian saudara kita memahami fenomena bencana ini sebagai teguran keras dari Tuhan atas kerusakan moral yang kian akut dan massal. Sebagian mengartikan murka alam dipicu ulah elit politik yang jahat dan pemerintahan yang korup. Sebagian lagi berasumsi ini semua merupakan proses alamiah dari siklus bumi yang tengah menyesuaikan sunnah kosmos-nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lepas dari asumsi-asumsi itu, saya mengajak kepada kita semua untuk refleksi. Mencoba mengarifi diri atas fenomena bencana ini tanpa menyalahkan pihak lain. Kita mulai dengan mau jujur dan berani menyalahkan diri kita sendiri. Bahwa kita semua sedang melakukan kesalahan. Kita sendirilah yang memanggil bencana itu datang. Kitalah yang menjadi penyebab korban-korban berjatuhan di sepanjang wilayah kedaruratbencanaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita salah karena membiarkan fakta penyimpangan moral dan kejahatan sosial berlangsung di depan mata kita. Kita salah mengabaikan nasib fakir miskin dengan cara menumpuk kekayaan pribadi. Kita salah menafikan keberadaan Tuhan karena waktu habis untuk kesibukan diri memburu rejeki. Kita merebut, mencintai dan menikmati air, udara, tanah, tanaman, sawah, ternak, hasil laut, minyak, hasil pertambangan dan semua ciptaan milik Tuhan, tapi kita sendiri lupa mengingat apalagi mencintaiNYA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita salah karena hanya bisa memaki dan meneliti kesalahan orang lain, mengingkari dosa sendiri yang menutupi mata hati. Kita salah karena tekun berdoa ketika susah, tapi lupa bersyukur ketika memperoleh anugerah. Kita keliru menikmati rejeki halal hanya untuk keluarga saja, tidak sempat berbagi dengan keluarga lain yang telantar dan miskin. Kita salah karena merasa sudah sangat baik sehingga menolak dikritik. Kita salah karena merasa selalu paling benar dan gampang menyalahkan orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah sesungguhnya bencana luar biasa yang luput dari perhatian kita. Bencana yang sudah berlangsung lama dan memporak-porandakan ikatan kemanusiaan kita. Bencana yang membuat ruang keluarga kita tercerabut dari fungsinya. Bencana yang memaksa kita saling pecicilan dan sibuk mengawetkan pertikaian. Bencana ini bukan bencana biasa. Tapi bencana sangat luar biasa dahsyat. Karena semua manusia menjadi korbannya dan dampak sebarannya merata di penjuru dunia. Bencana itu adalah kelalaian kita menghitung dosa pribadi dan meneliti kesalahan sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika bencana alam masih memungkinkan untuk diawasi dan diantisipasi sejak dini, maka bencana yang menimpa diri kita ini sulit dideteksi. Kalaupun sampai berhasil kita ketahui, biasanya malah kita tutupi karena takut terlihat orang lain.&lt;br /&gt;Sekali lagi mari kita berani refleksi jujur mengarifi diri. Belajar bersama bencana yang terus bersambung ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu pesan yang bisa kita ambil adalah jangan mudah menyalahkan orang lain, apalagi sampai menjadikan korban bencana sebagai pihak tertuduh penyebab turunnya siksa. Karena pada hakikatnya, kita juga punya salah dan dosa yang merangsang bencana itu datang. Meminjam terminologi filsafat Cina, pikiran, ucapan dan tindakan kitalah yang membuat keseimbangan unsur Yin Yang menjadi hilang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bencana sepertinya akan terus mengejar hingga kita sadar dan mulai tekun refleksi diri. Berhenti menyalahkan orang lain dan belajar mengarifi kesalahan pribadi. Menganggap bencana sebagai “berita biasa” karena saking seringnya muncul di media, bisa jadi bagian dari proses bencana itu sendiri. Selanjutnya bencana hukuman alam akan menggilir kita di saat kesadaran sudah terlambat menepati batas tenggat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ditulis jelang naik KRI 543 Teluk Cirebon sambil melambai damai ke arah Mentawa&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7669151528250434785?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7669151528250434785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7669151528250434785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7669151528250434785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7669151528250434785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/11/bukan-bencana-biasa.html' title='Bukan Bencana Biasa'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-2775695072121140868</id><published>2010-10-28T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:47:20.981+07:00</updated><title type='text'>Pemuda Indonesia, Pimpinlah Dunia !</title><content type='html'>Rasulullah Muhammad SAW dikenal menjadi pemimpin dunia tidak ujug-ujug begitu saja. Sejak muda, beliau sudah membangun kepercayaan. Karir kepemimpinan beliau dimulai saat menjadi juru penengah para kabilah Makkah saat proses akhir pemugaran Ka'bah. Usul peletakan Hajar Aswad yang disarankan beliau disambut setuju oleh para tetua suku. Atas prestasi itu, beliau digelari Al Amin dalam usia dua puluh lima. Rasulullah Muhammad memelopori semagat revolusi peran pemuda dalam upaya mendamaikan dan menyatukan kaumnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahim Khalilullah, Bapak dari agama Islam, Nasrani dan Yahudi. Saat beliau memulai revolusi melawan tirani raja dan penyembahan berhala, usianya menapak pemuda. Yusuf juga masih muda saat diamanahi jadi perdana menteri. Nabi Musa berusia kurang dari tiga puluh tahun ketika menyelamatkan umatnya dari Firaun. Nabi Dawud berusia sembilan tahun ketika mampu mengalahkan Raja Jalut. Nabi Isa masih berstatus pemuda ketika beliau memimpin muridnya melakukan pelayanan kemanusiaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Panglima Besar Jenderal Sudirman menjabat pucuk pimpinan TNI di usia kepala tiga. Usia yang masih terhitung sebagai seorang pemuda. Para Rasul/Nabi dan Pak Dirman masih berusia muda ketika berjuang mengarusutamakan teologi pembebasan demi kesejahteraan kaum dan bangsanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inspirasi tokoh-tokoh itu, kiranya bisa sebagai kado buat kaum muda Indonesia sekaligus refleksi Hari Sumpah Pemuda yang kita peringati 28 Oktober ini. Ya, sebagai pemuda kita mesti punya mimpi dan obsesi. Sebelum kita beranjak tua, setidaknya kita mampu menorekan prestasi yang bermanfaat bagi sesama. Ya, Indonesia adalah sepotong surga dengan segenap kekayaan potensi sumber daya alam dan manusia yang membuat iri dunia. Ya, kita harus optimis dan percaya, pada gilirannya kepemimpinan dunia akan lahir dari Indonesia. Ya, embrio mercusuar itu akan digerakkan oleh para pemuda, sebagaimana sejarah mencatat peristiwa Sumpah Pemuda dan proklamasi merdeka 1945.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kenapa kita optimis dan percaya Indonesia akan menjadi pemimpin dunia? Karena Indonesia sejatinya dilahirkan sebagai miniatur dunia. Lihatlah Indonesia dengan anugerah keanekaragaman hayati, kekayaan budaya, ratusan rumpun bahasa, corak warna manusia, dan potensi alamnya. Bentuk geografis kepulauan seperti mewakili komunitas yang terdiri dari berbagai koloni. Mirip dunia yang kecil bentuknya. Itulah Indonesia. Di tengah keberbedaan itu kita bisa tetap satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara kita menyaksikan kegagalan bangsa lain dalam upaya menyatukan pemahaman. Ultra Nasionalis yang digerakkan Hitler telah runtuh. Fasis yang disponsori Musollini sudah mati. Ideologi komunis yang dirintis Stalin-Lenin tak mampu menyatukan Soviet. Kapitalisme kolonial yang diusung Amerika dan sekutunya terbukti menistakan umat manusia. Rezim apartheid dan rasis model Israel mengundang permusuhan banyak bangsa. Ideologi-ideologi itu terbukti tak mampu membahagiakan manusia dan kini malah sekarat menuju ajalnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah Indonesia memiliki jawabannya. Sebuah ideologi dan cita-cita yang dibangun bersama keanekaragaman agama, bangsa, bahasa, dan budaya. Sebuah negara yang merdeka hanya karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Dengan ideologi Pancasila, Indonesia mampu menjaga keberbedaannya dalam kerukunan Bhinneka Tunggal Ika. Keunggulan fakta Indonesia inilah yang sebenarnya dibutuhkan dunia. Terutama untuk misi menciptakan perdamaian, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lihatlah kontingen penjaga perdamaian Indobatt di Kongo dan Lebanon. Aroma harum Indonesia tercium dari sana berkat kiprah TNI-Polri kita. Ilmuwan dan saintis kita berserak di rumah-rumah penelitian dan laboratorium elit dunia. Pelajar kita langganan piala olimpiade fisika dan kimia. Mahasiswa kita sering memenangi kontes robot internasional walau sering dalam proses pembuatannya kekurangan modal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Silakan googling, dan temukan lagi banyak fakta membersyukurkan, bahwa sebenarnya potensi sumber daya manusia Indonesia membawa jeladren DNA juara. Mereka itu rata-rata masih berusia muda, dari anak-anak, usia remaja hingga usia kepala tiga. Fakta inilah yang kian menguatkan harapan dan keyakinan, bahwa sudah saatnya pemuda Indonesia menjadi pemimpin dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu pemuda Indonesia macam apa yang layak dinominasikan menjadi pemimpin dunia? Setidaknya pemimpin ini harus memiliki ciri-ciri berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, memiliki etika profetik. Yakni tugas kepemimpinan yang diemban para Rasul/Nabi atas dasar penunjukan dari ilahi. Keberpihakannya nyata kepada rakyat jelata. Bukan dibuat-buat untuk menaikkan citra. Kepemimpinan ini dibangun menuju arah Keesaan Tuhan, kemanusiaan yang beradab, persatuan insan, musyawarah, dan keadilan bagi dunia. Pemimpin seperti ini muncul tak disangka-sangka. Ia bukan karbitan media atau juara audisi lomba. Ia bukan selebritis atau sosialita. Bisa jadi ia seorang ummi, seorang yang tidak bisa baca tulis huruf. Ia mungkin lemah di pengetahuan umum dan miskin publikasi. Tapi ia cerdas iman, jujur, kaya hati dan mampu memetakan kebenaran. Bisa jadi usianya masih muda tapi dewasa kebijaksanaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, memiliki jiwa dan filosofi penggembala. Seorang penggembala adalah pribadi pemimpin yang sahaja, sepi pamrih, sabar mengelola, tegas menjaga kedisiplinan, dan berani bertanggungjawab terhadap keselamatan gembalanya. Pemimpin ini berani miskin dan tak segan berkorban demi kesejahteraan agama, bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, Think SMART, FAST Action. Berfikir cerdas, bertindak gegas. SMART adalah singkatan dari ukuran keberhasilan rencana yakni spesific, measureable, attainable, reasonable, timeline. Pemimpin ini berfikir tidak serampangan seperti preman. Tapi penuh perhitungan dan pertimbangan. FAST adalah singkatan dari aksi yang berbasis akhlak para nabi yakni fathonah, amanah, shiddiq, tabligh. Pemimpin ini bertindak strategis, bertanggungjawab, jujur, setia dalam kebenaran, transparan, komunikatif dan penuh keterbukaan. Ia berani meminta maaf dan tidak enggan mengakui kesalahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Pemimpin ini tidak selalu minta posisi di depan. Ia malu rebutan jabatan. Ia rela di tengah. Ia bahkan tak malu mempersilakan orang lain memimpin dirinya. Ia bisa “duduk” di belakang dan menjadi orang tua yang mengasuh anaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mulailah memimpin diri sendiri sebagai latihan sejak dini. Karena sesungguhnya setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jadikan kondisi Indonesia yang carut marut ini sebagai bahan pembelajaran dan refleksi. Jika kita sebagai pemimpin, apa yang akan kita lakukan? Jangan cuma pandai menyalahkan orang lain dan saling tuding kening.