Wednesday, April 23, 2008

UAN hari ini dimulai. Semua siswa menegang. Adrenalin dipacu hingga titik didih. Satu target dikeroyok rame-rame oleh siswa dan orang tua: KELULUSAN.


Sayangnya upaya ini dibebani target yang luar bisa sulit dirasakan para siswa. Berbagai upaya sudah ditempuh. Ikut bimbingan belajar, les tambahan, tirakat, istighosyah, gelar doa bersama, hingga yang paling konyol: CONTEKAN.

Tulisan selengkapnya......

Monday, April 14, 2008

Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 2)

Untuk itu peran PSM cukup vital dalam hal ini. Keberadaan PSM yang legal formal diakui pemerintah, bersentuhan langsung dengan beneficiaries, independensi gerakan, kerelawanan, serta dukungan jaringan yang luas, bisa menjadi faktor penentu.



Berikut beberapa saran yang bisa dicoba PSM baik secara pribadi maupun kelembagaan dalam menangkap peluang kegian CSR sebuah perusahaan:

1. Penguatan Database PMKS dan Kegiatan PSM
Database PMKS dan kegiatan PSM sering masih acak dan lemah validasinya. Padahal database ini menjadi rujukan penting bagi para pengelola kegiatan CSR di sebuah perusahaan. PSM yang bersentuhan langsung dengan PMKS dampingan, tentu memiliki akses pendataan yang relatif cepat dan akurat. Sehingga database yang milik PSM lebih dipercaya sebagai penentuan kegiatan CSR sebuah perusahaan. Apakah data kita mudah diakses & akurat??

2. Perkenalkan: “INILAH KAMI PSM”
Pemberitaan aktifitas PSM sungguh perlu dilakukan. Karena dengan ini, PSM mudah dikenali masyarakat terutama kalangan perusahaan yang memerlukan mitra dalam kegiatan CSR-nya. Peran PSM dalam merangkul media jelas dibutuhkan. Melalui siaran pers, talkshow radio, kunjungan redaksi, menulis Blog (web gratisan), membuat poster/brosur/kalender/booklet, atau selebaran di jalan, akan berdampak efektif bagi PSM dalam menangkap peluang CSR. Berapa kegiatan PSM yang masuk berita??? Pernahkah kita mengirim booklet kegiatan,kalender atau poster ke perusahaan?? Sudahkah kita mengirim surat perkenalan ke perusahaan bulan ini??

3. Menawarkan bukan Memintakan
Posisi PSM/PMKS dan kegiatan CSR/PSKS adalah mitra setara. Dalam konteks ini, seyogyanya PSM mampu memberikan ajuan kegiatan yang sesuai kebutuhan PMKS sekaligus memenuhi kepentingan CSR/PSKS. Keduanya seimbang tanpa harus ada yang merasa superior melebihi yang lain.

Untuk itu PSM harus bisa menawarkan kegiatan yang bernilai empowering, developmentalist, dan sustainability bagi komunitasnya. Tidak sekadar kegiatan karitas yang cenderung meminta iba semata. Sehingga nantinya PSM/PMKS bisa tegak dengan posisinya dan CSR/PSKS dapat berdiri sejajar dengan pelayanan sosialnya. Selama ini kita meminta atau menawarkan??

Tulisan selengkapnya......

Peran PSM dalam Menangkap Peluang CSR (Bag. 1)

Pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan atau lebih dikenal sebagai CSR (corporate social responsibility) telah diatur pemerintah a.l melalui Pasal 15 dan 34 UU No 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), UU Minerba, UU Lingkungan Hidup, Kepmen BUMN No. 236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).

CSR didasarkan pada tiga prinsip yakni profit, people, dan plannet atau dikenal dengan tripple bottom lines. Profit adalah keuntungan perusahaan, people adalah masyarakat, dan plannet adalah efek keberlangsungan hidup bumi/dampak lingkungan yang ditimbulkan perusahaan.