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tengah keprihatinan dan duka akibat bencana alam maupun sosial yang ramai hari-hari ini, mari tetap menjaga harap. Sambil terus bersyukur atas teguran dan peringatan Tuhan. Maknai bencana dan peringatan Sumpah Pemuda sebagai sarana pemersatu kemanusiaan dan perekat kebangsaan. Mudah-mudahan gunung Merapi dan laut Mentawai sedang mengirimkan pesan: “Pemuda Indonesia seharusnya memimpin di depan sebagai pengayom dan teladan dunia. Bukan malah ribut adu mulut di belakang, jadi sumber pertikaian dan pengangguran banyak acara.”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-2775695072121140868?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/2775695072121140868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=2775695072121140868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2775695072121140868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/2775695072121140868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/10/pemuda-indonesia-pimpinlah-dunia.html' title='Pemuda Indonesia, Pimpinlah Dunia !'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-722461681051040749</id><published>2010-10-21T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-26T08:49:04.604+07:00</updated><title type='text'>Dicari, Pemimpin Berani Miskin</title><content type='html'>Sebelum dilantik sebagai seorang Rasulullah, Muhammad adalah pedagang dan eksportir sukses. Bisnis antar negara yang dirintis bersama Khadijah ra, berkembang dengan baiknya. Karena aspek keuletan dan bisa menjaga kepercayaan, usaha beliau berdua sukses berat. Dalam waktu singkat konsinyasi ini banyak mencatat keuntungan berlipat. Khadijah dan Muhammad yang masih muda tercatat sebagai sosialita terhormat. Beliau berdua dikenal sebagai bangsawan kaya raya di kotanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Revolusi peradaban ternyata menuntut banyak pengorbanan harta, jiwa, dan raga. Keluarga Rasulullah yang awalnya dikenal kaya raya berubah menjadi jelata. Pola hidupnya sangat sahaja. Harta bendanya ditasarufkan habis untuk pembiayaan perjuangan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Puncak pengorbanan Rasulullah di awal pengutusan adalah ketika Sayyidah Khadijah wafat di tenda pengungsian yang darurat. Isteri pertama pemimpin Islam itu menanggalkan status bangsawan beserta semua atribut kekayaannya dan menghadap Rabb sebagai seorang hamba yang miskin papa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain kisah di atas, dari sirah nabawiyah kita bisa menapaktilasi kembali jejak kepemimpinan Rasulullah yang banyak melahirkan kisah pengorbanan. Beliau mewariskan keteladanan bagaimana menjadi pemimpin bagi pribadi, keluarga dan komunitasnya. Seorang figur pemimpin yang berani miskin tidak sempat kaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar. Padahal jika beliau mau, banyak harta rampasan dan upeti dari wilayah taklukan yang bisa dimanfaatkan. Sayyidina Umar pernah menangis terharu karena melihat Rasulullah tidur hanya beralas anyaman tikar yang kasar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah beliau pun hanya nempong, teronggok seper sekian meter di serambi masjid Nabawi. Padahal kedudukan beliau saat itu sudah setara dengan Raja Persia dan Kaisar Roma –penguasa dua negara adidaya waktu itu. Kalau Rasulullah mau, beliau bisa saja membangun istana semegah-megahnya untuk tempat tinggal bersama keluarga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sebuah hadis, ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Kami adalah keluarga Muhammad selama sebulan kami tidak menyalakan api kecuali hanya sekedar kurma dan air”. (HR. Al-Bukhari). Masih banyak lagi riwayat hadis yang mengisahkan Rasulullah adalah ciri pemimpin yang lekat dengan kaum miskin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beliau berperilaku begitu bukan karena sengaja nyeleneh atau kurang gaul tidak mengerti trend gaya hidup. Tapi karena beliau melihat kepentingan perjuangan, kebutuhan agama, umat dan bangsanya lebih mendesak didahulukan, sehingga tidak sempat mementingkan kebutuhan pribadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Periode kekhalifahan empat sahabat (khulafaur-rasyidin) juga diwarnai keteladanan tentang figur pemimpin yang pro rakyat miskin. Khalifah Abu Bakar menghibahkan seluruh kekayaannya kepada Rasulullah untuk kepentingan perjuangan. Khalifah Umar bin Khattab terkenal dengan kesederhanaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khalifah Ustman bin Affan yang berani mengorbankan seluruh aset permodalan untuk pembiayaan peperangan sehingga beliau dikenal dermawan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang hidupnya akrab dengan kemiskinan. Beliau-beliau ini meneladani, seorang pemimpin tidak sempat kaya di dunia karena kebutuhan agama dan bangsa lebih mendesak untuk didahulukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di masa tabi'in, tersebutlah kisah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebelum menjadi pemimpin beliau seorang yang kaya dan tampan. Setelah dilantik menjadi pemimpin beliau tampak kurus, miskin dan berkulit kering karena keprihatinan yang begitu tinggi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila Anda kaum Yahudi, bergurulah kepada Nabi Musa AS. Awalnya ia adalah putera mahkota penguasa Alexandria. Tumbuh kembang hidupnya terbiasa sebagai pangeran di lingkungan istana. Tapi begitu mendapatkan tugas kepemimpinan umatnya, ia banting setir menjadi gembala.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan saat berhasil menumbangkan kekuasaan Firaun, Nabi Musa tidak tergoda untuk menduduki singgasana. Beliau lebih memilih status jelata dengan berhijrah menemani Bani Israel yang terlunta-lunta ke Palestina.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi saudara saya umat Nasrani, baiklah kita putar kembali kisah hidup Nabi Isa AS. Beliau menghabiskan seluruh pengabdiannya untuk memimpin umat kepada jalan keselamatan. Saking sibuknya berjuang, beliau tidak sempat membuat rumah dan tak sempat menikah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari satu perjalanan ke perjalanan yang lain, Nabi Isa mencatat banyak kisah pengorbanan. Pernah dikisahkan, Nabi Isa dan ibu Mariyam makan daun-daunan untuk sekadar menutup rasa lapar. Padahal, Nabi Isa as dan ibunya Mariyam terlahir dari Keluarga Imran yang berkecukupan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saudara pengiman ajaran Budha bisa belajar dari pengorbanan Sidharta Gautama. Beliau yang awalnya pangeran putera raja, rela meninggalkan istana untuk jadi pertapa yang jelata. Sang Gautama berani mendermakan hidupnya untuk berdampingan bersama si miskin dan melayani kumpulan kasta rendahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk pembaca yang berselera tribal dan gemar kearifan lokal, lihatlah Suku Kajang di pedalaman Bulukumba Sulawesi Selatan. Pemimpin mereka Ammatoa, memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sang Ammatoa adalah orang terakhir yang merasakan kemakmuran bila penduduk mengalami kemakmuran, namun menjadi orang pertama yang akan merasakan kemiskinan bila penduduk dalam kondisi kekurangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di masa revolusi kemerdekaan, ada teladan Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman. Beliau berjuang, bergerilya, rela sengsara, miskin fasilitas, letih masuk hutan turun gunung bersama anak buahnya dalam kondisi yang prihatin dan jelata seadanya. Semua itu ditempuh demi membela prinsip kebenaran yang diyakini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beliau-beliau itu adalah pemimpin di masa lalu yang bisa menjadi teladan di masa sekarang. Terutama bagi kita umat Islam. Di tengah wacana suksesi kepemimpinan, kisah para pendahulu itu menjadi relevan kita renungkan. Belajar dari teladan di atas, figur pemimpin yang berani miskin dan tidak sempat kaya adalah yang dibutuhkan umat saat ini. Ada beberapa alasan kenapa kita harus mencari sosok pemimpin yang berani miskin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, seorang pemimpin adalah pelayan bagi umatnya. Dengan sekuat tenaga, pikiran, harta dan jiwanya, seorang pemimpin akan berusaha memenuhi kebutuhan setiap warganya. Jika sudah berkomitmen begitu, seorang pemimpin tak akan bisa sempat kaya apalagi menumpuk harta pribadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makanya seorang pemimpin harus siap miskin dengan segenap pengorbanan bahkan jika keadaan mengharuskan menyerahkan semua kepemilikan. Asumsinya, harta yang dimiliki akan akan habis disalurkan untuk kebutuhan agama, bangsa dan negara yang tak pernah berhenti meminta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, figur pemimpin berani miskin adalah negasi yang sesuai untuk menyikapi mainstream kepemimpinan saat ini. Yakni mereka yang ingin memimpin karena berambisi kaya dan punya kuasa. Karena kemaruk harta, maka semua cara ditempuh. Bila perlu penyalahgunaan wewenang, menipu, korupsi, dan perilaku amoral lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Model kepemimpinan seperti ini akan membuat agama, bangsa dan negara jadi rusak. Umat tidak diurusi, dibiarkan telantar, saling bertengkar dan sengsara selamanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makanya figur pemimpin berani miskin tidak sempat kaya di dunia, harus dikampanyekan. Sebagaimana teladan para Rasul dan Ammatoa, pemimpin adalah orang pertama yang akan merasakan kemiskinan bila masyarakatnya dalam kondisi kekurangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, figur pemimpin berani miskin memiliki komitmen pengorbanan yang tinggi. Ia tak akan kuatir melarat bila tenaga, pikiran, jiwa raganya fokus mengurus umat. Ia tidak takut miskin hanya karena rajin bersedekah. Ia tahu bahwa penyakit takut miskin dan anjuran kikir itu adalah bisikan syetan (Al Baqarah : 268) yang harus dilawan dengan cara banyak-banyak menyedekahkan kepemilikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Figur pemimpin seperti ini akan total menyejahterakan bangsanya. Ia akan menjadi orang terakhir yang merasakan kemakmuran di dunia setelah