Penerapan konsep CSR biasanya dilakukan melalui kegiatan yang bersifat filantropis seperti pembangunan infrastruktur, perbaikan gedung ibadah, penyediaan air bersih, sarana MCK, pemberian layanan kesehatan, Posyandu, beasiswa, penyuluhan Narkoba, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Ada juga perusahaan yang merefleksikan bahwa CSR adalah sebuah invest jangka panjang. Seperti Indocement yang kegiatan CSR-nya dilakukan lewat penanaman pohon jarak sebagai bahan bakar alternatif dan pengolahan sampah dengan melibatkan IPB dan warga masyarakat sekitar pabrik di Bogor.

Mengamati fenomena ini, Herry Tjahjono dalam majalah Bisnis dan CSR Januari 2008 mengkritisi, idealnya konsep CSR dianggap sebagai “kebutuhan” perusahaan dan bukan sekadar “kewajiban” mematuhi regulasi pemerintah saja. Sehingga nantinya muncul hubungan mutualis berdasar tripple bottom lines yang saling mendukung dan menguatkan.

Satu diantara beberapa tupoksi para PSM adalah menjembatani kebutuhan PMKS dan kepentingan PSKS. Masyarakat kurang berdaya adalah PMKS-nya sedangkan perusahaan adalah PSKS-nya. Pada titik singgung inilah, PSM dituntut mampu menerjemahkan konsep CSR sebuah perusahaan ke dalam aktifitas sosial yang cantik, sustainable dan kompromis win win solution agar dapat mengangkat harkat para PMKS di lingkungan sekitar perusahaan.

Tulisan selengkapnya......

Elegi Buat Abi


He's my Father. My Teacher. Bapa Guru.
God sent him to restore what have prophets done. He keep me believe in faith
.

Sungguh, kasih Bapa Guru telah kureguk selama 27 tahun ini. Aku merasa aman dalam urapan doa-doanya. Air kehidupan sudah manjing semayam dalam kalbuku. Bala Keselamatan telah meraih tanganku ke tempat teduh di kerajaan sorgaNYA. Aku telah baiat belapati sebagai hawariyun penolong agama ALLAH. Inilah kerajaan mu'min tempat pelarian manusia dari kerajaan syetan.

Bergabunglah bersama kami di bawah gembala kasih Bapak Guru MA. Muchtar, mewarisi tugas kudus Yesus, membawa mandat dan syariat Rasulullah Muhammad. Mari sebarkan kabar gembira 3 Proyek Besar Umat Manusia.

1. Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar
2. Melatih Diri Mengetahui Musuh Ghaib Syetan
3. Menanam Keyakinan Dunia Akhirat

Tulisan selengkapnya......

Wednesday, March 29, 2006

O, BLANG RAYA

aku mematung di tepian air yang membelai jari kaki. Di Ujong Pie. Pedalaman Pidie lewat pertigaan Laweung Simpang Beutong. menyusur terik kawasan Blang Raya. Mendaki bukit gersang di Muara Tiga. Melewati lapak-lapak yang kosong. Memandang posko-posko loreng yang berseliweran. Menangisi rambut sang hutan yang terkikis habis. Mempuisikan betapa indahnya potensi alam ini jika diurus secara benar dan adil.



nafasku mendesah berat. memandang biru laut yang luas, menikmati kicau merdu anak-anak telanjang yang sedang berenang. lalu menoleh ke belakang. di beranda kedai-kedai yang mulai lapuk, beberapa orang dengan kerut wajah yang bergurat dalam, memicingkan mata memandangku..

Derita.. ya.. gurat pesan yang terpancar dari raut itu adalah nada "SOS" untuk ku. sebuah pesan derita yang seolah ingin kuteruskan ke menara suar agar memanggil siapa saja yang peduli nasib mereka. meski kecurigaanku tetap menguasai nalar. bahwa mata-mata yang redup itu pasti bertanya2 : SIAPA AKU? GAM, TNI, atau....?? kok necis, bawa backpack, digital pocket kamera di tangan, flasdisk bergantung di dada, tapi wajah kok ada mirip ACEH nya??tapi kok tidak kenal? tidak seperti profil nelayan yang ramai di tepi pantai itu??

tetapi sebagai pekerja kemanusiaan, aku segera menepis semua itu. Aku lebih berminat menyelami perasaan dan harapan yang terkandung dalam wajah-wajah mereka... yang lelah dilamun konflik dan bencana. Adakah mereka ini memiliki hak lagi? setelah fisik dan psikis mereka dibanting, diinjak, diperkosa oleh sebuah sistem yang salah urus (politik)...