masyarakatnya. Visi pribadi pemimpin seperti ini adalah kaya harta di akhirat saja. Sehingga ia tak tergiur kekayaan dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seluruh fasilitas kepemilikannya di dunia akan disedekahkan untuk kepentingan masyarakat. Karena pemimpin ini meyakini, semakin banyak kepemilikan pribadi yang disedekahkan selama di dunia ini, maka semakin banyak pula hadiah dan bonus ganjaran yang bisa dinikmati di akhirat nanti. Semakin banyak melayani, maka semakin besar remunerasi gaji yang didapat dari ilahi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khusus bagi para alim ulama dan atau tokoh agama, kita-lah generasi pelestari tradisi kepemimpinan para Nabi. Tentu kita akan mencintai dan berusaha mengikuti keteladanan Rasulullah, uswah hasanah kita semua. Baiklah berikut saya kutipkan sebuah hadis yang tentunya sudah kita kenal dan hapal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Abdullah bin Mughaffal r.a berkata: Seorang datang kepada Nabi dan berkata: "Demi Allah, saya kasih kepadamu Ya Rasulullah." Jawab Nabi, "Perhatikan benar-benar perkataanmu itu." Orang itu berkata lagi, "Demi Allah, saya cinta kepadamu, Ya Rasulullah." Diulangi kata-kata itu tiga kali. Maka sabda Nabi, "Kalau benar kau cinta-kasih kepadaku, maka bersiap-siaplah menghadapi kemiskinan, dengan baju kokoh kuat (dapat mengatasi segala kemungkinan). Karena kemiskinan itu lebih cepat datangnya kepada orang yang cinta kepadaku melebihi kecepatan banjir ke dalam jurang." (HR. At Tirmidzi)  Riadhus Sholihin Juz 1 hal. 412 no. 28 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka jika kita rajin bersyahadat cinta Rasul, lalu tidak siap miskin untuk perjuangan keumatan, klaim pengakuan kita patut dipertanyakan. Bila kita masih ngotot ingin kaya di dunia, rajin menumpuk harta, berusaha untuk pribadi dan keluarga saja, akhirnya kikir dan pelit bersedekah karena takut miskin, perhatikan surat peringatan dari Allah berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karuniaNYA kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (Qs. Al Baqarah : 268)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari ayat dan hadis di atas, kita bisa simpulkan dasar hukum penetapan figur pemimpin yang berani miskin, kaya peduli, bertanggungjawab menyejahterakan umatnya, serta bersemangat kaya di akhirat saja. Jika ada pemimpin atau tokoh agama yang belum bisa berperilaku seperti itu, maaf saya belum bisa mempercayainya apalagi meniru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah sekarang saya sudah menemukan pemimpin yang berani miskin ini. Figur ulama yang mewarisi tradisi kepemimpinan para Nabi (al ulama' warotsatul anbiya').  Beliau adalah Bapa Guru MA. Muchtar, pendiri Yayasan Ponpes SPMAA Turi Lamongan. Sebagai motivasi awalan, temukan figur pemimpin berani miskin itu di dalam pribadi Anda sendiri. Karena setiap pribadi hakikatnya adalah pemimpin bagi diri dan keluarganya yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Wallaahu a'lam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-722461681051040749?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/722461681051040749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=722461681051040749' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/722461681051040749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/722461681051040749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/10/dicari-pemimpin-berani-miskin.html' title='Dicari, Pemimpin Berani Miskin'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-383815867924713074</id><published>2010-10-13T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:23:56.824+07:00</updated><title type='text'>Berkarir Menjadi Santri Filantropi</title><content type='html'>Bapa Guru MA. Muchtar pernah berkisah tentang aksi “cepat tanggap darurat” beliau saat menangani banjir di desa kami. Saat itu pertengahan tahun 60-an, wilayah Lamongan banyak terendam. Terutama di area delta dan desa-desa di jalur sungai anak bengawan Solo bermuara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada dua kisah beliau yang mengilhami tulisan ini. Pertama, saat banjir terjadi, banyak penduduk mengungsi ke desa yang memiliki dataran lebih tinggi. Lokasi pesantren Bapa Guru kebetulan berada di desa yang relatif aman sehingga menjadi destinasi para pengungsi. Karena keterbatasan sarana, Bapa Guru menampung seratusan pengungsi dari tiga desa di musholla pesantren.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama lima bulan lebih, Bapa Guru dibantu isteri beliau menyediakan kebutuhan sehari-hari pengungsi ini. Dengan semangat swadaya dan kerelawanan, Alhamdulillah survival bisa bertahan. Apa saja menu sajian yang dimakan para pengungsi, menu yang sama pula yang dinikmati Bapa Guru bersama anak isteri. Sering dalam sehari hanya menikmati sekepal nasi atau rembusan umbi-umbian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Guru konsisten mengajarkan kepada isteri dan keluarga tentang "hasil kerja untuk kebersamaan". Bagi Bapa Guru, adalah perilaku keliru, termasuk dosa dan tabiat jahat bila hasil kerja halal kita hanya dihabiskan bersama sekeluarga atau hanya dinikmati sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita kedua, saat itu debit air sungai terus naik dan mulai mengancam lahan persawahan. Dam desa yang mengatur pengairan dari sungai ke sawah nyaris jebol. Selain karena volume dam kecil, pintu dam yang terbuat dari kayu biasa tak cukup kuat menahan tekanan air banjir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika sampai dam itu jebol, penduduk terancam gagal panen dan itu berarti harus siap paceklik lama. Karena sawah itu satu-satunya sumber makanan penduduk desa. Wilayah yang terisolasi dan keterbatasan teknologi informasi saat itu tak memungkinkan untuk meminta bantuan. Sehingga para pamong seolah mati langkah dan penduduk juga sudah menyerah pasrah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melihat situasi itu, Bapa Guru berinisiatif bersama para santri. Berpacu dengan waktu dan situasi gawat darurat yang menuntut penanganan cepat, Bapa Guru memutuskan mencongkel sebagian dinding musholla pesantren yang terbuat dari papan kayu jati. Dinding congkelan dari kayu jati itu kemudian digunakan untuk memperkuat penutup pintu dam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski beberapa tokoh agama mencemooh inisiatif itu, --alasannya dinding rumah ibadah tak sepantasnya dicongkel hanya untuk menambal dam-- Bapa Guru bergeming dengan keputusannya. Alhamdulillah, berhasil. Penutup dam yang diperkuat kayu jati congkelan dinding musholla tadi, mampu untuk menahan debit air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir pun tidak sampai merusak sawah berkat pertolongan Allah melalui inisiatif berani nan cerdas Bapa Guru bersama santri. Setelah peristiwa ini, kegiatan penanganan kebencanaan selanjutnya dilembagakan melalui kiprah Santri Tanggap Bencana (SANTANA) Yayasan Ponpes SPMAA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari-hari ini berita bencana dan cerita kepiluan manusia datang bergelombang. Bencana alam berupa angin puting beliung, banjir bandang, kecelakaan transportasi masal, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan, menyapa kita silih berganti. Terbaru kita dengar kabar dari Wasior, wilayahnya habis diterjang banjir longsor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seolah tak mau kalah, bencana sosial juga turun beruntun seperti drama berseri tentang kisah-kisah pariah. Carut marut rebutan kekuasaan, meningkatnya angka kemiskinan, adu domba berbau SARA, perdagangan manusia, TKI disiksa, penyimpangan misi pendidikan, pembunuhan, berita kriminal massal, perilaku guru/siswa yang amoral, intrik politik, pelecehan hukum keadilan, pemujaan syahwat, obral pamer aurat, kekerasan yang dilembagakan, kedaulatan negara yang direndahkan, serta ancaman kematian nurani masyarakat negeri ini. Bahaya latent bencana sosial dan bencana alam yang butuh penanganan darurat, tepat dan cepat sebelum semuanya terlambat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bencana selain mengundang keprihatinan, juga menghadirkan secercah hikmah. Blessing in disguise. Inilah saat dimana Allah mengajari para santri untuk melu handarbeni mengurus nasib pertiwi. Bencana sosial dan alam itu seolah pekerjaan rumah dari madrasah muamalah yang harus cepat-cepat diselesaikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para survivor bencana perlu dibantu kebutuhan hidupnya. Psikisnya butuh dihibur. Perilaku yang menyimpang perlu ditegur. Anak-anak yang kudu dijaga proses tumbuh kembangnya. Juga survivor wanita dan lansia yang rentan nasibnya. Koruptor dan kriminal yang butuh disembuhkan mentalnya. Pelaku kerusuhan yang butuh dimanusiakan lagi. Pertanyaan yang patut dijawab para santri, “Apa saja yang sudah kita lakukan menyikapi fakta ini, selain ramai diskusi di meja wacana dan berlama-lama mengaji kitab suci?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belajar dari kisah Bapa Guru kita bisa memotivasi santri dalam menyikapi fakta bencana alam dan sosial yang marak di dunia, khususnya Indonesia.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, komunitas santri bisa berperan aktif, realis dan strategis tanpa meninggalkan jejak intelektualitasnya. Memilih profesi yang bukan sekadar penasehat dengan modal hafalan ribuan ayat. Tapi peran yang lebih membumi, manusiawi, bersahabat dan bermanfaat langsung buat masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kerja humanitarian yang berangkat dari niat konsistensi pengamalan ayat kitab suci. Sebuah pekerjaan yang tak perlu gelar pintar, prosesi walimah akhirussanah, atau menunggu dipanggil “wak ustadz” dulu. Sebuah pilihan karir yang mengejawantahkan kajian qaulan wa fi'lan. Satu ayat kitab suci dipelajari, langsung diejawantah ke dalam sejuta aksi peduli. Inilah profesi sekaligus karir “Santri Filantropi”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, seorang santri bisa menjadi agen perubahan sekaligus trendsetter dalam gerakan amal sosial. Saat itu belum ada lembaga pesantren yang mengurusi kebencanaan. Namun Bapa Guru sudah memulainya dengan aksi sederhana berbasis masyarakat desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah patriotik Bapa Guru ini sekaligus membalikkan anggapan keliru bahwa santri hanya ahli ngaji, kemulan keterbelakangan dan sarungan kemalasan. Santri bisa jadi seorang decision maker yang tanggap dan cepat bertindak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Kita juga bisa belajar tentang kemandirian dan keswadayaan dalam menggiatkan kerja kemanusiaan. Dengan semangat filantropi, kita tidak eman mengorbankan harta yang kita cintai untuk kepentingan humanitarian. Seorang santri filantropi berkeyakinan, harta yang kita dermakan di dunia ini adalah investasi akhirat yang akan kita nikmati. Semakin banyak semakin bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini yang terjadi, pembangunan rumah ibadah atau kegiatan sosial, nantinya tak perlu lagi menjual iba, mengais proposal ke lembaga dana, atau memajang kotak amal di sepanjang jalan raya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, semangat filantropi sangat mendesak dibutuhkan dan relevan untuk memulai usaha penyelamatan bangsa ini. Dan itu harus dimulai oleh para santri. Karena negara ini dihuni oleh sembilan puluh persen kaum santri –dengan asumsi setiap Muslim sejatinya adalah santri--. Sementara komunitas santri dengan kultur budaya asrama pemondokannya, identik dengan semangat kerelawanan, ngluthuk, rendah hati, perilaku kesahajaan dan kental nuansa egalitarian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter ini apalagi bila ditambah dengan pengamalan nilai-nilai kebenaran universal, akan sangat bermanfaat untuk mengobati gejala bencana sosial seperti: rakus harta, rasis, egois, haus puji, chauvinis, dst.