Aku memikirkan betapa riangnya tepi pantai ini di malam hari. di saat purnama menyapa. Aku akan suarakan kidung "Lir Ilir" dan "Tombo Ati" sembari berputar di tengah lingkaran anak-anak kecil..

mengajak anak-anak untuk mengenal ALLAH, mencintai alam dan sekaligus pencipta-NYA. agar generasi ini tidak mewarisi pendahulunya: yang akrab dengan ketamakan, kekerasan, dan bencana.

Aku akan belajar bersama mereka, anak-anak ini, untuk lebih waspada terhadap MUSUH SYAITHAN di hati. di dada setiap manusia. yang mengajak marah, dendam, sombong, iri hati, prasangka buruk, tamak terhadap dunia, lupa akhirat, melanggar aturan ALLAH, dan perbuatan rusak lainnya. Aku akan menyemai bibit ta'awun dan tawashou dalam pribadi-pribadi kecil nan suci ini. agar mereka paham bahwa SEMUA MANUSIA adalah saudara yang saling kasih-menyayangi. tidak ada permusuhan dan pertikaian. agar nanti tak ada jerit menyayat si yatim dan air mata ibu-ibu janda karena kebengisan makhluk yang bernama SENGKETA.

Tulisan selengkapnya......

Monday, January 30, 2006

BELAJAR DARI SI KECIL

Semut adalah ikon ‘kecil’, representasi dari kelemahan, komunitas marginal dan ketidakberdayaan. Ia juga mewakili hal-hal yang berbau kekorsaan, egalitarian, dan keuletan. Diceritakan dalam hikayat-hikayat terkenal bahwa semut adalah mahkluk teladan yang patut ditiru, terutama mengenai kegigihan mereka dalam upaya struggle for life. Atau dalam versi cerita yang berbeda, semut juga dapat diteladani dari rasa persatuan dan kesatuan mereka mencapai sebuah tujuan/memegangi idealisme. Bagaimana mereka bersatu daya mengalahkan sang gajah yang jauh lebih besar ukuran fisiknya.




Redaksi Mushhaf Al Qur’an sampai perlu ‘meminjam’ nama semut sebagai tanda kenal untuk salah satu suratnya sebagai bayyinah buat kita. An Naml demikian Al Qur’an menulis. Bagi saudara-saudara kita yang Muslim, tentu mengetahui dari kisah Al Qur’an, betapa arif dan bijak sikap semut saat menghadapi Raja Sulaiman dan tentara multimakhluk-nya.

Membicarakan semut lalu membandingkannya dengan alur kehidupan manusia, baik dalam lingkup luas maupun kecil, sungguh menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan pengelolaan sebuah organisasi/kelompok. Walau secara anatomis-biologis semut dan manusia berbeda, ada beberapa hal unsur yang dapat menyamakan kedudukan mereka.

Status sebagai makhluk Tuhan, selalu berupaya survival, adalah sedikit kemiripan yang membuat keduanya bisa disejajarkan. Yang pasti, semut dan manusia sama-sama memiliki kecenderungan: hidup berkelompok. Dari sini kemudian, lahirlah apa yang dinamakan organisasi yang secara gramatikal dapat diartikan “mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama dengan mencari, mengkombinasikan, dan menggerakkan seluruh potensi/talenta setiap individu2 dari kelompok itu”.

Lihat bagaimana kinerja semut dalam aktifitas sehari-harinya. Mereka larut dalam ritme kerja yang dinamis, disiplin, teratur dan akur. Setiap bagian berfungsi normal. Ada semut Raja, pekerja, penjaga, kurir, dan pencari informasi. Tak ada egoisme, overlapping, saling sikut, ‘rebutan makanan’ atau sikap-sikap individualis, dll. Setiap menemukan rezeki selalu digotong-royong ke sarang, disimpan lalu dibagi-bagi. Begitu terus setiap hari. Organisasi semutpun melaju stabil.