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, dengan berkarir jadi santri filantropi yang gemar berbagi peduli kepada sesama tanpa membedakan SARA, kita akan terhindar dari cap pendusta agama. Sebagaimana firmanNYA di surat Al Maun ayat 1-7. Bahwa kita tercatat sebagai pendusta agama bila kita rakus memenuhi kebutuhan pribadi lalu tidak peduli nasib si fakir miskin; bahwa sholat dan ibadah ritual formal kita akan dikutuk celaka bila kita enggan menolong dengan sumberdaya yang kita punya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, dengan kebaikan budi pekerti santri filantropi, dilandasi prinsip keikhlasan berkorban, siap diremehkan, menghindari pesan-pesan pencitraan, serta meyakini bahwa semua manusia adalah saudara, maka sukses karir dunia akhirat kita akan sempurna. Stigma dan propaganda yang menjelekkan eksistensi kaum santri akan luntur dengan sendirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menjadi sakti, memenangkan pertempuran dan meraih kemulyaan tanpa ada pihak yang merasa dikalahkan. Mengutip kalimat filsafat dari kearifan budaya Jawa: “Sugih tanpa bondo. Ngluruk tanpo bolo. Menang tanpo ngasorake. Sakti tanpo aji. Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-383815867924713074?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/383815867924713074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=383815867924713074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/383815867924713074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/383815867924713074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/berkarir-menjadi-santri-filantropi.html' title='Berkarir Menjadi Santri Filantropi'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3197303601656006212</id><published>2010-08-30T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:26:25.606+07:00</updated><title type='text'>Tertipu</title><content type='html'>Orang-orang sibuk mencari rejeki. Dari pagi, siang, sore hingga baru pulang malam hari. Katanya demi menghidupi anak isteri. Untuk warisan keturunan yang nanti ditinggalkan. Pak Tani bekerja di sawah. Pegawai pergi ke kantor. Pedagang pergi ke pasar. Wiraswasta rajin membuka lapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua lelah dikejar-kejar kesempatan. Nafas dipacu berlomba dengan waktu. Nadi berdetak terburu. Seolah hidup masih panjang berlalu. Padahal sebenarnya, cerita di dunia akan segera berhenti. Kematian yang tiba-tiba menyapa tanpa pemberitahuan sebelumnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua hasil kerja berupa harta, kebanggaan, medali kesuksesan akan ditinggalkan. Dicatat atas nama pewarisnya. Dikenang oleh jaman. Yang terbawa hanya kafan dan sebujur badan. Tubuh kaku itu masuk kubur ditanam dalam tanah basah. Setelah itu???? Hanya Tuhan yang tahu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;kata Bapa Guru hidup kita di dunia ini ibaratnya singgah sebentar untuk berteduh. Istirahat sejenak mengusap peluh. Selanjutnya kita akan meneruskan perjalanan ke kampung akhirat. Makanya perbekalan jangan dihabiskan. Karena kalau perbekalan habis di tengah jalan, di kampung akhirat kita makan apa???? sedang di sana sudah tidak ada lagi kesempatan berusaha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alangkah sedihnya, jika diri yang satu ini diperlakukan tidak adil. Wong di dunia dipikirkan; dicarikan makan, dibelikan pakaian, diusahakan rumah naungan, dipasangi sepatu, dimulyakan, dst. Lha kok yang di akhirat belum dipikirkan sama sekali??? ini bagaimana ceritanya yah?? Ini namanya tidak adil. Diri yang satu, sama-sama miliknya. yang di dunia dipenuhi kebutuhannya, tapi yang di akhirat belum dipikirkan sama sekali. gimana ya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kawan-kawan jangan mengandalkan syahadat, sholat, puasa, zakat, haji, dan pinter ngaji. Trus merasa sudah cukup bekal pulang ke akhirat. Karena Nabi Muhammad yang sudah jago dan amalannya berlebih saja, masih memikirkan akhirat kok. Buktinya, sampe wafat beliau tidak mewariskan apa-apa ke keturunannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu keluarganya juga begitu. Para sahabat mulai Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka hidup bersahaja di dunia. Tidak ada rumah, kendaraan, atau harta warisan yang ditinggalkan. Seluruh hasil kerjanya dikirim ke akhirat dengan cara disedekahkan untuk perjuangan fii sabilillah, didermakan untuk kepentingan agama, fakir, yatim, janda, dll.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayo kawan-kawan,sadarkan dirimu.&lt;br /&gt;Jangan tertipu dunia yang menawarkan keenakan semu. Enak di dunia ini cuma sesaat setelah itu wafat. Kadang keinginan kita belum kesampaian, maut sudah lebih dulu menjemput. Bukankah itu tertipu namanya?? seolah hidup akan berlangsung seterusnya, tahu-tahu ketika sedang ngotot mengejar harapan, mati menghampiri. Bukankah itu tertipu namanya??&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tengoklah teman-teman,&lt;br /&gt;Orang yang memikirkan kebutuhan dunianya saja, pasti berakhir sengsara. Karena tamak berburu harta, akhirnya terjerat korupsi, dipenjara. Sudah begitu biasanya gak punya malu. Tebar senyum sumringah seolah tak bersalah. Kasian. Tertipu kan? maunya ngurus dunia saja, hingga akhirat terlupa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu sampai di alam kubur, baru tahu bahwa bekal belum tersedia. Maka menjeritlah kita sekuat-kuatnya. Karena kaget dan tak menyangka, secepat itu kita dipanggilNYA. Lebih kaget lagi karena seluruh perbekalan kita tertinggal di dunia. Belum sampai terkirim ke kampung halaman kita, akhirat. Kita melolong minta tolong mengiba agar dikembalikan ke dunia. Tapi semua sudah percuma. Karena saat di kubur, yang tersedia hanya vonis siksa. Tak ada lagi kesempatan mengulang kembali. Yang tersisa hanya jerit menyayat langit....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya aku akhiri tulisan ini dengan untaian pesan Bapa Guru: cinta dunia adalah sumber dari segala kejahatan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3197303601656006212?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3197303601656006212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3197303601656006212' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3197303601656006212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3197303601656006212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2011/01/tertipu.html' title='Tertipu'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-4119589266228944347</id><published>2010-04-30T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:30:56.695+07:00</updated><title type='text'>Karena Kita (bukan) Keluarga Kucing</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh-oleh dari diskusi “Iman dan Pembangunan”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun 1994, Bapa Guru MA. Muchtar diundang oleh Yayasan Bina Swadaya Jakarta untuk menghadiri sebuah diskusi. Tema yang dikemas dalam acara itu adalah “Iman dan Pembangunan”. Acara ini lebih pas disebut dialog antar agama. Karena beberapa tokoh agama sengaja dihadirkan menjadi pengisi materi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Guru mendapatkan kesempatan menjadi pembicara. Saat itu beliau dipanel bersama Romo Pater Dijkstra, seorang rohaniawan senior kelahiran Belanda. Ada juga Bapak Soebadio Sastrasatomo, tokoh sosialis kawakan negeri ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diskusi mengalir dinamis dan cair. Romo Pater mendapat giliran pertama menyampaikan materi. Para peserta menanggapi Romo Pater dengan antusias karena sepertinya sudah akrab sebelumnya. Setelah Romo selesai, giliran selanjutnya Bapa Guru MA. Muchtar memaparkan kajian ilahiahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bapa Guru mendefinisikan iman dalam konteks pembangunan kekinian. Secara cerdas beliau bisa membawa iman yang biasanya menggantung di wilayah “langit tinggi” kembali lagi menjejak bumi. Menjelmakan nilai-nilai iman ke dalam praktik riil kehidupan. Membahasakan iman dengan analogi yang begitu mudah dimengerti.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iman itu memiliki dimensi vertikal dan horizontal”, kata Bapa Guru. Dalam bahasa Al Quran disebutkan “Hablun minallaah-hablun minannaas”. Semakin tinggi iman yang dimiliki seorang hamba kepada TuhanNya, maka semakin tinggi empati dan peduli hamba itu kepada sesamanya. Dalam konteks keIndonesiaan yang majemuk, Bapak Guru menyebutkan sila pertama hingga terakhir dari dasar negara kita: Pancasila.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; seterusnya hingga sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Semua sila bila digabungkan akan bermakna: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Musyawarah; Keadilan Sosial. Artinya, bila orang Indonesia ini semua bersatu mengamalkan Pancasila, memiliki iman kepada Tuhan, maka akan terwujud keadilan sosial dan pemerataan pembangunan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks sosio-religius, semakin dekat seseorang kepada Tuhan, maka akan semakin sibuk orang itu melayani-menolong-berbagi peduli kepada sesama manusia. Sifat-sifat Tuhan akan menular kepada hamba itu. Bapa Guru menerangkan, “Sifat Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang dan selalu sibuk melayani permintaan semua hambanya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau sekarang belum terjadi pemerataan pembangunan di Indonesia, berarti ada yang keliru dengan pengakuan imannya. Lebih tepatnya, ada yang salah dengan praktik ber-Pancasila-nya. Sampai di sini, peserta tetap tekun mengikuti materi. Beberapa nampak memegang dagu sambil mengangguk-angguk menyimak khusyuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bapa Guru menyimpulkan bahwa pengamalan iman dan aspek pembangunan kemasyarakatan sangat berkait erat. Iman itu bukan sesuatu yang utopis. “Iman itu sangat membumi dan humanis.”, terang beliau. Kemudian Bapa Guru menutup pemaparan dengan cerita tentang binatang peliharaan beliau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya punya puluhan ekor kucing di rumah. Setiap hari saya memberi makan mereka dua kali. Pagi dan sore hari.”, ungkap beliau. Kucing-kucing itu setiap kali mendapat jatah makanan atau ketika berburu dan berhasil mendapatkan seekor tikus, pasti akan dinikmati sendiri. Kalaupun ada lebih paling dibagi sama anak isteri. Kucing lain yang coba-coba mendekat minta bagian, pasti akan dimaki habis-habisan. Bahkan tak jarang saling cakar-cakaran. “Itu kucing Lamongan.”, ujar Bapa Guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu apakah kucing Jakarta juga begitu. Saya tanya sekarang kepada hadirin sekalian. Apakah kucing Jakarta perilakunya sama seperti kucing Lamongan yang saya ceritakan tadi?”, pancing Bapa Guru. Spontan peserta berteriak menjawab serempak, “Samaaaaaaa !”