Kunci kesuksesan semut dalam melestarikan organisasi/kelompoknya, setidaknya, terletak pada 2 hal: pertama, tanggung jawab mengemban amanah begitu meresap dalam setiap anggota yang terlibat dalam organisasi. Begitu meresap, sehingga mereka melakoni setiap peran, menempati pos kerjanya dengan enjoy dan tanpa ada tekanan. Menyelesaikan tanggung jawabnya baru melihat-menilai kerjaan anggota lain. Sehingga iklim kerja bisa padu selaras dalam rangkaian yang indah.

Kedua, rasa empati (sense of belonging) yang tinggi. Kelompoknya adalah satu koloni mungil yang menggantungkan kekuatan hanya pada persatuan dan kesepahaman gerakan. Satu visi misi yang diimani bersama. Para kawanan semut sadar, jika satu saja fungsi kerja dilalaikan, maka kelangsungan hidup akan terancam.

Mereka sangat mengerti makna memiliki. Bahwa koloni semut itu adalah inventaris yang wajib dijaga bersama-sama. Tidak ada private property. Dengan cara apapun, kepemilikan itu haruslah dipertahankan. Bila perlu adu fisik dengan lawan yang hendak mengganggu. Rasa memiliki yang tinggi inilah yang memungkinkan semut bisa akur sesama pegiat komunitasnya.

Kita bisa melihat dengan telanjang, setiap mereka selalu berpapasan tak pernah lupa untuk sakadar berhenti dan ‘say hello’. Meski terlihat sepele, pengaruhnya luar biasa. Antar semut tertanam empati yang pada gilirannya menumbuhkan simpati. Efek positifnya, jiwa kekorsaan betul2 terinternalisasi. Setiap semut satu sakit, semuanya akan merasakan sakit. Satu semut dizalimi, maka seluruh semut akan membela mati2an. Satu untuk semua, semua untuk satu, demikian Jenderal (purn) Wiranto berfilosofi.

Bagi sebuah organisasi hal ini penting sekali, terutama dalam upaya konsolidasi dan/ atau penguatan kelembagaan. Jika ada anggota yang melakukan kesalahan, tidak serta merta dicacimaki, tapi bangunkan dengan peringatan. Berikan kritik konstruktif yang semata bertujuan baik.

Akhirnya organisasi jadi kuat, bermutu, dan memiliki bargaining position yang tinggi, meskipun lemah dalam hal jumlah. Ingat, bagaimana gabungan kekuatan semut yang kecil mampu menghentikan perlawanan Gajah yang over estimated dengan kebesarannya lalu mencoba menganggu ketentraman desa semut.

Mengapa kita tak mencontoh semut, mengadopsi sistem manajemen mereka dalam mengatur jalannya organisasi. Dalam kelompoknya, semut pun memiliki hierarki pimpinan-bawahan. Namun itu tak terlalu berpengaruh karena pada prinsipnya pimpinan-bawahan tidak harus terpasung pada dikotomi yang menjurus polarisasi sempit dan membatasi. Inilah yang harus dipahami.

Dari dua kunci kesuksesan semut di atas, tak perlu malu mengaku, masih jarang diantara kita yang memilikinya. Kadang, hanya karena kepentingan kita tak terakomodir; tak terpilih dalam perebutan kursi ketua; tak mendapat jatah jabatan; usulan tidak direspon, dll. lantas dengan mudahnya memutuskan keluar dari kelompok dan memilih jadi oposan. Maka kitapun sering dengar istilah2 yg mencerminkan rivalitas tak sehat: pkb kuningan-pkb ciganjur; ppp hamzah-ppp reformasi; hmi dipo-hmi mpo; dsb.Naifnya lagi, kita sering melakukan itu dengan alih-alih sebagai penyeimbang, sebagai watch dog­, atau menjalankan fungsi kontrol, dlsb.

Jika memang sudah bulat berniat menjadi anggota sebuah kelompok/organisasi/masyarakat, maka sudah sepantasnya dengan rela menerima peran yang diberikan. Atau kalau memang jadi oposan, jangan kemudian apriori –apalagi prejudice — terhadap semua langkah yg diambil ‘lawan’ kita. Jangan malu untuk ikut mendukung apabila memang langkah tsb bermanfaat utk umat.

Tirulah semut yang nrimo ing pandum dan mensyukuri ‘kekecilannya’. Untuk menguati organisasinya, ia membuang sifat egois dan lebih suka memilih altruis. Mereka rela diposisikan dimana saja, walau sebagai pekerja yang notabene berstrata rendah. Jika kita sudah memiliki tanggung jawab dan empati seperti sifat semut di atas, maka yang ada hanyalah kebaikan: saling memberikan dukungan, mengingatkan dengan santun tanpa amarah, keterbukaan seluas2nya, konflik diminimalisir (tdk harus dimatikan), menepikan interest pribadi dalam mengusulkan ide2 bernas, mendahulukan keutuhan organisasi, dan banyak lagi.

Memang tidak mudah mewujudkannya, tapi juga tidak mustahil apabila sekali2 dicoba. Sebagai awalan, mungkin ini bisa diterapkan pada kelompok dengan lingkup kecil, UKM misalnya. Pada lingkup yg lebih luas, syukur2 bila para bapak-bapak di masyarakat kita mau mendengar jeritan ‘semut’ ini. Dimulai dari insan pers, gak papalah media menjadi bagian dari industri, tapi jangan kemudian menggadaikan kejujuran, memodifikasi fakta dengan imbalan nilai materi tertentu. Birokrat2 yg duduk di kursi pemerintahan, seyogyanya meneladani yang baik. Slogan berantas KKN hendaknya diamalkan. Para pengelola pendidikan pelajar/mahasiswa-dosen/guru memfungsikan tugasnya secara proporsional tanpa mengabaikan fungsi yg lain. Pengamat memberikan ulasannya secara jujur dan berdasar kenyataan. Sehingga situasi tak semakin runyam. Alat penegak hukum berusaha sekuatnya utk adil dalam memutuskan perkara.


semut itu kecil tapi mampu memberdayakan potensinya: kecil k-lo satu/ banyak jadinya heeebooohh. Cocok dg kondisi aws/himmarfi yg carut marut karena gegeran antar warganya sendiri, sudah kecil keropos lagi. Atau indonesia saat ini wis susah, miskin, ijik direbeti tukar padu antar pengamat, cakar2an politisi, diedel2 gerakan separatis, dsb Tirulah semut. Kecil tapi jadi satu. rukun agawe santosa akur agawe makmur.

kerukunan semut itu berporos pada 2 prinsip: empati dan tanggungjawab kolektif. Memahami peran, fungsi dan tugas dalam kelompoknya sehingga tercipta suasana kerja yg harmonis tertata.

pertanyaan retoriknya: mengapa kita tak mencoba meniru semut? Kerja diam-diam tanpa banyak bicara mubazir. Tak usah menebar banyak cemoohan. Saling mengingatkan bila melihat kawan yang keliru berprilaku/menyimpang dari visi-misi organisasi. Pada akhirnya lembaga kuat, baik ke dalam maupun ke luar. Karena semua anggota guyub melu handarbeni.

Semuanya diarahkan demi pencapaian organisasi yang maju dan kuat luar dalam. Tinggal bagaimana niat kita mewujudkannya. Tentu saja harus dimulai dari sekarang, dari hal-hal kecil. Sekecil fisik semut yang mungil. BERANI MENCOBA??

Tulisan selengkapnya......

RENUNG SAHAJA

Konflik dan kekerasan yang menjadi menu harian berita-berita dunia dewasa ini, menyisakan banyak pertanyaan menyeruak di benak. Pertanyaan itu antara lain: mengapa orang senang menodai damai dengan fitnah, su’udzon dan saling bunuh?; mengapa sekelompok orang lebih memilih kekerasan dalam menyelesaikan persoalan?; mengapa sulit menemukan orang yang jujur dan amanah saat ini?; mengapa orang gemar menanam benih benci dan dendam kepada sesamanya?; Mengapa manusia tak puas-puas mengekploitir alam dengan rakus tanpa kenal batas?; Mengapa seseorang nekad dengan sengaja --bahkan kadang membawa rasa bangga-- melanggar fatwa-fatwa suci dari agama yang dipercaya kebenarannya?