. Bapa Guru tersenyum. Sementara peserta diskusi menunggu dan mencoba menerka. Apa kaitan cerita kucing tadi dengan tema diskusi “Iman dan Pembangunan”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bapa Guru melanjutkan pernyataannya, “Nah kalau kita manusia yang mengaku berilmu, beragama dan terpandang beriman, lalu bekerja mendapatkan rejeki hanya kita nikmati bersama anak isteri. Tidak ingat dan enggan berbagi kepada saudara, tetangga atau kaum papa yang telantar dan lapar. Lha kok sama ceritanya dengan kucing peliharaan saya. Kok sama dengan kucing Lamongan dan kucing Jakarta.”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Bapa Guru jeda dan berhenti. Ruangan diskusi menjadi sepi. Audiens terpana. Romo Pater Dikjstra mengernyit sambil memandang Bapa Guru dengan seksama. “Lalu kita ini apanya kucing ya. Apakah anaknya, adiknya, besannya, atau apanya? Kok memiliki sifat yang sama?”, tanya Bapa Guru sambil terus menebar senyum damai beliau yang khas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peserta dan panelis yang sedari tadi diam merenung mulai tersenyum. Awalnya senyum biasa tapi kemudian berganti riuh tawa. Seisi ruangan mendadak ramai. Menertawakan kekonyolan dirinya masing-masing. Seorang peserta berdiri, “Pak Muchtar, kawan saya ini menantunya kucing !”, serunya sambil tertawa menuding-nuding rekan di sampingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Soebadio yang berjejer dengan Bapa Guru di meja panelis spontan menyambung, “Wah, kalau begitu ceritanya Pak, kucing-kucing Jakarta jauh lebih ganas daripada kucing Lamongan!”, akunya. Pernyataan jujur Pak Soebadio disambut tawa riuh peserta. Sekali lagi, tertawa karena sadar kenyataan yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan Bapa Guru tadi terjawab dengan kenyataan tak terbantahkan. Menukik jauh ke lubuk kesadaran. Bahwa iman kita belum ada. Materi yang dibawakan Bapa Guru melahirkan pencerahan baru. Sebuah upaya revolusioner yang harus kita kerjakan segera. Membangun peradaban kemanusiaan yang berketuhanan dan berkeadilan berdasarkan iman. “Memanusiakan manusia, meng-agama-kan agama, mengimankan iman.’, kata beliau di akhir pemaparannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, karena kita bukan keluarga kucing, mestinya kita akan senang berbagi. Karena kita manusia berilmu, beragama, dan beriman, seyogyanya kita tidak saling cakar-cakaran hanya karena rebutan makanan, ambisi dan atau kedudukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita manusia Indonesia yang menganut ideologi Pancasila; mengaku kaum beriman; mestinya kita lebih rajin retreat menangisi dosa sendiri daripada meneliti dan mengumbar kesalahan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat reformasi akan jauh lebih bermakna jika ditujukan kepada perbaikan dan koreksi diri kelompok/pribadi. Bukan makah berlomba-lomba membuka dosa dan mencatat kesalahan orang di berbagai media.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau apakah karena kita keluarga kucing –atau setidaknya tertular virus flu kucing--, sehingga sampai hari ini kita sulit berjalan seiring?? selalu berselisih tak pernah mau bersatu padu saling membantu????? Pikirkanlah secara arif bijaksana. Karena hanya kita yang bisa memilih jawabannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-4119589266228944347?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/4119589266228944347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=4119589266228944347' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4119589266228944347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4119589266228944347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/04/karena-kita-bukan-keluarga-kucing.html' title='Karena Kita (bukan) Keluarga Kucing'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7949723559098359343</id><published>2010-04-01T20:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T14:28:14.031+07:00</updated><title type='text'>Pengguna Bicara F/OSS</title><content type='html'>Kemarin saat melatih teman-teman guru tentang F/OSS, sebagian peserta nampaknya sudah paham tengan F/OSS. Di sesi diskusi, mereka mengaku bingung dengan banyaknya pilihan distro yang ada. Sudah begitu tiap distro mengeluarkan rilis baru dengan tenggat terlalu cepat. Contohnya saja Ubuntu yang rutin menggelar release party setiap enam bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu membingungkan. Pengguna awam atau end user yang belum menguasai semua fitur aplikasi (dalam waktu 6 bulan - 1 tahun), sudah ditawari update rilis yang baru lagi. Bandingkan dengan Win**** yang hanya mengeluarkan 1 jenis rilis dan waktunya relatif cukup bagi usernya untuk membiasakan diri memakainya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kesempatan sosialisasi F/OSS, saya bahkan sempat ngeyel bahwa pake Win**** bajakan itu hukumnya HARAM. Ancamannya NERAKA (Kebetulan target audiens saya memang dari komunitas pesantren / madrasah. Sehingga saya pikir, pas lah kalau pakai istilah Halal-Haram, Surga-Neraka, dst.) Saya terpaksa pake jurus pamungkas itu, karena jalan 'diplomasi' baik-baik sudah mentok. Mereka kebanyakan ngotot berpikir Win**** adalah sistem operasi termudah, terbaik, dan terkenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terlalu menyalahkan bila mereka berfikir sesederhana itu. Mayoritas pengguna komputer di Indonesia adalah end user dan Win**** sudah terlalu lama merajalela menyesaki hardisk lepie/PC di sini. Sehingga yang di pikiran awam mereka: PC / Laptop baru disebut komputer kalau ada ikon jendela melambai berwarna merah, ijo, biru &amp; kuning. Pas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lisensi aseli atau bajakan, itu urusan belakangan. Toh ancaman razia dan pidana penjara dengan UU HAKI, UU ITE, dll, juga belum efektif berlaku sesuai tujuan awalnya. Masih nyop-nyopen dan belum ajeg. Masyarakat pun kerasan menikmati produk bajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini masukan sekaligus kiritik berharga buat rekan-rekan pegiat F/OSS, terutama para pengembang. Jika memang mau memasyarakatkan IGOS secara cepat, tepat, dan hemat, perlu dipikirkan mayoritas pengguna komputer di Indonesia adalah end user. Mereka tahunya make tanpa ingin tahu sourcecode, repo, GPL, ikut madzhab RMS Santo iGNUcius atau Nabi Linus, dan bahasa teknis rumit lainnya. titik. &lt;br /&gt;http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/03/29/18272392/Ranking.ICT.Indonesia.di.Bawah.Vietnam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pegiat F/OSS dan Linuxer, semarak opensource di Indonesia ditandai gairah munculnya komunitas pengembang mungkin perlu disyukuri. Daerah-daerah yang telah migrasi lalu membuat distro yang khas bercirikan wilayahnya, juga membanggakan. Namun seperti kata bijak, memulai lebih mudah daripada menjaga keberadaannya. Merebut kendali lebih mudah daripada mempertahankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai fenomena membersyukurkan itu hanya jadi euforia sebagaimana syahwat sesaat kemudian hilang dari rekam jejak hikayat. Beberapa rekan di daerah bercerita, Pemkab/Pemprop-nya telah migrasi resmi tapi ternyata balik maning ke sistem operasi semula. Tentunya yang non-ori alias bajakan. Ironis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke awal maksud tulisan, bahwa saya bicara mewakili pengguna awam F/OSS. Sudah saatnya rekan-rekan developer Indonesia buat satu distro yang berlaku nasional dan bisa digunakan oleh semua kebutuhan komunitas, terutama para pemula/end user. Tentu ini perlu penyatuan ego nasional. Para Linuxer/Opensourcer jangan ngotot sendiri-sendiri menggemari aliran yang mereka sukai/tekuni lalu bergeming bahwa distro merekalah yang patut dikembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti. Distro atau apapun namanya nanti bisa diterima dan dipakai secara mudah, murah dan sah. Yang bisa diharapkan menghapus rekam jejak Win**** non-ori dan produk proprietary illegal lainnya dari pikiran para pengguna komputer di Indonesia. Pengembang DewaLinux, RimbaLinux, IGOS Nusantara BlankOn, dan beberapa distro lokal lainnya mungkin bertemu untuk membenahi, melanjutkan dan menyatukan lagi cita-cita nasionalnya. Yang handal dan anti mahal plus unggul di fitur-fiturnya. Jangan lupa, ramah pengguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh.&lt;br /&gt;Allaahu Akbar. Merdeka !!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7949723559098359343?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7949723559098359343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7949723559098359343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7949723559098359343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7949723559098359343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2010/04/pengguna-bicara-foss.html' title='Pengguna Bicara F/OSS'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-4821256775351591610</id><published>2008-04-24T08:41:00.000+07:00</published><updated>2008-04-24T08:50:56.473+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>UAN hari ini dimulai. Semua siswa menegang. Adrenalin dipacu hingga titik didih. Satu target dikeroyok rame-rame oleh siswa dan orang tua: KELULUSAN. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya upaya ini dibebani target yang luar bisa sulit dirasakan para siswa. Berbagai upaya sudah ditempuh. Ikut bimbingan belajar, les tambahan, tirakat, istighosyah, gelar doa bersama, hingga yang paling konyol: CONTEKAN.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-4821256775351591610?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/4821256775351591610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=4821256775351591610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4821256775351591610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/4821256775351591610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2008/04/uan-hari-ini-dimulai.html' title=''/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-3479590792729036273</id><published>2008-04-14T17:08:00.000+07:00</published><updated>2008-05-12T05:48:41.899+07:00</updated><title type='text'>Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 2)</title><content type='html'>Untuk itu peran PSM cukup vital dalam hal ini. Keberadaan PSM yang legal formal diakui pemerintah, bersentuhan langsung dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beneficiaries&lt;/span&gt;, independensi gerakan, kerelawanan, serta dukungan jaringan yang luas, bisa menjadi faktor penentu. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa saran yang bisa dicoba PSM baik secara pribadi maupun kelembagaan dalam menangkap peluang kegian CSR sebuah perusahaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penguatan Database PMKS dan Kegiatan PSM&lt;br /&gt;Database PMKS dan kegiatan PSM sering masih acak dan lemah validasinya. Padahal database ini menjadi rujukan penting bagi para pengelola kegiatan CSR di sebuah perusahaan. PSM yang bersentuhan langsung dengan PMKS dampingan, tentu memiliki akses pendataan yang relatif cepat dan akurat. Sehingga database yang milik PSM lebih dipercaya sebagai penentuan kegiatan CSR sebuah perusahaan. Apakah data kita mudah diakses &amp; akurat??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkenalkan: “INILAH  KAMI PSM”&lt;br /&gt;Pemberitaan aktifitas PSM sungguh perlu dilakukan. Karena dengan ini, PSM mudah dikenali masyarakat terutama kalangan perusahaan yang memerlukan mitra dalam kegiatan CSR-nya. Peran PSM dalam merangkul media jelas dibutuhkan. Melalui siaran pers, talkshow radio, kunjungan redaksi, menulis Blog (web gratisan), membuat poster/brosur/kalender/booklet, atau selebaran di jalan, akan berdampak efektif bagi PSM dalam menangkap peluang CSR. Berapa kegiatan PSM yang masuk berita??? Pernahkah kita mengirim booklet kegiatan,kalender atau poster ke perusahaan?? Sudahkah kita mengirim surat perkenalan ke perusahaan bulan ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menawarkan bukan Memintakan&lt;br /&gt;Posisi PSM/PMKS dan kegiatan CSR/PSKS adalah mitra setara. Dalam konteks ini, seyogyanya PSM mampu memberikan ajuan kegiatan yang sesuai kebutuhan PMKS sekaligus memenuhi kepentingan CSR/PSKS. Keduanya seimbang tanpa harus ada yang merasa superior melebihi yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu PSM harus bisa menawarkan kegiatan yang bernilai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;empowering&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;developmentalist&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sustainability&lt;/span&gt; bagi komunitasnya. Tidak sekadar kegiatan karitas yang cenderung meminta iba semata. Sehingga nantinya PSM/PMKS bisa tegak dengan posisinya dan CSR/PSKS dapat berdiri sejajar dengan pelayanan sosialnya. Selama ini kita meminta atau menawarkan?? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-3479590792729036273?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/3479590792729036273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=3479590792729036273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3479590792729036273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/3479590792729036273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2008/04/peran-psm-dalam-menangkap-peluang-csr_14.html' title='Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 2)'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-8364485659765873038</id><published>2008-04-14T16:55:00.001+07:00</published><updated>2008-05-12T05:49:44.228+07:00</updated><title type='text'>Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 1)</title><content type='html'>Pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan atau lebih dikenal sebagai CSR (corporate social responsibility) telah diatur pemerintah a.l melalui Pasal 15 dan 34 UU No 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), UU Minerba, UU Lingkungan Hidup, Kepmen BUMN No. 236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CSR didasarkan pada tiga prinsip yakni profit, people, dan plannet atau dikenal dengan tripple bottom lines. Profit adalah keuntungan perusahaan, people adalah masyarakat, dan plannet adalah efek keberlangsungan hidup bumi/dampak lingkungan yang ditimbulkan perusahaan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan konsep CSR biasanya dilakukan melalui kegiatan yang bersifat filantropis seperti pembangunan infrastruktur, perbaikan gedung ibadah, penyediaan air bersih, sarana MCK, pemberian layanan kesehatan, Posyandu, beasiswa, penyuluhan Narkoba, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga perusahaan yang merefleksikan bahwa CSR adalah sebuah invest jangka panjang. Seperti Indocement yang kegiatan CSR-nya dilakukan lewat penanaman pohon jarak sebagai bahan bakar alternatif dan pengolahan sampah dengan melibatkan IPB dan warga masyarakat sekitar pabrik di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati fenomena ini, Herry Tjahjono dalam majalah Bisnis dan CSR Januari 2008 mengkritisi, idealnya konsep CSR dianggap sebagai “kebutuhan” perusahaan dan bukan sekadar “kewajiban” mematuhi regulasi pemerintah saja. Sehingga nantinya muncul hubungan mutualis berdasar tripple bottom lines yang saling mendukung dan menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu diantara beberapa tupoksi para PSM adalah menjembatani kebutuhan PMKS dan kepentingan PSKS. Masyarakat kurang berdaya adalah PMKS-nya sedangkan perusahaan adalah PSKS-nya. Pada titik singgung inilah, PSM dituntut mampu menerjemahkan konsep CSR sebuah perusahaan ke dalam aktifitas sosial yang cantik, sustainable dan kompromis win win solution agar dapat mengangkat harkat para PMKS di lingkungan sekitar perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-8364485659765873038?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/8364485659765873038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=8364485659765873038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8364485659765873038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/8364485659765873038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2008/04/peran-psm-dalam-menangkap-peluang-csr.html' title='Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 1)'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-7195882407080368936</id><published>2008-04-14T16:25:00.000+07:00</published><updated>2008-04-14T17:07:05.403+07:00</updated><title type='text'>Elegi Buat Abi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MqfvcrWH3Ns/SAMjYrQzqLI/AAAAAAAAAC8/At067WSidQg/s1600-h/My+Beloved+Prophet+Abi+Muchtar.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_MqfvcrWH3Ns/SAMjYrQzqLI/AAAAAAAAAC8/At067WSidQg/s320/My+Beloved+Prophet+Abi+Muchtar.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189030102497994930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;He's my Father. My Teacher. Bapa Guru.&lt;br /&gt;God sent him to restore what have prophets done. He keep me believe in faith&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kasih Bapa Guru telah kureguk selama 27 tahun ini. Aku merasa aman dalam urapan doa-doanya. Air kehidupan sudah manjing semayam dalam kalbuku. Bala Keselamatan telah meraih tanganku ke tempat teduh di kerajaan sorgaNYA. Aku telah baiat belapati sebagai hawariyun penolong agama ALLAH. Inilah kerajaan mu'min tempat pelarian manusia dari kerajaan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergabunglah bersama kami di bawah gembala kasih Bapak Guru MA. Muchtar, mewarisi tugas kudus Yesus, membawa mandat dan syariat Rasulullah Muhammad. Mari sebarkan kabar gembira 3 Proyek Besar Umat Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar&lt;br /&gt;2. Melatih Diri Mengetahui Musuh Ghaib Syetan&lt;br /&gt;3. Menanam Keyakinan Dunia Akhirat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-7195882407080368936?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/7195882407080368936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=7195882407080368936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7195882407080368936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/7195882407080368936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2008/04/hes-my-father.html' title='Elegi Buat Abi'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MqfvcrWH3Ns/SAMjYrQzqLI/AAAAAAAAAC8/At067WSidQg/s72-c/My+Beloved+Prophet+Abi+Muchtar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-114369542495014902</id><published>2006-03-30T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-05-12T05:41:02.097+07:00</updated><title type='text'>O, BLANG RAYA</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/GAM.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/GAM.jpg" style="'width:146.25pt;" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\server\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/320/GAM.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/GAM.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;aku mematung di tepian air yang membelai jari kaki. Di Ujong Pie. &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/GAM.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/server/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="320" width="195" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Pedalaman Pidie lewat pertigaan Laweung Simpang Beutong. menyusur terik kawasan Blang Raya. Mendaki bukit gersang di Muara Tiga. Melewati lapak-lapak yang kosong. Memandang posko-posko loreng yang berseliweran. Menangisi rambut sang hutan yang terkikis habis. Mempuisikan betapa indahnya potensi alam ini jika diurus secara benar dan adil. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nafasku mendesah berat. memandang biru laut yang luas, menikmati kicau merdu anak-anak telanjang yang sedang berenang. lalu menoleh ke belakang. di beranda kedai-kedai yang mulai lapuk, beberapa orang dengan kerut wajah yang bergurat dalam, memicingkan mata memandangku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derita.. ya.. gurat pesan yang terpancar dari raut itu adalah nada "SOS" untuk ku. sebuah pesan derita yang seolah ingin kuteruskan ke menara suar agar memanggil siapa saja yang peduli nasib mereka. meski kecurigaanku tetap menguasai nalar. bahwa mata-mata yang redup itu pasti bertanya2 : SIAPA AKU? GAM, TNI, atau....?? kok necis, bawa backpack, digital pocket kamera di tangan, flasdisk bergantung di dada, tapi wajah kok ada mirip ACEH nya??tapi kok tidak kenal? tidak seperti profil nelayan yang ramai di tepi pantai itu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi sebagai pekerja kemanusiaan, aku segera menepis semua itu. Aku lebih berminat menyelami perasaan dan harapan yang terkandung dalam wajah-wajah mereka... yang lelah dilamun konflik dan bencana. Adakah mereka ini memiliki hak lagi? setelah fisik dan psikis mereka dibanting, diinjak, diperkosa oleh sebuah sistem yang salah urus (politik)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memikirkan betapa riangnya tepi pantai ini di malam hari. di saat purnama menyapa. Aku akan suarakan kidung "Lir Ilir" dan "Tombo Ati" sembari berputar di tengah lingkaran anak-anak kecil..