Jawaban dari pertanyaan di atas bisa beragam, tergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang memandangnya. Menyarikan beberapa pendapat dan sumber-sumber informasi lain, uraian singkat ini mencoba mencari tahu jawabannya.

Pada awal kejadiannya, menurut kitab suci Al Quran (At Tin:4), manusia adalah mahakarya yang sempurna. Bisa dibilang, ia merupakan masterpiece Tuhan dalam sejarah penciptaan para penghuni bumi. Dalam diri manusia ditanamkan beberapa intuisi yang mewakili unsur Kasih Tuhan, Kepatuhan Malaikat, Kejahatan Jin/Syetan, sifat manusia itu sendiri, serta naluri hewan. Yang terakhir ini terekam dalam kerakusan dan egoisme manusia. Walau demikian ia tetap bermanfaat, yakni berguna untuk survival dan berkembang biak.

Supaya terlihat sempurna, Tuhan memberikan akal untuk berfikir, budi untuk menilai, serta agama (opsional) yang berguna sebagai ‘kompas’ hidupnya. Itulah yang membuat derajat manusia lebih terhormat dibandingkan makhluk lain. Namun bila tak bisa menjaga kelebihan itu dengan hati-hati, kenaifan yang kerap dilakukan manusia akan membuatnya nyungsep ke limbah dosa sehingga derajatnyapun harus turun menjadi tak lebih mulya dari seekor binatang.

Bila Al Qur’an menguraikan demikian, maka disiplin antropologi menjelaskan dengan pemaparan sedikit berbeda meski kesimpulan akhirnya bisa dikatakan tak jauh terpaut. Menurut antropologi, proses untuk bisa menjadi manusia seperti saat ini (neolithic) tercipta melalui perubahan bertahap mencakup fisik dan budayanya. Semua itu bisa terpenuhi dengan cara akulturasi, asimilasi, kemauan berinovasi, serta pengaruh lingkungan/alam.

Bahwa kajian antropologi ragawi secara khusus menempatkan manusia dalam kelas mammalia (hewan), itu bisa jadi benar. Sebab kenyataannya manusia memang dibekali animal insticnt sebagai alat untuk bertahan hidup: berburu, beranak dan menyusui, hidup berkelompok, dst. Sepintas memang mirip. Tapi bila dicermati mendalam, ada beberapa kelebihan tertentu yang tidak dimiliki makhluk lain, sehingga manusia terlihat setingkat lebih unggul. Tentang kebudayaan misalnya. Manusia mengenal dan memiliki pengetahuan, nilai-etos, serta pandangan hidup.

Kelebihan itu masih ditambah lagi dengan unsur religi, sistem kekerabatan sosial, teknologi, bahasa, dan kesenian. Bandingkan dengan hewan yang hanya dominan naluri kebinatangannya. Berangkat dari konsep inilah manusia sering disebut sebagai hewan yang berakal (homo sapiens) atau dalam bahasa mufassirin dinamakan al hayaawanu natiq.

Idealnya, dengan kelebihan-kelebihan yang dipunyainya, para manusia tentu akan mempertimbangkan dengan arif-bijak segala sesuatu sebelum dilakukan. Menyesuaikan dengan derajat mulya yang disandangnya. Sangat tidak layak apabila ditemukan pola hidup yang mirip dengan kebiasaan hewan. Lantas bagaimana bila sekarang muncul gelagat dari perilaku masyarakat yang mencerminkan perbuatan hewan?

Jawabnya adalah dehumanisasi. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Mungkin karena unsur animal instinct lebih kuat menelikung mengalahkan human being. Sehingga visualisasi yang keluar adalah hewan berwujud manusia. Ambil contoh kasus-kasus kriminal yang kini ngetren dipublikasikan. Pembunuhan dengan cara mutilasi misalnya. Terlihat sekali betapa jati diri seorang manusia yang (sebenarnya) altruis-filantropis berangsur-angsur sirna --jika tak bisa disebut habis. Bagaimana mungkin korban yang sudah layu mayat masih sempat dipotong-potong sebelum dikuliti.

Perbuatan manusia yang menyerupai binatang dapat ditemukan pada kasus-kasus incest --dengan atau tanpa kekerasan-- yang juga lagi marak saat ini. Contoh lain: maling/jambret yang dibakar hidup-hidup; aparat menzalimi masyarakat seperti tentara melakukan senam saja; sekelompok masyarakat mengarak kepala manusia sambil cengengesan, berteriak berjingkrak; free sex yang mulai digemari; fenomena selingkuh suami/istri, dst. Masihkah sang pelaku layak menyandang sebutan manusia?.

Perbuatan amoral yang sulit disentuh hukum: para politisi yang seakan tak kenal bosan saling menuding; sekelompok orang membikin kekacauan karena tak bisa menerima wilayah kekuasaanya dijamah; koruptor yang bertambah banyak; dll. Apalagi bila menengok kasus kriminal semacam traficking. Kaum nudis yang konon sampai sekarang masih lestari. Sebuah majalah mingguan baru-baru ini menurunkan laporan tentang adanya restoran di Cina yang menyediakan sup bayi sebagai menu istimewanya. Na’udzubillah.

Membandingkan kondisi ideal manusia dengan kenyataan yang ada sekarang, mengingatkan kita akan nasib Persebaya tim sepakbola kebanggaan warga Surabaya. Terdapat kemiripan alur cerita walau keduanya memiliki perbedaan mendasar. Seperti diketahui, Persebaya terkenal sebagai satu dari sekian kesebelasan elit Divisi Utama yang selalu diunggulkan dalam bursa calon juara. Namun karena salah urus prestasinya pun jeblok.

Pencapaian hasil buruk membuat Persebaya terpaksa ‘turun kelas’ diringi isak tangis pendukung fanatiknya. Memang sungguh sayang. Tidak pantas rasanya bila tim semegah Persebaya harus melakoni cerita pahitnya di Divisi I untuk kompetisi tahun ini.

Senasib dengan Persebaya yang terkena degradasi, kini manusia juga mengalami hal serupa. Meminjam bahasa bola, akal dan nuraninya mengalami degradasi. Peradaban teknologi melaju pesat, namun perikemanusiaannya cuma tersisa sedikit di ujung bibir.

Jangan heran bila menyimak pendapat Komaruddin Hidayat, pemerhati tasawuf sekaligus Ketua Yayasan Paramadina. Beliau menyatakan bahwa jika dicermati dari psikologi tasawuf, saat ini manusia sedang berada pada level hewani, bukan level insani lagi. Kelakuannya mirip binatang. Meski fisik masih asli manusia, tapi nilainya sederajat dengan hewan yang notabene lebih hina dan tidak mulya.

Vonis al Qur’an lebih mengkhawatirkan. Dalam sebuah ayatnya mengatakan, manusia suatu saat bisa lebih nista dari binatang. Sebab manusia dibekali akal budi sementara binatang cuma diberi naluri. Kadang akal budi sudah memberitahu bahwa perbuatan tertentu itu salah, tapi manusia enggan menghindar malah dengan sadar melakukannya. Sangat tidak sepadan dengan nilai sempurna yang disandang. Bagaimana mungkin manusia, makhluk dengan status terbaik berlaku seperti hewan yang termasuk ‘makhluk kelas dua’?

Bila Persebaya optimis mampu mengembalikan pamornya dengan berlaga di Divisi Utama, tentu harapan yang sama bisa digelar manusia. Artinya untuk dapat kembali normal secara moral, manusia memiliki potensi berlimpah. Selain karena berpredikat makhluk yang berakal-budi, bukankah Tuhan menjanjikan bala bantuan (salvation) bila ada manusia yang meminta doa dengan niat dan kesungguhan?.

Tulisan selengkapnya......