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/DSCF0067.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/DSCF0067.jpg" style="'width:180pt;" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\server\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/320/DSCF0067.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/server/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="320" width="240" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/DSCF0067.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;mengajak anak-anak untuk mengenal ALLAH, mencintai alam dan sekaligus pencipta-NYA. agar generasi ini tidak mewarisi pendahulunya: yang akrab dengan ketamakan, kekerasan, dan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan belajar bersama mereka, anak-anak ini, untuk lebih waspada terhadap &lt;a href="http://www.spmaa.net/"&gt;MUSUH SYAITHAN &lt;/a&gt;di hati. di dada setiap manusia. yang mengajak marah, dendam, sombong, iri hati, prasangka buruk, tamak terhadap dunia, lupa akhirat, melanggar aturan ALLAH, dan perbuatan rusak lainnya. Aku akan menyemai bibit ta'awun dan tawashou dalam pribadi-pribadi kecil nan suci ini. agar mereka paham bahwa &lt;a href="http://www.spmaa.net/"&gt;SEMUA MANUSIA&lt;/a&gt; adalah saudara yang saling kasih-menyayangi. tidak ada permusuhan dan pertikaian. agar nanti tak ada jerit menyayat si yatim dan air mata ibu-ibu janda karena kebengisan makhluk yang bernama SENGKETA.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-114369542495014902?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/114369542495014902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=114369542495014902' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/114369542495014902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/114369542495014902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2006/03/o-blang-raya.html' title='O, BLANG RAYA'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-113868578041150229</id><published>2006-01-31T10:49:00.001+07:00</published><updated>2008-05-12T05:43:58.972+07:00</updated><title type='text'>BELAJAR DARI SI KECIL</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/Nenek%20Balita.jpg"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/Nenek%20Balita.jpg" style="'width:164.25pt;height:240pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\server\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/320/Nenek%20Balita.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/server/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="320" width="219" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/Nenek%20Balita.jpg"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Semut adalah ikon ‘kecil’, representasi dari kelemahan, komunitas marginal dan ketidakberdayaan. Ia juga mewakili hal-hal yang berbau kekorsaan, egalitarian, dan keuletan. Diceritakan dalam hikayat-hikayat terkenal bahwa semut adalah mahkluk teladan yang patut ditiru, terutama mengenai kegigihan mereka dalam upaya struggle for life. Atau dalam versi cerita yang berbeda, semut juga dapat diteladani dari rasa persatuan dan kesatuan mereka mencapai sebuah tujuan/memegangi idealisme. Bagaimana mereka bersatu daya mengalahkan sang gajah yang jauh lebih besar ukuran fisiknya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi Mushhaf Al Qur’an sampai perlu ‘meminjam’ nama semut sebagai tanda kenal untuk salah satu suratnya sebagai bayyinah buat kita. An Naml demikian Al Qur’an menulis. Bagi saudara-saudara kita yang Muslim, tentu mengetahui dari kisah Al Qur’an, betapa arif dan bijak sikap semut saat menghadapi Raja Sulaiman dan tentara multimakhluk-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan semut lalu membandingkannya dengan alur kehidupan manusia, baik dalam lingkup luas maupun kecil, sungguh menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan pengelolaan sebuah organisasi/kelompok. Walau secara anatomis-biologis semut dan manusia berbeda, ada beberapa hal unsur yang dapat menyamakan kedudukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status sebagai makhluk Tuhan, selalu berupaya survival, adalah sedikit kemiripan yang membuat keduanya bisa disejajarkan. Yang pasti, semut dan manusia sama-sama memiliki kecenderungan: hidup berkelompok. Dari sini kemudian, lahirlah apa yang dinamakan organisasi yang secara gramatikal dapat diartikan “mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama dengan mencari, mengkombinasikan, dan menggerakkan seluruh potensi/talenta setiap individu2 dari kelompok itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bagaimana kinerja semut dalam aktifitas sehari-harinya. Mereka larut dalam ritme kerja yang dinamis, disiplin, teratur dan akur. Setiap bagian berfungsi normal. Ada semut Raja, pekerja, penjaga, kurir, dan pencari informasi. Tak ada egoisme, overlapping, saling sikut, ‘rebutan makanan’ atau sikap-sikap individualis, dll. Setiap menemukan rezeki selalu digotong-royong ke sarang, disimpan lalu dibagi-bagi. Begitu terus setiap hari. Organisasi semutpun melaju stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci kesuksesan semut dalam melestarikan organisasi/kelompoknya, setidaknya, terletak pada 2 hal: pertama, tanggung jawab mengemban amanah begitu meresap dalam setiap anggota yang terlibat dalam organisasi. Begitu meresap, sehingga mereka melakoni setiap peran, menempati pos kerjanya dengan enjoy dan tanpa ada tekanan. Menyelesaikan tanggung jawabnya baru melihat-menilai kerjaan anggota lain. Sehingga iklim kerja bisa padu selaras dalam rangkaian yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rasa empati (sense of belonging) yang tinggi. Kelompoknya adalah satu koloni mungil yang menggantungkan kekuatan hanya pada persatuan dan kesepahaman gerakan. Satu visi misi yang diimani bersama. Para kawanan semut sadar, jika satu saja fungsi kerja dilalaikan, maka kelangsungan hidup akan terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat mengerti makna memiliki. Bahwa koloni semut itu adalah inventaris yang wajib dijaga bersama-sama. Tidak ada private property. Dengan cara apapun, kepemilikan itu haruslah dipertahankan. Bila perlu adu fisik dengan lawan yang hendak mengganggu. Rasa memiliki yang tinggi inilah yang memungkinkan semut bisa akur sesama pegiat komunitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat dengan telanjang, setiap mereka selalu berpapasan tak pernah lupa untuk sakadar berhenti dan ‘say hello’. Meski terlihat sepele, pengaruhnya luar biasa. Antar semut tertanam empati yang pada gilirannya menumbuhkan simpati. Efek positifnya, jiwa kekorsaan betul2 terinternalisasi. Setiap semut satu sakit, semuanya akan merasakan sakit. Satu semut dizalimi, maka seluruh semut akan membela mati2an. Satu untuk semua, semua untuk satu, demikian Jenderal (purn) Wiranto berfilosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebuah organisasi hal ini penting sekali, terutama dalam upaya konsolidasi dan/ atau penguatan kelembagaan. Jika ada anggota yang melakukan kesalahan, tidak serta merta dicacimaki, tapi bangunkan dengan peringatan. Berikan kritik konstruktif yang semata bertujuan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya organisasi jadi kuat, bermutu, dan memiliki bargaining position yang tinggi, meskipun lemah dalam hal jumlah. Ingat, bagaimana gabungan kekuatan semut yang kecil mampu menghentikan perlawanan Gajah yang over estimated dengan kebesarannya lalu mencoba menganggu ketentraman desa semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita tak mencontoh semut, mengadopsi sistem manajemen mereka dalam mengatur jalannya organisasi. Dalam kelompoknya, semut pun memiliki hierarki pimpinan-bawahan. Namun itu tak terlalu berpengaruh karena pada prinsipnya pimpinan-bawahan tidak harus terpasung pada dikotomi yang menjurus polarisasi sempit dan membatasi. Inilah yang harus dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua kunci kesuksesan semut di atas, tak perlu malu mengaku, masih jarang diantara kita yang memilikinya. Kadang, hanya karena kepentingan kita tak terakomodir; tak terpilih dalam perebutan kursi ketua; tak mendapat jatah jabatan; usulan tidak direspon, dll. lantas dengan mudahnya memutuskan keluar dari kelompok dan memilih jadi oposan. Maka kitapun sering dengar istilah2 yg mencerminkan rivalitas tak sehat: pkb kuningan-pkb ciganjur; ppp hamzah-ppp reformasi; hmi dipo-hmi mpo; dsb.Naifnya lagi, kita sering melakukan itu dengan alih-alih sebagai penyeimbang, sebagai watch dog­, atau menjalankan fungsi kontrol, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang sudah bulat berniat menjadi anggota sebuah kelompok/organisasi/masyarakat, maka sudah sepantasnya dengan rela menerima peran yang diberikan. Atau kalau memang jadi oposan, jangan kemudian apriori –apalagi prejudice — terhadap semua langkah yg diambil ‘lawan’ kita. Jangan malu untuk ikut mendukung apabila memang langkah tsb bermanfaat utk umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirulah semut yang nrimo ing pandum dan mensyukuri ‘kekecilannya’. Untuk menguati organisasinya, ia membuang sifat egois dan lebih suka memilih altruis. Mereka rela diposisikan dimana saja, walau sebagai pekerja yang notabene berstrata rendah. Jika kita sudah memiliki tanggung jawab dan empati seperti sifat semut di atas, maka yang ada hanyalah kebaikan: saling memberikan dukungan, mengingatkan dengan santun tanpa amarah, keterbukaan seluas2nya, konflik diminimalisir (tdk harus dimatikan), menepikan interest pribadi dalam mengusulkan ide2 bernas, mendahulukan keutuhan organisasi, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah mewujudkannya, tapi juga tidak mustahil apabila sekali2 dicoba. Sebagai a&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/1600/alam%20ilahi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/334/2202/320/alam%20ilahi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;walan, mungkin ini bisa diterapkan pada kelompok dengan lingkup kecil, UKM misalnya. Pada lingkup yg lebih luas, syukur2 bila para bapak-bapak di masyarakat kita mau mendengar jeritan ‘semut’ ini. Dimulai dari insan pers, gak papalah media menjadi bagian dari industri, tapi jangan kemudian menggadaikan kejujuran, memodifikasi fakta dengan imbalan nilai materi tertentu. Birokrat2 yg duduk di kursi pemerintahan, seyogyanya meneladani yang baik. Slogan berantas KKN hendaknya diamalkan. Para pengelola pendidikan pelajar/mahasiswa-dosen/guru memfungsikan tugasnya secara proporsional tanpa mengabaikan fungsi yg lain. Pengamat memberikan ulasannya secara jujur dan berdasar kenyataan. Sehingga situasi tak semakin runyam. Alat penegak hukum berusaha sekuatnya utk adil dalam memutuskan perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semut itu kecil tapi mampu memberdayakan potensinya: kecil k-lo satu/ banyak jadinya heeebooohh. Cocok dg kondisi aws/himmarfi yg carut marut karena gegeran antar warganya sendiri, sudah kecil keropos lagi. Atau indonesia saat ini wis susah, miskin, ijik direbeti tukar padu antar pengamat, cakar2an politisi, diedel2 gerakan separatis, dsb Tirulah semut. Kecil tapi jadi satu. rukun agawe santosa akur agawe makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerukunan semut itu berporos pada 2 prinsip: empati dan tanggungjawab kolektif. Memahami peran, fungsi dan tugas dalam kelompoknya sehingga tercipta suasana kerja yg harmonis tertata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanyaan retoriknya: mengapa kita tak mencoba meniru semut? Kerja diam-diam tanpa banyak bicara mubazir. Tak usah menebar banyak cemoohan. Saling mengingatkan bila melihat kawan yang keliru berprilaku/menyimpang dari visi-misi organisasi. Pada akhirnya lembaga kuat, baik ke dalam maupun ke luar. Karena semua anggota guyub melu handarbeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya diarahkan demi pencapaian organisasi yang maju dan kuat luar dalam. Tinggal bagaimana niat kita mewujudkannya. Tentu saja harus dimulai dari sekarang, dari hal-hal kecil. Sekecil fisik semut yang mungil. BERANI MENCOBA?? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-113868578041150229?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/113868578041150229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=113868578041150229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/113868578041150229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/113868578041150229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2006/01/belajar-dari-si-kecil.html' title='BELAJAR DARI SI KECIL'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21736926.post-113868017706049183</id><published>2006-01-31T10:49:00.000+07:00</published><updated>2008-05-12T05:46:35.794+07:00</updated><title type='text'>RENUNG SAHAJA</title><content type='html'>Konflik dan kekerasan yang menjadi menu harian berita-berita dunia dewasa ini, menyisakan banyak pertanyaan menyeruak di benak. Pertanyaan itu antara lain: mengapa orang senang menodai damai dengan fitnah, su’udzon dan saling bunuh?; mengapa sekelompok orang lebih memilih kekerasan dalam menyelesaikan persoalan?; mengapa sulit menemukan orang yang jujur dan amanah saat ini?; mengapa orang gemar menanam benih benci dan dendam kepada sesamanya?; Mengapa manusia tak puas-puas mengekploitir alam dengan rakus tanpa kenal batas?; Mengapa seseorang nekad dengan sengaja --bahkan kadang membawa rasa bangga-- melanggar fatwa-fatwa suci dari agama yang dipercaya kebenarannya? &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari pertanyaan di atas bisa beragam, tergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang memandangnya. Menyarikan beberapa pendapat dan sumber-sumber informasi lain, uraian singkat ini mencoba mencari tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal kejadiannya, menurut kitab suci Al Quran (At Tin:4), manusia adalah mahakarya yang sempurna. Bisa dibilang, ia merupakan masterpiece Tuhan dalam sejarah penciptaan para penghuni bumi. Dalam diri manusia ditanamkan beberapa intuisi yang mewakili unsur Kasih Tuhan, Kepatuhan Malaikat, Kejahatan Jin/Syetan, sifat manusia itu sendiri, serta naluri hewan. Yang terakhir ini terekam dalam kerakusan dan egoisme manusia. Walau demikian ia tetap bermanfaat, yakni berguna untuk survival dan berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya terlihat sempurna, Tuhan memberikan akal untuk berfikir, budi untuk menilai, serta agama (opsional) yang berguna sebagai ‘kompas’ hidupnya. Itulah yang membuat derajat manusia lebih terhormat dibandingkan makhluk lain. Namun bila tak bisa menjaga kelebihan itu dengan hati-hati, kenaifan yang kerap dilakukan manusia akan membuatnya nyungsep ke limbah dosa sehingga derajatnyapun harus turun menjadi tak lebih mulya dari seekor binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Al Qur’an menguraikan demikian, maka disiplin antropologi menjelaskan dengan pemaparan sedikit berbeda meski kesimpulan akhirnya bisa dikatakan tak jauh terpaut. Menurut antropologi, proses untuk bisa menjadi manusia seperti saat ini &lt;em&gt;(neolithic)&lt;/em&gt; tercipta melalui perubahan bertahap mencakup fisik dan budayanya. Semua itu bisa terpenuhi dengan cara akulturasi, asimilasi, kemauan berinovasi, serta pengaruh lingkungan/alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kajian antropologi ragawi secara khusus menempatkan manusia dalam kelas mammalia (hewan), itu bisa jadi benar. Sebab kenyataannya manusia memang dibekali animal insticnt sebagai alat untuk bertahan hidup: berburu, beranak dan menyusui, hidup berkelompok, dst. Sepintas memang mirip. Tapi bila dicermati mendalam, ada beberapa kelebihan tertentu yang tidak dimiliki makhluk lain, sehingga manusia terlihat setingkat lebih unggul. Tentang kebudayaan misalnya. Manusia mengenal dan memiliki pengetahuan, nilai-etos, serta pandangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan itu masih ditambah lagi dengan unsur religi, sistem kekerabatan sosial, teknologi, bahasa, dan kesenian. Bandingkan dengan hewan yang hanya dominan naluri kebinatangannya. Berangkat dari konsep inilah manusia sering disebut sebagai hewan yang berakal &lt;em&gt;(homo sapiens)&lt;/em&gt; atau dalam bahasa &lt;em&gt;mufassirin&lt;/em&gt; dinamakan &lt;em&gt;al hayaawanu natiq&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, dengan kelebihan-kelebihan yang dipunyainya, para manusia tentu akan mempertimbangkan dengan arif-bijak segala sesuatu sebelum dilakukan. Menyesuaikan dengan derajat mulya yang disandangnya. Sangat tidak layak apabila ditemukan pola hidup yang mirip dengan kebiasaan hewan. Lantas bagaimana bila sekarang muncul gelagat dari perilaku masyarakat yang mencerminkan perbuatan hewan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya adalah dehumanisasi. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Mungkin karena unsur animal instinct lebih kuat menelikung mengalahkan human being. Sehingga visualisasi yang keluar adalah hewan berwujud manusia. Ambil contoh kasus-kasus kriminal yang kini ngetren dipublikasikan. Pembunuhan dengan cara mutilasi misalnya. Terlihat sekali betapa jati diri seorang manusia yang (sebenarnya) altruis-filantropis berangsur-angsur sirna --jika tak bisa disebut habis. Bagaimana mungkin korban yang sudah layu mayat masih sempat dipotong-potong sebelum dikuliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan manusia yang menyerupai binatang dapat ditemukan pada kasus-kasus incest --dengan atau tanpa kekerasan-- yang juga lagi marak saat ini. Contoh lain: maling/jambret yang dibakar hidup-hidup; aparat menzalimi masyarakat seperti tentara melakukan senam saja; sekelompok masyarakat mengarak kepala manusia sambil cengengesan, berteriak berjingkrak;&lt;em&gt; free sex&lt;/em&gt; yang mulai digemari; fenomena selingkuh suami/istri, dst. Masihkah sang pelaku layak menyandang sebutan manusia?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan amoral yang sulit disentuh hukum: para politisi yang seakan tak kenal bosan saling menuding; sekelompok orang membikin kekacauan karena tak bisa menerima wilayah kekuasaanya dijamah; koruptor yang bertambah banyak; dll. Apalagi bila menengok kasus kriminal semacam traficking. Kaum nudis yang konon sampai sekarang masih lestari. Sebuah majalah mingguan baru-baru ini menurunkan laporan tentang adanya restoran di Cina yang menyediakan sup bayi sebagai menu istimewanya. Na’udzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Membandingkan&lt;/span&gt; kondisi ideal manusia dengan kenyataan yang ada sekarang, mengingatkan kita akan nasib Persebaya tim sepakbola kebanggaan warga Surabaya. Terdapat kemiripan alur cerita walau keduanya memiliki perbedaan mendasar. Seperti diketahui, Persebaya terkenal sebagai satu dari sekian kesebelasan elit Divisi Utama yang selalu diunggulkan dalam bursa calon juara. Namun karena salah urus prestasinya pun jeblok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian hasil buruk membuat Persebaya terpaksa ‘turun kelas’ diringi isak tangis pendukung fanatiknya. Memang sungguh sayang. Tidak pantas rasanya bila tim semegah Persebaya harus melakoni cerita pahitnya di Divisi I untuk kompetisi tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senasib dengan Persebaya yang terkena degradasi, kini manusia juga mengalami hal serupa. Meminjam bahasa bola, akal dan nuraninya mengalami degradasi. Peradaban teknologi melaju pesat, namun perikemanusiaannya cuma tersisa sedikit di ujung bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran bila menyimak pendapat Komaruddin Hidayat, pemerhati tasawuf sekaligus Ketua Yayasan Paramadina. Beliau menyatakan bahwa jika dicermati dari psikologi tasawuf, saat ini manusia sedang berada pada level hewani, bukan level insani lagi. Kelakuannya mirip binatang. Meski fisik masih asli manusia, tapi nilainya sederajat dengan hewan yang notabene lebih hina dan tidak mulya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vonis al Qur’an lebih mengkhawatirkan. Dalam sebuah ayatnya mengatakan, manusia suatu saat bisa lebih nista dari binatang. Sebab manusia dibekali akal budi sementara binatang cuma diberi naluri. Kadang akal budi sudah memberitahu bahwa perbuatan tertentu itu salah, tapi manusia enggan menghindar malah dengan sadar melakukannya. Sangat tidak sepadan dengan nilai sempurna yang disandang. Bagaimana mungkin manusia, makhluk dengan status terbaik berlaku seperti hewan yang termasuk ‘makhluk kelas dua’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Persebaya optimis mampu mengembalikan pamornya dengan berlaga di Divisi Utama, tentu harapan yang sama bisa digelar manusia. Artinya untuk dapat kembali normal secara moral, manusia memiliki potensi berlimpah. Selain karena berpredikat makhluk yang berakal-budi, bukankah Tuhan menjanjikan bala bantuan (salvation) bila ada manusia yang meminta doa dengan niat dan kesungguhan?. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21736926-113868017706049183?l=adhimedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adhimedia.blogspot.com/feeds/113868017706049183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21736926&amp;postID=113868017706049183' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/113868017706049183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21736926/posts/default/113868017706049183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adhimedia.blogspot.com/2006/01/renung-sahaja.html' title='RENUNG SAHAJA'/><author><name>gus adhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08558236165016350772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hXbSb8UWko4/Ta3J693h5KI/AAAAAAAAAPQ/YYTlRAeAuMs/s220/fotoku.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
